PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli mulai menunjukkan pergeseran mesin pertumbuhan bisnis di tengah ketatnya persaingan industri e-commerce. Jika sebelumnya bisnis marketplace atau ritel pihak ketiga (3P) menjadi kontributor utama, kini pertumbuhan justru ditopang oleh bisnis institusi (B2B), toko fisik, dan ritel pihak pertama (1P).
Berdasarkan laporan kinerja semester I 2026, total processing value (TPV) Blibli mencapai Rp 45,19 triliun atau tumbuh 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 40,24 triliun.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, TPV segmen ritel pihak ketiga (3P) turun 4% secara tahunan menjadi Rp 26,27 triliun dari Rp 27,30 triliun pada semester I 2025.
Sebaliknya, segmen institusi menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan TPV melonjak 62% menjadi Rp 9,70 triliun. Sementara itu, transaksi dari toko fisik naik 34% menjadi Rp 5,17 triliun dan ritel pihak pertama (1P) meningkat 31% menjadi Rp 4,05 triliun.
Selain perubahan komposisi transaksi, pola belanja konsumen juga mengalami pergeseran. Pertumbuhan transaksi lebih banyak berasal dari meningkatnya nilai belanja per pesanan dibandingkan bertambahnya jumlah pengguna.
Hal itu terlihat dari jumlah pengguna yang bertransaksi atau transacting users hanya meningkat 5% menjadi 3,5 juta pengguna. Namun, rata-rata nilai transaksi atau Average Order Value (AOV) melonjak 29% menjadi Rp 2,23 juta dari Rp 1,73 juta pada semester I tahun lalu.
CEO and Co-Founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan semester I pada tahun ini semakin menunjukkan ketangguhan ekosistem omnichannel terintegrasi kami. Selain itu juga konsistensi perusahaan dalam menjalankan strategi jangka panjang.
“Di tengah pola belanja konsumen yang semakin selektif dan persaingan pasar yang ketat, kami berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sehat sekaligus terus meningkatkan profitabilitas,” kata Kusumo dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Jumat (31/7).
Blibli membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp 14,83 triliun pada semester I 2026, naik 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9,60 triliun. Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh kenaikan kinerja di seluruh lini usaha, terutama segmen B2B dan toko fisik yang mencatatkan pertumbuhan dua digit.
“Kemajuan ini mencerminkan fokus kami pada pertumbuhan yang berkualitas, investasi yang disiplin dan keunggulan operasional, alih-alih mengejar pertumbuhan dengan segala cara,” ujarnya.
Di sisi profitabilitas, Blibli juga menunjukkan efisiensi operasional yang semakin baik. Perseroan berhasil menekan rasio beban operasional terhadap TPV dari 7,2% pada semester I 2025 menjadi 6,3% pada semester I 2026. Perbaikan struktur biaya tersebut turut mendorong peningkatan margin EBITDA terhadap TPV sebesar 170 basis poin (bps) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Smartphone Masih Merajai Transaksi Blibli
Blibli menyebut pertumbuhan bisnis pada semester I 2026 terutama didorong oleh kategori produk bernilai tinggi, khususnya smartphone, elektronik rumah tangga, produk olahraga, serta meningkatnya kontribusi dari bisnis online travel agent (OTA) dan segmen institusi.
Pada segmen ritel pihak pertama (1P), perusahaan mencatat pertumbuhan TPV sebesar 31% menjadi Rp 4,05 triliun. Kinerja tersebut didukung oleh penjualan produk dengan margin lebih tinggi di berbagai kategori, termasuk elektronik konsumen, elektronik rumah tangga, kebutuhan sehari-hari, serta produk olahraga dan gaya hidup.
Sementara itu, pada segmen toko fisik, peningkatan transaksi terutama berasal dari volume penjualan smartphone yang lebih tinggi, Ini didukung peluncuran produk baru serta ekspansi jaringan gerai elektronik konsumen.
Hingga akhir Juni 2026, Blibli mengoperasikan 326 toko elektronik konsumen, 14 toko elektronik rumah tangga, satu toko fesyen dan olahraga, serta 60 gerai supermarket premium Ranch Market.