Harga HP Makin Mahal, Ini 3 Hal yang Harus Dicek Konsumen Sebelum Beli

ANTARA FOTO/Naufal Khoirulloh/Adm/foc.
Pedagang merapihkan ponsel bekas yang dijual di ITC Roxy Mas, Jakarta, Minggu (5/10/2025).
Penulis: Desy Setyowati
6/9/2026, 10.25 WIB

Harga HP atau handphone diproyeksikan semakin mahal tahun ini akibat kenaikan harga cip memori global. Kondisi ini membuat konsumen disarankan mengubah cara memilih ponsel, dari sekadar mengejar kapasitas RAM dan spesifikasi terbaru menjadi mempertimbangkan daya tahan, konsistensi performa, dan umur pakai.

Harga jual rata-rata smartphone global diproyeksikan naik 27,6% tahun ini menjadi US$ 581 atau Rp 10,3 juta (kurs Rp 17.700 per US$), menurut data IDC. Proyeksi ini meningkat dari perkiraan awal US$ 523 pada Februari 2026.

Kenaikan harga HP terjadi di tengah kelangkaan cip memori global. Produsen memori mengalihkan kapasitas produksi DRAM dan NAND ke chip high-bandwidth memory (HBM) yang digunakan untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) karena memberikan margin lebih tinggi.

Cip memori untuk pusat data AI kini menyerap sekitar 70% produksi memori global, dengan margin 3-5 kali lebih tinggi dibandingkan memori konsumen.

Kondisi itu turut mendorong kenaikan harga komponen. Pada kuartal I, harga DRAM global naik lebih dari 50% dibandingkan kuartal sebelumnya, sedangkan NAND Flash melonjak lebih dari 90%. Pada kuartal II, biaya memori tercatat naik hampir 300% secara tahunan alias year on year (yo berdasarkan data IDC.

Tekanan tersebut membuat produsen smartphone harus memilih antara menaikkan harga atau menyesuaikan konfigurasi perangkat.

Sejumlah HP flagship tahun ini misalnya, tetap menggunakan RAM 12 GB dan tidak meningkat menjadi 16 GB. Di kelas menengah, sejumlah produsen juga menyesuaikan konfigurasi RAM dan penyimpanan, sementara beberapa model dasar menggunakan DRAM 4 GB untuk mempertahankan harga agar tetap terjangkau.

Penyesuaian bahkan menyentuh komponen lain, seperti modul kamera, layar, dan komponen audio.

Senior Analyst Counterpoint Research Shenghao Bai mengatakan perubahan komponen tersebut terjadi pada sejumlah model smartphone.

Kondisi ini membuat konsumen disarankan tidak hanya membandingkan spesifikasi ketika memilih ponsel. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan agar perangkat dapat digunakan lebih lama.

1. Daya Tahan Baterai

Konsumen disarankan tidak hanya melihat angka kapasitas baterai yang tercantum dalam brosur, tetapi mempertimbangkan apakah perangkat mampu bertahan selama satu hari penuh dalam penggunaan normal.

Selain itu, perlu diperhatikan apakah kapasitas baterai masih layak setelah digunakan selama dua hingga tiga tahun.

Dengan harga smartphone yang semakin tinggi, kemampuan perangkat untuk digunakan lebih lama menjadi semakin penting bagi konsumen.

2. Konsistensi Performa

Gawai tidak hanya dinilai berdasarkan chipset terbaru atau kapasitas RAM ketika pertama kali dibeli. Konsumen juga perlu melihat bagaimana perangkat bekerja setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu.

Konsistensi performa mencakup kemampuan smartphone untuk tetap responsif ketika berpindah aplikasi, stabil dalam pemakaian rutin, serta tidak mengalami penurunan performa secara drastis setelah satu tahun penggunaan.

Oleh karena itu, perangkat yang memiliki spesifikasi lebih tinggi belum tentu memberikan nilai jangka panjang lebih baik jika performanya tidak konsisten.

3. Umur Pakai

Umur pakai tidak hanya berkaitan dengan ketahanan fisik gadget. Konsumen juga disarankan memperhatikan ketersediaan suku cadang serta lamanya produsen memberikan pembaruan sistem dan keamanan.

Smartphone yang dapat bertahan secara fisik tetapi tidak lagi mendapatkan pembaruan perangkat lunak atau sulit mendapatkan suku cadang juga memiliki umur pakai yang terbatas.

Oleh karena itu, konsumen perlu mengecek berapa lama produsen menjanjikan pembaruan sistem dan keamanan sebelum membeli perangkat.

Era HP Murah Berakhir

Perubahan cara memilih smartphone tersebut muncul, karena tekanan harga cip memori diperkirakan tidak hanya berlangsung dalam jangka pendek.

Pabrik cip memori diperkirakan baru berproduksi penuh pada 2027. IDC juga memproyeksikan tekanan harga memori berlanjut setidaknya hingga 2028. Sejumlah eksekutif produsen memori bahkan memperingatkan ketimpangan pasokan dapat bertahan hingga melewati 2030.

Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices Nabila Popal mengatakan ekspektasi konsumen dan strategi produsen perlu menyesuaikan diri dengan struktur biaya baru.

“Era smartphone ultramurah telah berakhir,” ujar Popal dikutip dari siaran pers, Sabtu (5/9).

Menurutnya, vendor yang mampu menyesuaikan strategi dengan struktur biaya baru dan mempertahankan permintaan pada tingkat harga lebih tinggi yang akan bertahan.

Dampak kenaikan harga paling terasa pada smartphone murah. Biaya komponen ponsel di bawah US$ 200 atau Rp 3,5 juta, naik 20%-30% sejak awal tahun, berdasarkan data Counterpoint Research.

Pada kuartal II, memori menyumbang lebih dari 65% bill of materials (BOM) pada segmen entry-level, sehingga bisnis smartphone pada rentang harga tersebut semakin sulit dipertahankan.

Segmen smartphone di bawah US$100 atau sekitar Rp 1,8 juta juga mengalami tekanan besar. Segmen yang mengapalkan sekitar 173 juta unit pada 2025 tersebut anjlok hampir 60% pada kuartal II 2026, berdasarkan data IDC.

Indonesia menjadi salah satu pasar yang rentan terhadap tekanan tersebut, karena penjualan smartphone masih ditopang segmen entry-level dan kelas menengah.

Pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% yoy pada kuartal I 2026, menurut data Counterpoint Indonesia Smartphone Tracker.

Kenaikan harga smartphone di Indonesia berkisar 7%-45%, mencakup model lama maupun produk baru. Sementara segmen entry-level dengan harga di bawah US$150 atau sekitar Rp2,7 juta turun 19% secara tahunan.

Sebaliknya, segmen premium dengan harga di atas US$ 600 atau Rp 10,6 juta mencatat kontribusi tertinggi sebesar 8,3% dari total pengiriman, dengan pertumbuhan 30% yoy.

Sebagian konsumen Indonesia juga mulai beralih ke smartphone bekas dan refurbished karena menunda pembelian perangkat baru.

Senior Analyst Counterpoint Research Shilpi Jain mengatakan segmen entry-level menjadi yang paling terpukul karena konsumen memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas.

Dengan tekanan harga yang diperkirakan berlangsung bertahun-tahun, daya tahan baterai, konsistensi performa, serta umur pakai menjadi tiga ukuran yang semakin penting ketika memilih HP.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.