Krisis random access memory alias RAM secara global membuat industri gim merugi. RAM sangat dibutuhkan oleh pengusaha di sektor game, sebagai ruang penyimpanan sementara dan data aset.
Valve Corporation yang merupakan perusahaan pengembang video game asal Amerika Serikat menjadi salah satu yang terdampak kelangkaan RAM. Mengutip The Verge pada Selasa (17/2), Valve mengakui kurangnya pasokan RAM ini berpengaruh terhadap rencana pembuatan perangkat keras.
Model Steam Deck LCD 256 GB dan dua varian lain dengan kapasitas 512 GB dan 1 TB habis terjual. Stok Steam Deck OLED saat ini sudah habis karena kekurangan memori dan penyimpanan.
Konsol game PC portabel ini telah kehabisan stok di Amerika Serikat (AS) dan beberapa bagian dunia lainnya selama beberapa hari. Valve pun menunda pengiriman Steam Machine, Steam Frame, dan Steam Controller yangs emula dijadwalkan pada awal 2026.
“Kami perlu bekerja keras untuk menetapkan harga dan tanggal peluncuran yang konkret yang dapat kami umumkan dengan yakin dengan mempertimbangkan seberapa cepat keadaan di sekitar kedua hal tersebut dapat berubah," kata Valve.
Situs web Valve juga mencatat bahwa perusahaan tersebut tidak lagi memproduksi Steam Deck LCD 256 GB. Perangkat ini menggunakan RAM LPDDR5 yang terintegrasi langsung di motherboard dan dibagi untuk CPU serta GPU.
Krisis RAM ini dipicu oleh lonjakan permintaan dari industri kecerdasan buatan atau AI dan pusat data. Saat ini, produsen RAM global memprioritaskan produksi memori kebutuhan AI dan pusat data serta memiliki margin keuntungan lebih tinggi.
Hal ini menyebabkan pasokan RAM untuk konsumen secara langsung terutama di industri gim menjadi terdampak. Seperti konsol genggam yang kini stoknya mulai terbatas.
Sony Tunda Peluncuran PS6 hingga 2029
Sony juga menjadi salah satu perusahaan yang terdampak akibat langkanya ketersediaan RAM. Permintaan RAM untuk industri AI mengguncang pasar konsol genggam.
Berdasarkan laporan Bloomberg, Sony kini tengah mempertimbangkan untuk menunda perilisan PlayStation 6 atau PS6 hingga 2028 atau 2029. Padahal PS5 sudah dirilis pada 2020 atau tujuh tahun setelah Sony meluncurkan PS4.
Seharusnya pada 2027, Sony bisa meluncurkan PS6 dengan jeda yang sama yaitu tujuh tahun. Jika ditunda hingga 2028 atau 2029, maka Sony membutuhkan waktu hingga delapan atau sembilan tahun untuk merilis PS6.
Kondisi ini akan merugikan sebab Sony kemungkinan akan dihadapkan kepada kondisi tidak adanya permintaan besar dari konsumen untuk melakukan peningkatan dari PS5 ke PS6 dalam waktu dekat. Sebab saat ini, PS5 Pro belum tertinggal zaman.
Hal serupa terjadi di Nintendo dengan sistem generasi terbarunya yaitu Switch 2. Akibat langkanya RAM, Nintendo akan mematok harga konsol tersebut US$ 150 atau Rp 2,5 juta (kurs Rp 16.844 per US$) tahun ini. Harga ini lebih mahal dari Switch sebelumnya.
Nintendo telah menghindari kenaikan harga seperti PlayStation dan Xbox. Namun krisis RAM secara global memaksa Nintendo menaikan harganya.