Alih-alih membuat pekerjaan lebih ringan, penggunaan kecerdasan buatan atau AI justru mendorong karyawan bekerja lebih cepat, lebih lama, dan mengambil lebih banyak tanggung jawab.

Temuan ini terungkap dalam studi yang dipublikasikan Harvard Business Review oleh Aruna Ranganathan dan Xingqi Maggie Ye dari Haas School of Business, University of California Berkeley.

Studi ini mencoba menjawab pertanyaan tentang apa yang dilakukan karyawan ketika AI diukur dapat menghemat waktu. Namun jawabannya ternyata bukan lebih banyak istirahat, melainkan justru lebih banyak pekerjaan.

Penelitian dilakukan terhadap 40 karyawan di suatu perusahaan teknologi yang beranggotakan sekitar 200 orang pada April hingga Desember 2025. Para peneliti menelusuri perubahan kebiasaan kerja di bidang teknik, produk, desain, penelitian, dan operasional setelah penggunaan AI generatif semakin meluas.

“Kami menemukan bahwa karyawan bekerja dengan kecepatan lebih cepat, mengambil cakupan tugas yang lebih luas, dan memperpanjang jam kerja hingga lebih banyak jam dalam sehari, seringkali tanpa diminta,” tulis para peneliti.

Perusahaan memang menyediakan langganan alat AI komersial, tetapi tidak mewajibkan penggunaannya. Namun, para pekerja secara sukarela memanfaatkannya karena AI membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, bahkan memberikan kepuasan tersendiri.

Sayangnya, intensitas pekerjaan, jam kerja yang lebih panjang, dan luasnya tugas menyebabkan karyawan merasa ketagihan. Hal ini karena beban kerja tambahan itu mengurangi waktu pribadi mereka.

“Peningkatan beban kerja tersebut pada pasangannya dapat menyebabkan kelelahan kognitif, kelelahan mental, dan melemahnya pengambilan keputusan,” kata para peneliti.

Lonjakan produktivitas awal bahkan berpotensi menutupi tekanan yang tidak berkelanjutan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas kerja, meningkatkan kesalahan, hingga memicu pergantian karyawan.

Selama wawancara dengan para karyawan, para peneliti menemukan bahwa penggunaan AI generatif memudahkan karyawan untuk memulai tugas yang mungkin sebelumnya terasa sulit jika dimulai dari nol.

Selain itu, mereka lebih bersedia untuk mengambil tanggung jawab baru yang sebelumnya menjadi tanggung jawab peran lain berkat peningkatan kognitif dari AI.

Kekhawatiran lain datang dari proyeksi pasar tenaga kerja. Riset terbaru Forrester membayangkan AI dapat menggantikan sekitar 6% pekerjaan pada 2030 atau setara 10,4 juta posisi melalui otomatisasi proses robotik, otomatisasi bisnis, robotika fisik, dan AI generatif. Meski demikian, sejumlah analis meragukan bahwa AI otomatis akan merevolusi produktivitas secara menyeluruh.

Sebagai tanggapan, para peneliti menyarankan organisasi mengembangkan standar kerja baru untuk mencegah kelelahan. Salah satunya dengan menerapkan jeda yang disengaja sebelum mengambil keputusan penting, guna memastikan setiap langkah tetap selaras dengan tujuan perusahaan.

Mereka juga mendorong perusahaan untuk mengatur tempo pengembangan proyek secara lebih terstruktur, bukan sekadar mengikuti kecepatan yang dimungkinkan oleh AI. Prinsipnya jelas: biarkan tim memimpin AI, bukan sebaliknya.

Selain itu, memperkuat interaksi manusia dinilai penting untuk menyeimbangkan pekerjaan yang semakin dimediasi teknologi. Sesi refleksi bersama, dialog terstruktur, atau ruang diskusi singkat dapat membantu mengurangi tekanan individu dan memulihkan perspektif.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa efisiensi teknologi tidak selalu berarti beban kerja yang lebih ringan. Tanpa pengelolaan yang tepat, AI yang dirancang untuk menghemat waktu justru berisiko memperpanjang jam kerja dan mempercepat kelelahan di tempat kerja.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti