Sutradara Film Jumbo Ungkap Risiko Tren AI dan Cara Mengatasinya

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agr
Sutradara serta Creative Director Film JUMBO Ryan Adriandhy (kanan) bersama Creative Director Konser JUMBO Nuya Susantono (tengah), dan Music Director Konser JUMBO Nino (kiri) menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers Konser JUMBO di Jakarta, Rabu (25/6/2025).
Penulis: Rahayu Subekti
24/4/2026, 06.25 WIB

Studio film hingga penyedia platform video on demand (VoD) mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat konten, baik film maupun drama. Sutradara film Jumbo Ryan Adriandhy mengakui akal imitasi menjadi tantangan baru di industri ini.

Ryan yang juga menyutradarai film ‘Na Willa’ mengakui AI bisa melakukan banyak hal. Namun menurut dia, hal ini terjadi lantaran akal imitasi mempelajari hasil karya para kreator selama ini.

AI bisa memahami estetika fotografi hitam putih atau gaya visual tertentu, kata dia, karena ada manusia yang lebih dulu menciptakannya. “Kenapa kita bisa bilang ‘AI buatkan foto jadi fotografi hitam putih’, kenapa dia bisa mengerti? Karena ada fotografer yang pernah bikin seperti itu,” ujar Ryan dalam acara diskusi bertajuk The Future of Influence di Jakarta, Kamis (23/4).

Untuk mengatasi tantangan dari kehadiran AI, Ryan berfokus meningkatkan kualitas karya. Menurut dia, hasil karya manusia tetap menjadi pemegang kendali atas orisinalitas konten.

“Mungkin aku simpelnya saja ya, aku seorang kreator bukan prompter. Jadi aku merasa bahwa perkembangan AI tidak akan bisa dihentikan, tidak bisa diperlambat, tapi aku punya decision bahwa aku adalah kreator,” kata Ryan.

Netflix hingga Disney Pakai AI

Studio film hingga platform VoD mulai mengadopsi kecerdasan buatan dalam pembuatan konten. Netflix mengakuisisi perusahaan AI filmmaking InterPositive.

Dikutip dari Reuters, teknologi InterPositive dipakai untuk memperbaiki pencahayaan, konsistensi visual hingga mengatasi masalah produksi tanpa reshoot.

Pesaingnya, Disney membentuk unit khusus AI untuk film. Perusahaan bahkan sempat berencana untuk bekerja sama dengan pengembang ChatGPT, OpenAI. Namun OpenAI akhirnya menutup platform video AI, Sora.

Ada juga Jio Studios yang mengembangkan film ‘Krishna’, dengan pipeline AI dari awal sampai akhir produksi, dikutip dari The Economic Times.

Selain itu, Primordial Soup hadir sebagai studio khusus konten AI. Perusahaan lain di sektor ini yakni Deep Voodoo.

Aktor Tye Sheridan juga membangun Wonder Dynamics, AI untuk produksi karakter dan efek film.

IQiyi Inc. juga memperkirakan sebagian besar film dan acaranya merupakan buatan AI dalam lima tahun ke depan atau pada 2031. Perusahaan mencatat ada pergeseran industri monumental yang mendorong layanan streaming untuk memulai perombakan perusahaan terbesar sejak didirikan pada tahun 2010.

Perusahaan yang berbasis di Beijing itu berencana mengubah aplikasi dan situs web videonya menjadi lebih seperti media sosial, yang sebagian besar menampung konten buatan AI. “Hal ini seiring dengan matangnya model AI video,” kata pendiri sekaligus CEO Gong Yu dalam wawancara di acara pameran konten tahunan iQiyi dikutip dari Bloomberg, Selasa (21/4).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti