Belajar Investasi Lewat Mobile Legends, Cara Baru Menjangkau Generasi Digital
Literasi keuangan sering kali dianggap rumit dan membosankan oleh generasi muda. Namun, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mencoba mengubah persepsi tersebut dengan pendekatan lain yakni mengajarkan investasi melalui permainan Mobile Legends.
Pendekatan ini diperkenalkan dalam ajang Kapolda Jateng Cup 2026 yang digelar di De Tjolomadoe Convention Hall, Kabupaten Karanganyar. President Director and CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The mengatakan terdapat irisan yang cukup besar antara komunitas eSports dan investor muda yang kini menjadi tulang punggung pasar modal Indonesia.
Menurutnya, karakter yang dimiliki para gamer seperti kemampuan membaca data, disiplin, kerja sama tim, serta mengambil keputusan dengan cepat merupakan kemampuan yang juga dibutuhkan dalam dunia investasi. Menurutnya, komunitas eSports memiliki kemampuan membaca data, disiplin, dan mengambil keputusan cepat.
"Karakter inilah yang juga dibutuhkan dalam investasi. Melalui edukasi dan teknologi AI, kami ingin membantu generasi muda mengubah kemampuan tersebut menjadi fondasi untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik," kata Moleonoto dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (24/6).
Langkah ini dilakukan di tengah masih adanya kesenjangan literasi dan inklusi keuangan di kalangan anak muda. Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025, tingkat inklusi keuangan kelompok usia 18–25 tahun telah mencapai 89,96%. Namun, tingkat literasi keuangan mereka baru berada di angka 73,22 %.
Dari Map Awareness hingga Item Build
Equity Analyst IPOT Brigita Kinari mengatakan konsep investasi dijelaskan menggunakan analogi yang akrab bagi para pemain Mobile Legends.
Brigita mengatakan kemampuan map awareness dalam permainan memiliki kesamaan dengan kemampuan membaca kondisi pasar dan risiko investasi. Sementara kemampuan menentukan waktu yang tepat untuk menyerang atau mundur dalam permainan dapat dianalogikan sebagai keputusan membeli, menahan, atau menjual aset investasi.
Selain itu, konsep item build juga digunakan untuk menjelaskan pentingnya diversifikasi portofolio. Pemain yang memilih kombinasi item sesuai kebutuhan karakter dinilai serupa dengan investor yang harus memilih instrumen investasi sesuai profil risiko.
"Di era AI, yang tertinggal bukan orang yang tidak punya uang, tetapi orang yang tidak tahu cara mengelola uangnya. Jika teknologi kecerdasan buatan mampu membuat seseorang menjadi lebih hebat dalam bermain game, maka teknologi AI yang sama seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membantu mereka membangun masa depan finansial," kata Brigita.
IPOT juga mengibaratkan saham sebagai Blade of Despair yang menawarkan potensi pertumbuhan tinggi namun memiliki risiko besar. Sementara reksa dana dianalogikan sebagai tank atau support yang memberikan perlindungan dan keseimbangan portofolio.
Adapun obligasi digambarkan sebagai defense build yang menjaga stabilitas aset, sedangkan exchange traded fund (ETF) disebut sebagai top country pro build karena menawarkan diversifikasi secara instan.
AI untuk Investor Muda
Selain edukasi finansial, IPOT juga memanfaatkan momentum turnamen eSports untuk memperkenalkan berbagai fitur investasi berbasis kecerdasan buatan atau AI. Perusahaan memperkenalkan sejumlah fitur seperti AI Trading, AI Real-Time Cockpit, hingga LADI (Bandar Detection) yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan berdasarkan data dan mengurangi perilaku investasi yang didorong emosi atau fenomena fear of missing out (FOMO).
Melalui pendekatan yang dekat dengan keseharian generasi muda, IPOT berharap literasi keuangan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sulit dipahami. Sebaliknya, investasi dapat dipelajari dengan cara yang lebih relevan, interaktif, dan menyenangkan.
Kolaborasi antara dunia eSports, teknologi AI, dan edukasi finansial ini sekaligus menunjukkan bahwa arena permainan tidak hanya menjadi tempat mencari gelar juara, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran finansial generasi digital sejak dini.