AI Akan Bisa Transfer Uang dan Teken Kontrak Sendiri, Bank Dkk Diminta Bersiap
Kecerdasan buatan (AI) diperkirakan segera memasuki fase baru. Dalam beberapa tahun ke depan, AI tidak lagi sekadar membantu manusia menganalisis data atau mengotomatiskan proses, tetapi mulai mengambil keputusan hingga mengeksekusi transaksi keuangan secara mandiri.
Perkembangan itu dinilai akan mengubah cara kerja industri jasa keuangan. Ketika agen AI (agentic AI) dapat mengajukan pembiayaan, menyetujui kontrak, atau memindahkan dana tanpa campur tangan manusia, muncul tantangan baru terkait kepastian identitas, otorisasi, dan pertanggungjawaban hukum atas setiap tindakan yang dilakukan AI.
CEO sekaligus Co-Founder Privy Marshall Pribadi mengatakan kebutuhan akan mekanisme identitas dan otorisasi yang kuat akan semakin penting ketika AI mulai menjalankan tindakan yang menimbulkan hak dan kewajiban hukum.
"Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan memasuki era ketika AI tidak hanya membantu manusia mengambil keputusan, tetapi juga menjalankan berbagai proses dan transaksi secara mandiri. Ketika tindakan yang dilakukan AI mulai menimbulkan hak dan kewajiban hukum, kebutuhan akan mekanisme identitas dan otorisasi yang dapat dibuktikan secara kuat akan menjadi semakin penting,” ujar Co-Founder sekaligus CEO Privy Marshall Pribadi dalam sesi panel "Beyond Banking: Rewiring the Financial System" pada Indonesia Digital Bank Summit (IDBS) 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Indonesia, dikutip dari siaran pers, Senin (13/7).
“Oleh karena itu, digital trust tidak hanya relevan untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga akan menjadi fondasi penting bagi ekosistem ekonomi digital berbasis AI di masa depan,” Marshall menambahkan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Privy sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) menyiapkan perluasan infrastruktur digital trust untuk memverifikasi agentic AI melalui pendekatan kriptografi. Dengan pendekatan ini, identitas dan otorisasi setiap tindakan AI dapat dibuktikan secara matematis sehingga kepercayaan dalam ekosistem digital tetap terjaga.
Industri Keuangan Memasuki Era Beyond Banking
Marshall mengatakan perubahan tersebut terjadi ketika sektor jasa keuangan Indonesia memasuki fase beyond banking, yakni semakin terintegrasinya layanan perbankan, fintech, dan berbagai platform digital melalui konsep Universal Banking, Embedded Finance, dan Open Finance.
Menurut dia, dalam ekosistem yang semakin terhubung, kepercayaan menjadi elemen penting agar berbagai layanan digital dapat beroperasi secara aman dan efisien, termasuk ketika AI mulai mengambil keputusan maupun menjalankan transaksi.
"Dalam ekosistem yang semakin terhubung, kepercayaan menjadi elemen penting yang memungkinkan berbagai layanan digital dapat beroperasi secara aman dan efisien. Termasuk dalam merespons perkembangan peran agen AI, sehingga setiap keputusan dan transaksi yang dijalankan AI memiliki rekam jejak identitas serta otorisasi yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan secara hukum," ujarnya.
Ia menambahkan, selama ini banyak institusi keuangan masih membangun berbagai lapisan verifikasi identitas secara terpisah untuk memitigasi risiko penipuan. Akibatnya, biaya operasional menjadi lebih tinggi dan pengalaman pengguna menjadi kurang efisien.
Oleh karena itu, Privy memandang digital trust dapat menjadi infrastruktur bersama yang memperkuat kepastian identitas, mengurangi kompleksitas proses verifikasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem keuangan yang lebih efisien.
Bukan Lagi Sekadar Memperluas Akses
Tantangan itu muncul ketika tingkat inklusi keuangan Indonesia terus meningkat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51%.
Dalam kondisi itu, tantangan industri bukan lagi sekadar memperluas akses layanan keuangan, melainkan memastikan setiap transaksi, baik yang dilakukan manusia maupun mesin, berlangsung secara aman dan tepercaya.
Sebagai PSrE, Privy menyediakan layanan identitas digital dan tanda tangan elektronik tersertifikasi untuk mendukung berbagai proses digital, mulai dari verifikasi identitas, pembukaan rekening, electronic Know Your Customer (e-KYC), pengajuan pembiayaan, penerbitan polis asuransi, hingga penandatanganan dokumen elektronik yang memiliki kekuatan hukum.
Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto mengatakan keberhasilan transformasi menuju era beyond banking tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi dan model bisnis baru, tetapi juga kemampuan seluruh pelaku ekosistem membangun standar kepercayaan yang dapat digunakan bersama.
"Transformasi menuju era beyond banking pada dasarnya adalah upaya membangun ekosistem keuangan yang semakin terhubung dan berpusat pada kebutuhan masyarakat. Namun semakin tinggi tingkat konektivitas tersebut, semakin penting pula keberadaan fondasi kepercayaan yang dapat digunakan bersama oleh seluruh pelaku industri," kata Firlie.
“Oleh karena itu, penguatan infrastruktur digital trust menjadi salah satu elemen penting untuk memastikan kolaborasi, inovasi, dan pertumbuhan sektor keuangan digital dapat berlangsung secara berkelanjutan,” Firlie menambahkan.
Seiring berkembangnya pemanfaatan AI dan semakin terhubungnya layanan keuangan digital, kebutuhan akan fondasi kepercayaan digital diperkirakan akan semakin penting agar setiap keputusan maupun transaksi yang dijalankan AI memiliki identitas, otorisasi, serta jejak audit yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.