AI Jadi Mesin Uang Baru Operator Seluler, GSMA Ungkap Peluang Monetisasi 5G

GoTo Gojek Tokopedia
Peluncuran versi terbaru Sahabat-AI
Penulis: Desy Setyowati
20/8/2026, 14.13 WIB

Kecerdasan buatan (AI) dinilai dapat menjadi salah satu mesin monetisasi baru bagi operator seluler melalui jaringan 5G. Selain membuka peluang layanan baru, AI dinilai dapat membantu perusahaan internet meningkatkan efisiensi jaringan dan penggunaan energi.

Kepala Asia Pasifik GSMA Julian Gorman mengatakan, industri seluler saat ini perlu berfokus mengubah 5G menjadi teknologi yang memberikan dampak ekonomi nyata, termasuk melalui pemanfaatan AI.

Menurut Julian, 5G diperkirakan masih menjadi teknologi dominan di Asia Pasifik hingga bagian akhir dekade berikutnya. Sementara standar 6G diperkirakan selesai sekitar 2028 dan jaringan komersial 6G baru diperkirakan hadir sekitar 2030, termasuk di negara-negara yang paling maju.

Oleh karena itu, menurut dia, industri perlu memastikan 5G terlebih dahulu menghasilkan inovasi dan transformasi ekonomi sebelum terlalu berfokus mengejar 6G. "Kita perlu memastikan bahwa kita mendapatkan tahap itu dengan 5G, sehingga kita memiliki inovasi yang menggunakan latensi rendah, kapasitas besar, dan manfaat transformatif yang dimiliki 5G," kata dia Virtual Roundtable yang dihadiri dari Jakarta, Kamis (20/8).

Ia mengatakan manfaat 5G tidak semata-mata berasal dari kecepatan jaringan. Teknologi ini perlu dimanfaatkan untuk menciptakan layanan dan model bisnis baru.

Julian mencontohkan era 4G yang melahirkan berbagai layanan dan platform digital seperti Tokopedia dan Gojek. Menurutnya, Indonesia juga perlu menghasilkan use case 5G sendiri agar teknologi tersebut memberikan dampak ekonomi yang terukur.

AI Jadi Mesin Monetisasi 5G

Dalam konteks tersebut, GSMA melihat AI sebagai salah satu peluang untuk memonetisasi 5G. Menurut Julian, perkembangan AI mengubah pola lalu lintas data pada jaringan seluler.

Julian mengatakan era 4G sangat didominasi konsumsi video sehingga kebutuhan jaringan lebih banyak berada pada sisi downlink, yakni ketika pengguna menerima data.

Sementara itu, penggunaan AI membutuhkan lebih banyak pengiriman data sehingga meningkatkan kebutuhan pada sisi uplink. "Terkait AI, kami melihat permintaan yang jauh lebih besar pada uplink," katanya.

Perubahan itu menjadi salah satu implikasi bagi operator seluler ketika AI semakin banyak digunakan melalui jaringan seluler. Artinya, pengembangan jaringan 5G bukan hanya soal meningkatkan kecepatan download, tetapi juga harus mampu memenuhi perubahan pola traffic yang muncul dari penggunaan akal imitasi.

Julian mengatakan AI semakin terintegrasi dalam kehidupan masyarakat melalui perangkat yang sudah digunakan sehari-hari. Ia mencontohkan penggunaan model AI seperti Claude, Gemini, dan ChatGPT melalui smartphone. Menurutnya, masyarakat Indonesia sudah mulai membuat keputusan sehari-hari mengenai penggunaan kecerdasan buatan.

Pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada perusahaan besar, tetapi juga dapat masuk ke rumah tangga dan usaha kecil. Ia mencontohkan kamera CCTV yang sebelumnya hanya berfungsi merekam.

Dengan AI, kamera dapat menginterpretasikan apa yang dilihat secara real time. "AI membuat interaksi dengan teknologi menjadi jauh lebih mudah," ujar Julian.

Menurut dia, AI juga dapat membantu usaha kecil memanfaatkan pembayaran digital, melakukan transaksi dari jarak jauh, serta membuat materi komunikasi dan pemasaran yang lebih menarik hanya melalui ponsel.

Dengan demikian, penetrasi AI melalui jaringan 5G berpotensi menciptakan berbagai penggunaan baru bagi konsumen maupun pelaku usaha.

Peluang monetisasi AI tidak hanya berasal dari layanan baru yang ditawarkan kepada pelanggan. Akal imitasi juga dapat membantu operator menekan biaya operasional.

Julian mengatakan kecerdasan buatan dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi layanan pelanggan. Namun, peluang yang lebih besar juga terdapat pada pengelolaan jaringan.

AI dapat membantu operator mengelola jaringan, termasuk menentukan bagaimana base station beroperasi dan berapa banyak daya yang digunakan.

Dengan pengelolaan secara dinamis, penggunaan energi jaringan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. "AI kini dapat digunakan untuk mengelola jaringan, termasuk cara kerja stasiun pangkalan dan seberapa besar daya stasiun pangkalan yang digunakan," kata Julian.

Namun, ia menilai industri juga menghadapi tantangan untuk memastikan AI dapat digunakan secara inklusif, termasuk tersedia dan dapat diakses dalam berbagai bahasa Indonesia.

AI dan 5G Masuk ke Layanan Kesehatan

Kepala Urusan Publik dan Eksternal APAC GSMA Jeanette Whyte menambahkan AI dan 5G juga memiliki peluang penggunaan di sektor kesehatan. Ia mencontohkan pemanfaatan AI di rumah sakit yang dapat membantu prosedur dilakukan secara lebih efisien sehingga mengurangi waktu pasien berada di rumah sakit.

Jeanette juga mengatakan kemampuan melakukan layanan secara jarak jauh dengan dukungan 5G dan AI mulai terealisasi. Ia mencontohkan prosedur medis yang dilakukan secara jarak jauh antara lokasi yang berbeda. Menurut Jeanette, penggunaan seperti ini relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang mungkin tidak memiliki tenaga ahli tertentu di seluruh wilayah.

Dengan demikian, manfaat ekonomi AI dan 5G tidak hanya berasal dari layanan digital yang dikonsumsi masyarakat, tetapi juga dari peningkatan efisiensi di sektor-sektor seperti kesehatan.

 

Sementara itu, Julian menilai operator seluler di Indonesia telah mulai mengeksplorasi berbagai inovasi berbasis 5G dan AI. Ia mencontohkan Indosat Ooredoo Hutchison atau IOH yang mengumumkan kemitraan dengan NVIDIA dan Nokia terkait AI-RAN.

Selain itu, penggunaan internet 5G mulai terlihat di sektor industri seperti pabrik, pelabuhan, dan bandara, yang menurut Julian telah mulai menghasilkan dampak yang dapat diukur. Oleh karena itu, pekerjaan Indonesia saat ini bukan sekadar mengejar teknologi generasi berikutnya, tetapi memastikan 5G dapat digunakan secara luas dan menghasilkan manfaat ekonomi.

 

Meski begitu, Julian menekankan bahwa dampak ekonomi teknologi seluler tidak dapat diukur hanya dari pendapatan operator. GSMA memperkirakan kontribusi ekonomi seluler di kawasan mencapai sekitar US$ 1 triliun pada tahun lalu, setara sekitar 5,9% dari PDB regional.

Kontribusi itu mencakup pendapatan langsung operator dan distribusinya, tetapi juga nilai ekonomi yang tercipta karena teknologi seluler meningkatkan efisiensi industri dan memungkinkan aktivitas ekonomi yang lebih luas, termasuk transaksi melalui platform perdagangan seluler.

Kontribusinya diproyeksikan meningkat menjadi 6,7% dari PDB regional pada akhir dekade. Julian mengatakan AI menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut.

Oleh karena itu, monetisasi 5G tidak harus berarti operator secara langsung menjual layanan AI kepada pelanggan. Nilai ekonominya juga dapat muncul dari efisiensi jaringan, peningkatan produktivitas industri, munculnya layanan baru, hingga aktivitas ekonomi yang dimungkinkan oleh konektivitas.

Bagi Indonesia, Julian menilai fokusnya adalah mengubah 5G menjadi teknologi yang digunakan secara luas dan menghasilkan dampak ekonomi, sementara AI dapat menjadi salah satu teknologi yang mendorong proses tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.