Robot Humanoid Cina Mulai Diuji untuk Pekerjaan yang Menghasilkan Uang

ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/YU
Ratusan robot 'humanoid' beraksi dalam pembukaan World Humanoid Robot Games (WHRG) 2026 di National Speed Skating Oval, Beijing, Cina, Sabtu (22/8/2026).
Penulis: Rahayu Subekti
24/8/2026, 08.51 WIB

Robot humanoid buatan Cina mulai menunjukkan kemampuan yang semakin mendekati, bahkan melampaui manusia dalam sejumlah kemampuan fisik. Namun, tantangan terbesar industri robotika kini bukan sekadar membuat robot berlari lebih cepat atau mengangkat beban lebih berat.

Ujian sesungguhnya yakni apakah robot tersebut mampu bekerja secara andal dalam kondisi dunia nyata dan menjalankan pekerjaan yang menghasilkan nilai ekonomi.

Hal itu menjadi salah satu fokus dalam World Humanoid Robot Games yang digelar di Beijing pada Sabtu (22/8). Ajang yang menyerupai Olimpiade itu tidak hanya memperlombakan kemampuan robot dalam olahraga, tetapi juga menguji kemampuan mereka menjalankan pekerjaan yang menyerupai lingkungan industri dan kehidupan sehari-hari.

Kompetisi tersebut mencakup 51 jenis lomba, terdiri dari 30 kompetisi olahraga dan 21 kontes berbasis skenario. Menurut Huawei yang menjadi mitra teknologi ajang tersebut, lebih dari 40% kompetisi mengharuskan robot beroperasi secara otonom.

Berbagai skenario pekerjaan yang diuji antara lain pengemasan dan pergudangan, perakitan industri, pemuatan material, pengisian daya kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), pekerjaan restoran, hingga penanganan situasi darurat.

Dengan demikian, ajang tersebut tidak sekadar menjadi panggung untuk memamerkan kemampuan fisik robot humanoid. Kompetisi ini juga menjadi pengujian apakah robot mampu menjalankan pekerjaan yang membutuhkan koordinasi tubuh, penglihatan, ketepatan gerakan, dan kemampuan beradaptasi.

Salah satu tantangan yang terlihat sederhana tetapi justru sulit bagi robot adalah menyambungkan kabel.

Dalam skenario tersebut, robot harus mengenali posisi kabel, mengarahkan tangan secara tepat, menyelaraskan konektor, sekaligus memberikan gaya yang sesuai. Tantangan menjadi semakin kompleks ketika posisi kabel tidak ideal atau objek berada sedikit di luar jangkauan.

Robot harus mampu mengenali perubahan, memperbaiki kesalahan, dan melanjutkan pekerjaan tanpa terus-menerus mendapatkan bantuan manusia.

Robot Pecahkan Rekor Manusia

Kemajuan kemampuan fisik robot humanoid Cina menjadi salah satu daya tarik utama dalam ajang tersebut. Dua robot bahkan mencatatkan rekor yang sebelumnya dilakukan oleh manusia.

Robot humanoid berhasil memecahkan rekor manusia untuk lomba lari 100 meter. Dalam lompatan tinggi berdiri, robot humanoid mampu mencapai ketinggian 2,88 meter, jauh di atas hasil terbaik 0,95 meter yang dicapai robot humanoid pada edisi pertama pertandingan tahun lalu.

Namun, kemampuan berlari dengan cepat ternyata juga menghadirkan persoalan tersendiri. Sejumlah robot mengalami kesulitan melakukan pengereman setelah melewati garis finis dan menabrak bantalan yang telah disiapkan penyelenggara.

Salah satu penonton sekaligus investor di bidang robotika, Xu Qiaosheng, mengatakan intensitas penyelenggaraan tahun ini lebih tinggi sehingga menuntut kemampuan manajemen baterai dan pembuangan panas yang mumpuni.

“Hal ini memiliki arti yang sangat penting bagi pengembangan sektor industri Cina,” kata Xu Qiaosheng dikutip dari Reuters, Minggu (23/8).

Robot Harus Bisa Menghadapi Dunia Nyata

Kemampuan robot di lingkungan kerja tidak hanya ditentukan oleh kekuatan atau kecepatannya. Robot juga harus memiliki kemampuan persepsi dan pengambilan keputusan untuk menghadapi kondisi yang berubah.

Hal serupa terjadi dalam pekerjaan pergudangan. Paket dapat bergeser, posisi benda dapat berubah, dan objek yang ingin diambil dapat berada di luar posisi yang telah diprogram sebelumnya.

Kemampuan menghadapi ketidaksempurnaan tersebut menjadi salah satu pembeda antara robot yang mampu melakukan peningkatan dan robot yang benar-benar siap digunakan dalam industri.

Chief Marketing Officer Zeroth, Hua Rong, mengatakan ujian utama bagi robot baru benar-benar dimulai setelah rangkaian pertandingan berakhir.

“Ujian utamanya adalah apakah produk tersebut benar-benar mampu memecahkan masalah pengguna setelah dipasarkan,” katanya.

Sementara itu, CEO Lumos Robotics Yu Chao mengatakan ajang tersebut dapat membantu menyempurnakan perangkat keras sekaligus menjadi wadah untuk menunjukkan kemampuan bagi industri.

Menurut Yu, nilai jangka panjang kompetisi tersebut akan bergantung pada kemampuan robot menyelesaikan persoalan di dunia nyata.

“Nilai sesungguhnya tercipta baru ketika robot mampu bekerja dalam skenario penggunaan akhir tersebut. Sekadar berlari dan melompat tidak meningkatkan efisiensi,” ujar Yu.

Oleh karena itu, sejumlah kategori dalam World Humanoid Robot Games dirancang untuk mendekatkan robot dengan kondisi pekerjaan sebenarnya. Selain olahraga seperti lari, tarik tambang, dan angkat beban, robot diuji dalam pekerjaan perakitan, pengangkutan material, pengemasan, hingga pekerjaan restoran.

Ada pula pengisian daya kendaraan listrik dan penanganan kondisi darurat.

Rangkaian pengujian tersebut menunjukkan bahwa tantangan pengembangan robot humanoid telah bergerak dari sekadar kemampuan fisik menuju kemampuan menjalankan pekerjaan secara andal.

Robot mungkin sudah mampu berlari dan melompat lebih tinggi. Namun, nilai ekonominya baru benar-benar terlihat ketika kemampuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pekerjaan yang dapat diselesaikan secara mandiri, konsisten, dan sesuai kebutuhan pengguna.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti