AI Dipakai untuk Teliti Molekul Kemenyan, Luhut Ajak Tsinghua Cina Kolaborasi

ANTARA/Rolandus Nampu
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memberikan sambutan dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Minggu (4/10/2026).
Penulis: Desy Setyowati
4/10/2026, 13.27 WIB

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengajak Universitas Tsinghua, Cina, berkolaborasi mengembangkan penelitian genomik terhadap kekayaan tanaman herbal Indonesia. Salah satu penelitian yang tengah dikembangkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu dalam membaca molekul kemenyan atau frankincense.

Penelitian tersebut dilakukan di Institut Teknologi Del (IT Del), Sumatera Utara, yang memiliki koleksi 435 spesies tanaman herbal. Fasilitas ini juga tengah mengembangkan kemampuan riset dan bank gen herbal untuk mendukung penelitian berbasis sumber daya hayati.

“Kami memiliki seluruh ekosistem di sana. Ada 435 spesies herbal, yang menurut saya mungkin menjadi salah satu koleksi terbesar di kawasan ini, bahkan mungkin di dunia,” kata Luhut dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Bali, Minggu (4/10).

Luhut mengatakan Indonesia telah mengembangkan kemampuan penelitian genomik dan memiliki fasilitas teknologi untuk mempercepat pengkajian sumber daya hayati. Oleh karena itu, ia berharap peneliti Tsinghua dapat bekerja bersama ilmuwan Indonesia untuk memperkuat penelitian tersebut.

Menurut Luhut, kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia perlu dipelajari dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab melalui ilmu pengetahuan. Dengan begitu, kekayaan alam tersebut tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

Luhut menyebut IT Del sedang mengembangkan kemampuan penelitian dan bank gen herbal. Pengembangan fasilitas tersebut didukung perangkat pengurutan genom dari Cina, termasuk MGI T7 dan MGI B300, untuk menunjang penelitian molekuler.

Ia menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi yang memiliki kemampuan riset tinggi, seperti Universitas Tsinghua, dapat memperkuat kapasitas ilmuwan Indonesia dalam mengembangkan penelitian berbasis sumber daya hayati.

Namun, ia menekankan bahwa kerja sama tersebut perlu diarahkan pada program konkret. Bentuk kolaborasi yang diharapkan mencakup penelitian bersama, pertukaran peneliti, pengembangan laboratorium, hingga publikasi ilmiah.

“Kami tidak mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membangun semuanya dari awal. Kami sudah memiliki infrastruktur, tetapi kami membutuhkan Universitas Tsinghua untuk memanfaatkannya bersama,” ujarnya.

Luhut Dorong Riset Genomik untuk Pertanian

Selain penelitian tanaman herbal, Luhut mendorong kerja sama genomik di sektor pertanian. Penelitian tersebut diharapkan dapat menghasilkan benih unggul, mengembangkan tanaman yang lebih tahan terhadap tekanan lingkungan, serta meningkatkan produktivitas pertanian.

Menurut dia, penelitian di sektor pertanian menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia untuk menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan pembangunan dan perubahan kondisi lingkungan.

Kerja sama genomik di sektor ini juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia melalui pengembangan teknologi dan inovasi berbasis ilmu pengetahuan.

Ia berharap Tsinghua Southeast Asia Center di Bali dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat kerja sama pendidikan dan penelitian antara Cina, Indonesia, serta negara-negara Asia Tenggara.

Luhut menegaskan, kemitraan Cina dan Indonesia  perlu bergerak melampaui investasi dan transfer teknologi menuju inovasi bersama yang dapat menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara