Jurusan kuliah yakni matematika di Duke University menjadi program sarjana dengan median pendapatan lulusan tertinggi di Amerika Serikat (AS) di tengah tren AI.
Berdasarkan riset HEA Group yang dipublikasikan pada Oktober 2026, lulusan program ini memperoleh median pendapatan tahunan US$ 297.029 atau Rp 5,3 miliar (Rp 18.010 per US$), sekitar empat tahun setelah menyelesaikan pendidikan.
Riset tersebut menganalisis 24.526 program sarjana di AS menggunakan data federal College Scorecard. Peringkat disusun berdasarkan kombinasi universitas dan program studi, sehingga hasilnya tidak menggambarkan median pendapatan seluruh lulusan matematika di negara tersebut.
Carnegie Mellon University menempati posisi kedua dan ketiga. Lulusan ilmu komputer di universitas ini mencatat median pendapatan US$ 268.121 atau Rp 4,8 miliar per tahun. Sementara itu, lulusan teknik listrik, elektronik, dan komputasi memperoleh US$ 250.168 atau Rp 4,5 miliar per tahun.
Di posisi keempat, lulusan ilmu komputer dan informasi dari University of Pennsylvania mencatat median pendapatan US$ 241.380 atau Rp 4,3 miliar per tahun. Selanjutnya Harvard University melengkapi lima besar melalui program statistika dengan media pendapatan US$ 230.876 atau Rp 4,2 miliar per tahun.
Berikut daftar lima program sarjana dengan median pendapatan tertinggi berdasarkan riset HEA Group:
- Duke University, Matematika US$ 297.029
- Carnegie Mellon University, Ilmu Komputer US$ 268.121
- Carnegie Mellon University, Teknik Listrik, Elektronik, dan Komunikasi US$ 250.168
- University of Pennsylvania, Ilmu Komputer dan Informasi US$ 241.380
- Harvard University, Statistika US$ 230.876
Angka tersebut merupakan median pendapatan, bukan gaji yang pasti diterima setiap lulusan. Hasilnya juga berlaku untuk program studi di universitas tertentu, sehingga tidak bisa langsung dianggap mewakili seluruh lulusan matematika, statistika, atau ilmu komputer di AS.
Kondisi Pasar Kerja AS Berdasarkan Jurusan
Data pendapatan lulusan dari penelitian HEA grup memang memberikan gambaran tentang potensi penghasilan setelah kuliah. Namun, untuk melihat kondisi pasar kerja secara lebih luas, data Federal Reserve Bank of New York (New York Fed) menunjukkan perbedaan upah berdasarkan bidang studi dan tahap karier.
Dalam laporan The Labor Market for Recent College Graduates yang diperbarui pada 4 Februari 2026, teknik kimia mencatat median upah pertengahan karier tertinggi, yakni US$ 135 ribu atau Rp 2,4 miliar per tahun.
Teknik komputer menyusul dengan US$ 131 ribu atau Rp 2,4 miliar per tahun, diikuti oleh teknik dirgantara sebesar US$ 130 ribu atau Rp 1,3 miliar. Adapun teknik elektro mencatat median upah US$ 123 ribu atau Rp 2,2 miliar per tahun, sedangkan teknik mesin dan ilmu komputer masing-masing mencapai US$ 120 ribu atau Rp 2,2 miliar per tahun.
Besarnya pendapatan juga terlihat sejak awal karier. Lulusan teknik komputer mencatat median upah awal karier sebesar US$ 90 ribu atau Rp 1,6 miliar per tahun, ilmu komputer menyusul dengan US$ 87 ribu atau Rp 1,6 miliar, serta teknik kimia dan teknik dirgantara mencatat nilai US$ 85 ribu atau Rp 1,5 miliar per tahun.
Berikut perbandingan median upah awal dan pertengahan karier dari enam jurusan tersebut:
- Teknik Kimia: awal karier US$ 85 ribu, pertengahan karier US$ 135 ribu
- Teknik Komputer: awal karier US$ 90 ribu, pertengahan karier US$ 131 ribu
- Teknik Dirgantara: awal karier US$ 85 ribu, pertengahan karier US$ 130 ribu
- Teknik Elektro: awal karier US$ 82 ribu, pertengahan karier US$ 123 ribu
- Teknik Mesin: awal karier US$ 80 ribu, pertengahan karier US$ 120 ribu
- Ilmu Komputer: awal karier US$ 87 ribu, pertengahan karier US$ 120 ribu
New York Fed mengelompokkan awal karier sebagai usia 22 hingga 27 tahun dan pertengahan karier sebagai usia 35 hingga 45 tahun. Dengan demikian, data itu memperlihatkan perbedaan pendapatan pada dua tahap perjalanan karier.
Pada dasarnya kedua riset ini menggunakan pendekatan berbeda. HEA Group mengukur pendapatan lulusan berdasarkan program studi dan universitas sekitar empat tahun setelah kelulusan.
Sementara itu, New York Fed membandingkan upah berdasarkan bidang studi dan kelompok usia. Karena itu, angka dari kedua sumber tidak dapat disatukan menjadi satu peringkat.
Gaji Tinggi Belum Tentu Diikuti Peluang Kerja Lebih Besar
Besarnya potensi pendapatan juga perlu dilihat bersama kondisi pasar kerja. Data New York Fed menunjukkan tingkat pengangguran lulusan teknik komputer mencapai 7,78%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan teknik dirgantara sebesar 2,18% dan teknik elektro 3,16%.
Untuk lulusan teknik kimia, tingkat penganggurannya tercatat 4,71%. Sementara itu, lulusan ilmu komputer mencatat tingkat pengangguran 6,99%.
New York Fed juga mengukur tingkat setengah pengangguran atau underemployment, yaitu kondisi ketika lulusan bekerja pada pekerjaan yang tidak membutuhkan gelar sarjana.
Tingkat setengah pengangguran lulusan teknik komputer tercatat 15,84%, sedangkan teknik kimia mencapai 17,86%. Pada lulusan ilmu komputer, angkanya sebesar 19,13%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa potensi pendapatan tinggi tidak selalu berjalan seiring dengan tingkat pengangguran yang rendah. Setiap jurusan memiliki kondisi pasar kerja yang berbeda.
Oleh karena itu, calon mahasiswa perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar angka gaji ketika memilih jurusan. Peluang kerja, kebutuhan industri, biaya pendidikan, dan kecocokan kemampuan juga berpengaruh terhadap hasil setelah lulus.
Penulis: Reihan Cahya (Magang)