Universitas asal Hong Kong dan Cina mendominasi dalam peringkat terbaru QS World University Rankings Asia Pasifik yang baru saja diluncurkan di acara Higher Ed Summit di Bali, 3-5 November 2026.
Dalam pemeringkatan tahun ini, QS meranking lebih dari 1.720 perguruan tinggi di 26 negara Asia Pasifik. The University of Hong Kong memuncaki peringkat tahun ini diikuti oleh Peking University dan Thinghua University dari Cina. Dari Indonesia, 116 perguruan tinggi masuk dalam ranking QS, meskipun tidak ada yang masuk dalam 10 besar. Sebanyak 22 kampus di Indonesia juga tercatat masuk perdana dalam sistem ranking QS periode 2027.
CEO QS, Jessica Turner mengatakan kampus-kampus di Hong Kong dan Cina mendominasi karena didukung oleh anggaran jumbo untuk riset, teruatam di bidang AI. Menurut Stanford AI Index Report sendiri, Cina disebut menghasilkan riset-riset terkait AI dan STEM terbanyak di dunia.
Hasilnya, perguruan tinggi dari Cina dan Hong Kong ini menembus peringkat 20 besar dunia pada 2026, yang mana dulunya masih didominasi perguruan tinggi Eropa maupun AS. The University of Hong Kong misalnya, menempati ranking ke-11 di dunia, sedangkan Peking University menempati urutan ke-13 dunia.
“Kesuksesan perguruan tinggi di Cina karena banyak kampus yang benar-benar fokus pada jumlah penelitian yang dihasilkan,” kata Turner.
Berikut ini daftar 10 besar QS Ranking untuk Asia Pasifik:
- The University of Hong Kong (Hong Kong)
- Peking University (Cina)
- Tsinghua University (Cina)
- City University of Hong Kong (Hong Kong)
- The Chinese University of Hong Kong (Hong Kong)
- National University of Singapore (Singapura)
- Fudan University (Cina)
- Nanyang Technological University (Singapura)
- The Hong Kong University of Science and Technology (Hong Kong)
- The Hong Kong Polytechnic University (Hong Kong)
Adaptasi AI
Dalam rangkaian acara yang sama, QS menekankan urgensi adaptasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) untuk mempersiapkan anak muda dalam dunia kerja dewasa ini. Menurut Jessica Turner, dunia perguruan tinggi di seluruh dunia saat ini sedang dalam tekanan. Perguruan tinggi dituntut untuk bisa membekali murid-muridnya dengan kemampuan yang berubah sangat cepat karena perkembangan teknologi dan AI.
“Teknologi mengubah lapangan pekerjaan, teknologi mengubah cara kita belajar dan melakukan riset,” kata Turner dalam salah satu rangkaian acara QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali, Selasa (3/11).
Pada saat yang sama, Turner menyorot banyaknya anak muda di seluruh dunia yang merasa digantung dengan masa depan yang tidak pasti karena situasi tingginya pengangguran anak muda (youth unemployment).
“Kita melihat situasi protes memuncak di Eropa dan negara-negara lainnya. Perguruan tinggi perlu membuktikan bahwa pembekalan ke anak muda bisa membuat mereka bertahan melewati ini dan bahwa edukasi tetap relevan untuk masa depan mereka,” kata Turner.
Menurut riset QS Generative AI Pulse Survey 2025, akademisi Asia Pasifik memang rata-rata lebih banyak menggunakan GenAI dibandingkan wilayah Eropa maupun Amerika Utara. Baik penggunaan untuk mengajar, belajar, maupun untuk membuat desain penilaian. Hal ini menunjukkan bahwa akademisi di Asia Pasifik tidak hanya menjadikan AI sebagai bahan diskusi, tetapi sebagai alat untuk mendorong aktivitas kegiatan akademik.
Alih-alih membatasi penggunaan AI karena risikonya, QS menyebut kalangan akademisi ini justru mengintegrasikan literasi AI, desain penilaian, sampai penerapan di kelas sembari mendiskusikan penggunaan AI yang lebih bertanggung jawab.
“Hal ini penting karena literasi AI kini menjadi keterampilan mendasar, baik bagi mahasiswa maupun staf,” tulis riset.
Apalagi, riset juga menyebut bahwa AI bakal mengubah kualifikasi yang dibutuhkan industri lintas sektor, mendorong perguruan tinggi untuk menyelaraskan pembelajaran kampus dengan kebutuhan industri yang semakin berkembang.
“Berdasarkan riset kami, kemampuan untuk bisa menyelaraskan kebutuhan lapangan pekerjaan dengan kapasitas lulusan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara per 2035,” kata Turner.