Indonesia Bidik Potensi Ekonomi Rp 40,5 Triliun dari Inovasi Biosolusi
Pengembangan biosolusi atau produk kombinasi biologi dan teknologi di RI berpotensi membuka peluang baru bagi industri pangan dan energi. Ini lantaran sektor ini berpotensi menghasilkan nilai ekonomi US$ 2,23 miliar atau setara Rp 40,5 triliun pada 2035
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A. A. Teguh Sambodo, menilai pemanfaatan biosolusi dapat membantu meningkatkan produktivitas dan nilai tambah pertanian tanpa harus bergantung memperluas lahan.
Ia juga mengatakan upaya ini penting di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memunculkan tantangan dalam pengembangan area pertanian.
Oleh sebab itu, Indonesia perlu mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian yang sudah tersedia melalui intensifikasi. Langkah ini mencakup peningkatan produktivitas setiap hektare lahan agar hasil panen dan nilai tambah komoditas pertanian dapat meningkat.
“Biosolutions artinya solusi yang ditawarkan oleh kekayaan biologis kami ini kemudian digunakan lagi untuk menciptakan peningkatan produktivitas per hektar,” kata Leo dalam konferensi pers Peluncuran Laporan “The Value of Biosolutions in Indonesia” di Jakarta, Rabu (28/10).
Selain sektor pangan, Leonardo menyebut sektor energi sebagai bidang potensial pengembangan biosolusi, terutama untuk mendukung transisi energi melalui pemanfaatan biofuel. Menurutnya, biofuel menjadi salah satu opsi yang terjangkau bagi Indonesia sebab komponen utama energi surya masih bergantung impor.
Ia mengatakan Indonesia bisa memanfaatkan biomassa sebagai sumber energi, baik melalui pembakaran langsung maupun pengolahan menjadi biofuel.
Pengembangan ini juga sejalan dengan rencana peningkatan campuran bioetanol dalam bahan bakar, dari E5 pada 2026 menjadi E10 pada 2027 dan E20 pada 2028. "Ini adalah yang paling relevan dan affordable teknologinya untuk Indonesia," kata Leonardo.
Lebih lanjut, Leonardo menilai pengembangan biofuel perlu didukung diversifikasi bahan baku agar tidak bergantung pada satu komoditas. Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan bahan baku alternatif selain tebu untuk memproduksi bioetanol.
Selain itu pemanfaatan kelapa sawit juga dihadapi tantangan. Hal itu karena komoditas itu harus memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku biodiesel dan minyak goreng hingga pasar ekspor.
“Sehingga kemudian biosolutions ini bisa menempatkan teknologinya di berbagai komoditas tapi menghasilkan produk yang sama, misalnya bioetanol. Bisa dari sorgum, bisa dari jagung, bisa dari lain-lain,” kata Leonardo.
Leonardo menilai langkah ini relevan bagi Indonesia karena teknologinya relatif terjangkau, baik untuk diterapkan maupun dari sisi biaya.
Country Manager Novonesis Indonesia, Ang Yonny Setiady mengatakan biosolusi bisa biasa ditemukan di kehidupan sehari-hari, mulai dari roti hingga detergen. Ia mengatakan aplikasi biosolutions total memiliki 700 aplikasi di 30 industri, salah satunya adalah yogurt ambient.
Selain yogurt, contoh penerapan biosolusi di Indonesia lainnya adalah produksi medium-chain triglyceride (MCT) oil yang menggunakan turunan kelapa sawit sebagai bahan baku. Produk ini dihasilkan melalui pengolahan fatty acid C8 dan C10 dari industri oleokimia. I
“Makanya dibilang MCT itu bisa juga buat diet, ini energy boost tapi tanpa kalori," katanya.
Adapun laporan The Value of Biosolutions: Growth and Prosperity Indonesia Edition memperkirakan sektor biosolusi di Indonesia berpotensi menghasilkan nilai ekonomi US$ 2,23 miliar pada 2035. Potensi ini juga dapat mendorong penciptaan lapangan kerja hingga hampir tiga kali lipat dalam periode yang sama.
Selain menciptakan lapangan kerja secara langsung, setiap pekerjaan baru di sektor biosolusi diperkirakan mendukung terciptanya 3,8 pekerjaan tambahan di sektor ekonomi lain, terutama pertanian dan sistem pangan.