Saham BTPN Terdongkrak Akuisisi Sumitomo

KATADATA | Agung Samosir
KATADATA | Agung Samosir
Penulis:
Editor: Arsip
13/5/2013, 11.11 WIB

KATADATA ? Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) membeli 24,3 saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN). Bank asal Jepang itu akan menambah kepemilikan hingga 40 persen (senilai Rp 14,2 triliun).

SMBC merupakan anak usaha Sumitomo Mitsui Financial Group (SMF), bank terbesar ketiga di Jepang. Akuisisi yang disepakati pada 8 Mei itu menetapkan harga akusisi Rp 6.500 per saham atau premium 12 persen dari harga penutupan saham BTPN di Bursa Efek Indonesia pada 7 Mei sebesar Rp 5.800.

Akuisisi tahap pertama sebesar 24,26 persen itu mencapai Rp 9,2 triliun. Akuisisi dilakukan terhadap saham milik TPG Nusantara dan publik. Pada tahap kedua, SMBC akan mengakuisisi 15,74 persen saham BTPN, yang harganya menunggu persetujuan otoritas perbankan, termasuk Bank Indonesia (BI).

Managing Director and Head of Emerging Market Business Division Yayusuki Kawasaki mengatakan pihaknya tertarik dengan bisnis pensiunan dan microfinance yang dimiliki BTPN. BTPN juga dinilai memiliki kekuatan jaringan lokal dan nasabah. ?Dari sisi profit, BTPN konsisten memiliki RoE 31 persen dalam lima tahun terakhir,? ujarnya dalam media briefing Jumat 10 Mei 2013.

Manajemen SMBC mengatakan BTPN memiliki model bisnis yang unik dan menawarkan berbagai jasa keuangan yang fokus pada mass market. SMBC akan bekerja sama dengan BTPN untuk mendiversifikasi usahanya di Indonesia. Menurut mereka, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat dan berkelanjutan. Hal itu didorong oleh populasi yang besar dan pesatnya pertumbuhan masyarakat kelas menengah.

Saham BTPN dikuasai oleh Texas Pacific Group (TPG) sebesar 57,87 persen atau 3,3 juta lembar saham. Sisanya 42,13 persen (2,4 juta lembar) dimiliki publik.

Dengan akuisisi tersebut, TPG masih menjadi pemegang saham utama. TPG merupakan lembaga investasi dari Amerika dengan portofolio aset lebih dari US$60 miliar di berbagai indusri termasuk di sektor keuangan.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan BTPN Anika Faisal mengungkapkan, pihaknya telah menerima surat dari pemilik saham (TPG Nusantara) terkait penjualan 16,87 persen saham BTPN kepada SMBC. Penjualan saham tahap pertama itu tidak mengakibatkan perubahan pemegang saham pengendali BTPN, karena TPG Nusantara masih memiliki lebih 41 persen saham.

Tak pelak, aksi korporasi itu mendongkrak pasar saham pada Jumat, 10 Mei 2013. Tercatat saham BTPN naik 100 poin (1,75 persen) menjadi 5.800.  Akuisisi ini juga melambungkan nilai transaksi, termasuk oleh CIMB Securities Indonesia dan Kim Eng Securities di pasar negosiasi. Total nilai transaksi mencapai Rp6,5 triliun.

Kenaikan itu juga memicu kembali rekor indeks harga saham gabungan (IHSG) yang naik 16,6 poin (0,33 persen) ke rekor tertinggi baru di level 5.105,93 pada penutupan Jumat.

Sejak awal tahun, saham BTPN terus menanjak mendekati level 6000. Setelah sempat melemah di bulan Februari di kisaran 4.600-4.900. Selama setahun, saham BTPN mengalami kenaikan 63,01 persen, dari level 3.650 pada 11 Mei 2012 hingga di level sekarang 5.800.

Sepanjang 2012, total aset BTPN mencapai Rp 59,1 triliun atau tumbuh 27 persen dibanding 31 Desember 2011 sebesar Rp 46,7 triliun. BTPN membukukan laba bersih sebesar Rp 2 triliun atau naik 41,4 persen dibanding 2011 sebesar Rp 1,4 triliun. Laba bersih per saham (earning per share) naik Rp 94 (38 persen) dari Rp 247 menjadi Rp 341. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 21,5 persen.

Reporter: Nur Farida Ahniar