PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) tengah menyusun ulang langkah bisnis. Dalam beberapa waktu terakhir, manajemen melepas beberapa lini usaha mulai dari bisnis selai (Blue Band) dan bisnis es krim (Walls dan Magnum).
Dalam aksi terbaru, raksasa perusahaan consumer goods itu menjual bisnis teh bermerek Sariwangi senilai Rp 1,5 triliun kepada PT Savoria Kreasi Rasa yang terafiliasi dengan grup Djarum. Peralihan diperkirakan rampung pada 2 Maret 2026.
Menurut analis CGS International Sekuritas Indonesia, Baruna Arkasatyo, langkah divestasi UNVR kemungkinan bagian dari upaya perusahaan untuk menyempurnakan portofolio bisnisnya. Apalagi fokusnya kini pada lini yang menawarkan potensi pertumbuhan terbesar dan nilai jangka panjang.
Arkasatyo melihat divestasi yang dilakukan Unilever sebelumnya seperti melepas bisnis selai Blue Band dan es krim Walls maupun Magnum dipicu oleh beberapa alasan. Salah satu alasan adalah melambatnya pertumbuhan pendapatan di beberapa lini.
Hal lain yang menurut Arkasatyo menjadi pertimbangan adalah upaya memaksimalkan imbal hasil bagi pemegang saham dengan merealisasikan investasi lama. Adapun alasan ketiga adalah menjalankan mandat dari induk global, Unilever (ULVR LN).
Dari sisi valuasi, ia mengatakan Sariwangi dijual dengan rasio harga terhadap laba (P/E) sebesar 10,8 kali, lebih rendah dibandingkan valuasi UNVR secara keseluruhan yang diperkirakan sekitar 22 kali untuk 2026. Berdasarkan laporan UNVR ke bursa, bisnis Sariwangi hanya menyumbang sekitar 2,7% dari total pendapatan dan 3,1% dari laba bersih per September 2025.
CGS International Sekuritas menilai penjualan Sariwangi tidak akan berdampak besar terhadap kinerja keuangan UNVR sebab porsinya relatif kecil.
“Oleh karena itu, kami memangkas perkiraan laba per saham untuk tahun buku 2026–2027 hanya sebesar 2,3–2,4% untuk mencerminkan divestasi Sariwangi,” demikian tertulis dalam risetnya, dikutip Selasa (13/1).
Dampak ke Kinerja UNVR
Lebih jauh, CGS International Sekuritas Indonesia menilai penjualan bisnis Sariwangi tidak akan berdampak besar terhadap laba UNVR. Maka dari itu ia merekomendasikan beli untuk sahamnya. Ia memproyeksikan kinerja penjualan UNVR bakal pulih berkat transformasi bisnisnya untuk meredam dampak boikot sejak Oktober 2023.
Selain itu, saham UNVR juga menawarkan imbal hasil dividen yang menarik, diperkirakan berada di kisaran 5–8% untuk periode 2025–2027. Apabila tidak memasukkan bisnis es krim dan Sariwangi, penjualan UNVR diperkirakan akan kembali tumbuh secara kuartalan pada kuartal keempat 2025.
CGS tetap mematok target harga UNVR di Rp 2.900 per saham berdasarkan metode discounted cash flow (DCF). Adapun kedepannya katalis yang berpotensi mendorong kenaikan valuasi saham UNVR antara lain peningkatan pangsa pasar serta turunnya biaya bahan baku, yang dapat memperbaiki margin keuntungan perusahaan.
“Downside risks penurunan lebih lanjut dalam pertumbuhan konsumsi di Indonesia yang dapat menekan penjualan dan meningkatnya persaingan di industri FMCG,” tambahnya.
CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan UNVR akan mencatat keuntungan satu kali (one-off) sekitar Rp 3,9 triliun pada 2025 dari pemisahan bisnis es krim yang rampung pada 8 Desember 2025. Angka ini berasal dari nilai transaksi Rp 7 triliun, dikurangi nilai buku bisnis es krim sekitar Rp 2 triliun dan dikurangi lagi Rp 1,1 triliun untuk PPN.
Tak hanya itu spin-off bisnis es krim ini berpotensi menghasilkan dividen spesial dengan imbal hasil sekitar 3,9%. Selain itu, penjualan bisnis Sariwangi diperkirakan memberi keuntungan bersih sekitar Rp 817 miliar. Jika seluruhnya dibagikan sebagai dividen spesial, maka akan setara dengan imbal hasil sekitar 0,8%.
“Menggabungkan dividen akhir FY25F UNVR (biasanya didistribusikan pada bulan Juni) dan dividen spesial dari spin-off bisnis es krim serta divestasi Sariwangi, kami memperkirakan total imbal hasil dividen sekitar 5.8%,” ucapnya.