Indosat (ISAT) Bersiap Ikut Lelang Pita Frekuensi Komdigi, Intip Skenarionya

ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/wpa.
Warga mengakses aplikasi myIM3 di Labuhan Badas, Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, NTB, Rabu (29/5/2024). Indosat Ooredoo Hutchison memperluas jangkauan dan peningkatan kualitas jaringannya lewat IM3 dan Tri dengan penambahan BTS 4G baru hingga naik 29 persen di NTB dan NTT yang mencapai lebih dari 1.400 sites per April 2024.
Penulis: Karunia Putri
5/5/2026, 19.00 WIB

Emiten telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) menyatakan kesiapannya untuk mengikuti lelang frekuensi yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Adapun pemerintah telah resmi membuka proses seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz untuk penyelenggaraan jaringan bergerak seluler pada 2026.

Presiden Direktur Indosat Vikram Sinha mengatakan pihaknya tengah mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam kedua lelang tersebut. Dia mengatakan ISAT mengapresiasi langkah Komdigi dalam menyelenggarakan proses lelang yang dinilai lebih terstruktur dan transparan.

“Karena itu, kami sedang mempersiapkan diri untuk memastikan dapat berpartisipasi dalam lelang frekuensi 2,6 GHz maupun 700 MHz,” ujar Vikram dalam paparan publik ISAT di Jakarta, Selasa (5/5).

Menurut dia, penurunan biaya spektrum dan harga dasar lelang menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri telekomunikasi dan ekonomi digital nasional.

“Kini kami melihat ada sejumlah koreksi terhadap hal tersebut. Ini akan sangat membantu perkembangan ekonomi berbasis kecerdasan buatan (AI) maupun ekonomi digital, yang sangat penting bagi Indonesia,” kata Vikram.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut berpotensi mendorong percepatan transformasi digital di Indonesia. Kendati demikian, dia tidak menyampaikan akan mengikuti lelang untuk frekuensi 700MHz atau 2,6 GHz.

Komdigi Buka Seleksi Frekuensi

Sebelumnya, Komdigi resmi mengumumkan pembukaan seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz. Kementerian menyebut langkah ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi spektrum frekuensi untuk memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan kualitas layanan mobile broadband di seluruh Indonesia.

“Langkah strategis ini diambil sebagai upaya pemerintah dalam mengoptimalisasi sumber daya spektrum frekuensi guna mendorong perluasan jangkauan dan peningkatan kualitas layanan mobile broadband di seluruh wilayah Indonesia,” tulis Kementerian Komdigi dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (23/4) malam.

Proses seleksi tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta Rencana Strategis Komdigi 2025–2029.

Tujuannya untuk menambah ketersediaan spektrum bagi operator seluler guna mempercepat pemerataan akses internet berkualitas. Adapun pita frekuensi yang ditawarkan dalam seleksi tersebut meliputi:

  • Pita 700 MHz dengan rentang 703–738 MHz (uplink) yang dipasangkan dengan 758–793 MHz (downlink) dengan total lebar pita 70 MHz (2x35 MHz)
  • Pita 2,6 GHz dengan rentang 2500–2690 MHz dan total lebar pita 190 MHz

Frekuensi tambahan ini dinilai penting untuk mendukung peningkatan kapasitas jaringan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan layanan data dan pengembangan teknologi berbasis AI di Indonesia.

Apa Kabar Perusahaan Patungan Arsari Group Fiberco?

Seiring dengan langkah terbaru, ISAT menyampaikan perkembangan perusahaan patungan yang didirikannya bersama perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo bernama Fiberco.

Direktur ISAT Nicky Lee mengatakan, untuk saat ini perkembangan mengenai Fiberco belum dapat disampaikan karena ISAT merupakan perusahaan publik. Ia menyebut setiap aksi korporasi akan disampaikan di keterbukaan informasi terlebih dahulu. Namun dia menyatakan akan menyampaikan perkembangannya nanti.

"Jadi sampai sekarang belum ada yang bisa kita update lagi," ujarnya.  Dia pun belum bisa menjawab apakah Fiberco sudah memiliki rencana akan melantai di bursa dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Entitas bisnis milik adik Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo yaitu Arsari Group menggandeng Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan Northstar Group untuk membangun perusahaan infrastruktur serat optik. Kerja sama dilakukan dengan skema kemitraan strategis dengan membuat perusahaan patungan bernama FiberCo. 

Lewat kerja sama ini ketiga perusahaan mendirikan FiberCo dengan nilai perusahaan mencapai Rp 14,6 triliun. Deputy CEO and COO Arsari Group, Aryo PS Djojohadikusumo mengungkap kerja sama ini akan memberikan dampak jangka panjang untuk ketiga entitas bisnis. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri