Membaca Arah Tender Offer Pasca Integrasi BDMN dan MUFG, Potensi Harga Premium?
Rencana integrasi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dengan raksasa finansial asal Jepang MUFG Indonesia kini menjadi perhatian investor. Pasalnya, aksi korporasi tersebut membuka peluang pelaksanaan tender offer (sukarela) bagi investor yang tidak menyetujui aksi tersebut.
Ketentuan itu diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 41/POJK.03/2019 tentang penggabungan, peleburan, pengambilalihan, integrasi dan konversi Bank Umum. Dalam beleid disebutkan bahwa pemegang saham bank penerima integrasi yang tidak menyetujui keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) berhak meminta sahamnya dibeli dengan harga yang wajar.
“Pemegang saham Bank penerima Integrasi yang tidak setuju terhadap keputusan RUPS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51, hanya dapat menggunakan hak untuk meminta sahamnya dibeli dengan harga yang wajar oleh Bank,” seperti yang tertulis dalam POJK tersebut.
Ketentuan ini menarik perhatian pelaku pasar karena tender offer kerap dilakukan dengan harga premium, seperti yang pernah terjadi pada aksi korporasi serupa sebelumnya. Lantas bagaimana potensi harga tender offer MUFG dan BDMN?
Potensi Harga Tender Offer MUFG-BDMN
Analis Panin Sekuritas cabang Pondok Indah Elandry Pratama menilai peluang tender offer dengan harga premium tetap terbuka. Namun besarannya kemungkinan tak akan terlalu tinggi mengingat posisi MUFG saat ini sudah sangat dominan di struktur kepemilikan Danamon.
“Jadi jika nantinya terjadi tender offer, tujuannya kemungkinan lebih ke penyesuaian struktur kepemilikan dan integrasi pasca penggabungan operasional,” ujar Elandry kepada Katadata, Rabu (13/5).
Menurut dia, harga tender offer umumnya mempertimbangkan rata-rata harga pasar, valuasi perbankan serta fairness opinion dari penilai independen. Meski begitu, fundamental BDMN yang dinilai solid tetap membuka peluang adanya premi tertentu.
Melihat ke depan, Elandry menyatakan prospek saham BDMN dalam jangka menengah hingga panjang cenderung positif. Integrasi dengan MUFG dinilai dapat memperkuat pendanaan, memperbesar peluang ekspansi bisnis korporasi maupun ritel, serta meningkatkan efisiensi dan skala usaha perseroan.
Meski demikian, ia memperkirakan pergerakan saham BDMN dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif seiring perkembangan aksi korporasi dan keputusan regulator terkait proses integrasi tersebut.
Elandry juga mengingatkan bahwa saham emiten Indonesia yang mayoritas sahamnya telah dikuasai investor asing umumnya cenderung bergerak lebih stabil dibandingkan sebelum akuisisi.
Pandangan lebih optimis diberikan Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian. Dia menilai tender offer yang berpotensi dilakukan MUFG terhadap BDMN bisa mengulang skenario tujuh tahun lalu, saat MUFG mengakuisisi saham milik Temasek pada 2019 dengan valuasi super premium.
Menurut dia, peluang penerapan skema serupa cukup terbuka mengingat fundamental kedua bank yang sama-sama kuat.
“Kalau dihitung secara kasar, valuasi BDMN sekarang kan masih tertahan di area 0,8x PBV, jadi kalau misal harga tender dipatok minimal di PBV 1x saja, itu target harganya ada di kisaran Rp 5.460, alias masih ada ruang upside sekitar 23% dari harga sekarang,” ujarnya.
Ia menambahkan, target harga tersebut masih bisa lebih tinggi apabila pasar mengacu pada histori tender offer premium yang pernah terjadi sebelumnya.
Menurut Azharys, apabila tender offer diumumkan, pergerakan saham BDMN berpotensi langsung menyesuaikan ke level harga penawaran karena pasar umumnya mengapresiasi valuasi premium.
Pada perdagangan hari ini, harga saham BDMN terpantau naik 0,23% ke Rp 4.400 per saham sejak awal tahun atau year to date, harga sahamnya melonjak 78,14%.
Sebelumnya, BDMN mengumumkan langkah integrasi atau menggabungkan kegiatan operasional usahanya dengan MUFG Bank Ltd Jakarta Branch atau MUFG Indonesia. Aksi korporasi itu ditargetkan efektif pada 2027.
Untuk tujuan tersebut, Danamon dan MUFG Indonesia menandatangani nota kesepakatan pada hari ini, Senin (11/5). Melalui penggabungan itu, Danamon dan MUFG Indonesia ingin mengoptimalkan kekuatan bisnis, keahlian, serta jaringan global dan domestik yang dimiliki masing-masing entitas.
Manajemen BDMN berharap dari aksi tersebut dapat membentuk salah satu institusi finansial global terbesar di Indonesia dengan jangkauan layanan nasabah yang lebih luas.
Selain memperluas layanan keuangan, integrasi itu juga diproyeksikan mampu memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan. Penggabungan usaha itu juga diharapkan mendukung pertumbuhan industri jasa keuangan nasional dan perekonomian Indonesia.
Saat ini, perusahaan mulai menyiapkan proses awal sebelum menandatangani perjanjian definitif pada tahap berikutnya. Nanti, struktur penggabungan usaha akan dituangkan dalam rancangan integrasi yang diajukan kepada regulator, diumumkan kepada publik, hingga meminta persetujuan pemegang saham sesuai ketentuan yang berlaku.
Danamon adalah bank umum swasta yang berdiri sejak 1956 dan menjadi entitas anak konsolidasian MUFG Bank Ltd sejak 2019. Hingga akhir 2025, Danamon membukukan total aset konsolidasian sebesar Rp 275,7 triliun.
Perseroan ditopang jaringan bisnis yang mencakup layanan bank konvensional, unit usaha syariah, serta pembiayaan melalui anak usaha, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance. Danamon juga memiliki basis nasabah mulai dari korporasi, usaha kecil dan menengah (UKM), hingga ritel.
Sementara itu, MUFG Indonesia yang telah beroperasi di Indonesia sejak 1968 mencatatkan total aset Rp207 triliun per akhir 2025. Saat ini, MUFG Indonesia fokus melayani nasabah korporasi besar, termasuk perusahaan Indonesia, Jepang, dan multinasional yang beroperasi di dalam negeri.