Emiten Indomaret (DNET) Buka Suara soal Penutupan Gerai di Lombok
Emiten pengelola jaringan ritel modern Indomaret, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), buka suara terkait kabar penutupan sejumlah gerai minimarketnya di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Perseroan menyatakan langkah tersebut tidak berkaitan dengan kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang belakangan menjadi perhatian publik.
Manajemen DNET menyampaikan, penutupan atau penyesuaian operasional gerai di wilayah tertentu merupakan bagian dari evaluasi bisnis rutin dan kepatuhan terhadap regulasi daerah, termasuk aspek perizinan serta tata ruang.
"Hingga saat ini, perseroan menilai model usaha KDMP memiliki segmen dan karakteristik tersendiri sehingga belum berdampak secara langsung terhadap kegiatan usaha entitas asosiasi perseroan," tulis manajemen DNET dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/6).
Manjemen DNET menyatakan, KDMP menjadi bagian dari program pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 dan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025. Namun hingga saat ini, DNET menilai model bisnis KDMP memiliki segmen pasar dan karakteristik yang berbeda dengan ritel modern.
Karena itu, kehadiran KDMP dinilai belum memberikan dampak langsung terhadap kegiatan usaha entitas asosiasi perseroan, termasuk jaringan gerai Indomaret.
DNET juga memastikan keberadaan KDMP belum memengaruhi rantai pasok maupun distribusi produk perusahaan. Menurut manajemen, jaringan distribusi yang dimiliki entitas asosiasi masih berjalan normal dan didukung oleh hubungan kerja sama yang kuat dengan para pemasok.
Perseroan menyatakan akan terus melakukan evaluasi operasional secara berkala guna menjaga kelancaran distribusi barang serta memastikan ketersediaan produk bagi konsumen di seluruh wilayah operasional.
Selain itu, DNET menilai industri ritel modern nasional masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar seiring meningkatnya konsumsi masyarakat dan semakin luasnya akses layanan ritel di berbagai daerah.
Siapkan Strategi untuk Area Pedesaan
Menanggapi potensi persaingan di wilayah pedesaan, perseroan menyatakan akan terus menyesuaikan strategi bisnis sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.
Manajemen menyebut evaluasi operasional dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kualitas layanan, ketersediaan produk, serta daya saing gerai di kawasan rural maupun perkotaan.
Apabila di masa mendatang terdapat perkembangan yang berdampak terhadap operasional gerai di wilayah pedesaan atau kelurahan, DNET bersama entitas asosiasinya akan melakukan penyesuaian strategi usaha secara adaptif.
"Perseroan akan terus menjalankan kegiatan usaha secara prudent dan adaptif guna menjaga keberlangsungan serta daya saing usaha," tulis manajemen.
Terkait kemungkinan kolaborasi dengan Koperasi Desa Merah Putih, DNET menyatakan hingga saat ini belum terdapat komunikasi formal maupun penjajakan kerja sama yang bersifat material dengan pengelola KDMP.
Perseroan menegaskan akan menyampaikan kepada publik apabila di kemudian hari terdapat kerja sama atau informasi material yang dapat memengaruhi kegiatan usaha maupun kondisi perusahaan.
"Sampai dengan tanggal surat ini, perseroan belum memiliki komunikasi formal, rencana maupun penjajakan kerja sama strategis yang bersifat material dengan pihak pengelola KDMP," ujar manajemen.
Sebelumnya, pemerintah pernah meminta ritel modern tidak lagi menambah gerai baru di wilayah pedesaan. Imbauan tersebut sebelumnya disampaikan melalui Kementerian Koperasi.
Menurut Menkop Ferry, imbauan itu sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi KDMP agar menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa. Pemerintah ingin koperasi mengambil peran utama dalam distribusi barang kebutuhan sehari-hari di tingkat lokal.
“Jadi saya pernah ketemu dengan yang punya ritel modern yang sebelah sana, saya bilang setop bikin ritel modern di desa, biarkan di desa itu si koperasi desa yang jualan ritel barang-barangnya,” kata Ferry dalam kanal YouTube IDN Times, dikutip Jumat (20/2).
Ferry menilai terdapat perbedaan mendasar antara ritel modern dan koperasi desa, terutama dalam hal aliran keuntungan. Jika gerai modern beroperasi di desa, keuntungan usaha dinilai lebih banyak mengalir ke pemegang saham di kota besar.
Sebaliknya, koperasi memungkinkan perputaran uang tetap berada di lingkungan desa dan dinikmati kembali oleh masyarakat setempat.