Pengusaha Andi Syamsudin Arsyad alias Haji Isam kembali menambah jumlah saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang akan diakuisisi melalui PT Jhonlin Baratama. Berdasarkan perubahan perjanjian jual beli saham bersyarat, jumlah saham yang akan dicaplok bertambah 84,09 juta saham menjadi 10,08 miliar saham.
Manajemen Bayan Resources mengatakan jumlah saham biasa perusahaan yang akan dialihkan kepada PT Jhonlin Baratama bertambah menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham. Meski begitu, manajemen belum mengungkapkan di harga berapa nilai aksi korporasi itu.
Apabila dikalkulasikan, jumlah saham yang akan diakuisisi bertambah sebanyak 84.087.870 saham. Perubahan ini merupakan bagian dari perubahan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) yang ditandatangani Dato' Low Tuck Kwong dan Elaine Low bersama PT Jhonlin Baratama pada 1 Oktober 2026.
“Setelah penyelesaian transaksi dan terpenuhinya seluruh syarat pendahuluan, Haji Isam akan memiliki 10.084.088.370 saham biasa BYAN,” tulis manajemen BYAN, Selasa (6/10).
Merujuk laporan Bloomberg, Haji Isam sebelumnya bahkan disebut tengah bernegosiasi untuk mengakuisisi 62% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Nilai penawarannya dinilai mencapai sekitar US$ 3 miliar atau Rp 52,65 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.550 per dolar AS. Entitas yang dikendalikan Haji Isam disebut tengah mengajukan penawaran tunai kepada perusahaan tambang batu bara yang dimiliki miliarder Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low.
“Pembayaran kemungkinan akan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus, kesepakatan dengan harga tersebut akan mewakili diskon sekitar 80% dari level pasar saat ini,” kata sumber Bloomberg seperti dikutip Rabu (9/9)
Sebelumnya crazy rich Kalimantan itu akan mengambil 30% atau sebanyak 10 miliar lembar saham emiten tambang batu bara milik orang terkaya nomor satu di Indonesia, Low Tuck Kwong.
Terkait perubahan susunan direksi dan dewan komisaris setelah transaksi, manajemen BYAN menyatakan belum memiliki rencana untuk melakukan perubahan tersebut. Perseroan juga belum menerima permintaan dari pemegang saham utama untuk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terkait perubahan susunan pengurus.
BEI juga meminta penjelasan mengenai strategi perseroan dalam mempertahankan dan mengembangkan bisnis utama, rencana peningkatan produksi atau kapasitas operasional setelah memperoleh persetujuan RKAB, belanja modal, investasi, ekspansi, diversifikasi usaha, kerja sama strategis, hingga potensi sinergi dengan PT Jhonlin Baratama dan kelompok usahanya.
Namun, manajemen BYAN menyatakan belum dapat memberikan komentar terkait hal itu karena transaksi belum rampung. Perseroan juga tidak terlibat dalam proses transaksi sehingga belum ada pembahasan dengan PT Jhonlin Baratama mengenai rencana perseroan setelah transaksi selesai.
“Pembahasan dan negosiasi transaksi dilakukan oleh para penjual dan tidak melibatkan Perseroan, Direksi dan Komisaris Perseroan selain Dato' Low Tuck Kwong,” ucap manajemen BYAN.