Margin Tertekan, Cimory (CMRY) Siap Naikkan Harga Produk Susu?

Instagram/@cimoryindonesia
Ilustrasi produk susu UHT merek Cimory.
Editor: Ahmad Islamy
4/11/2026, 14.24 WIB

Pemulihan margin laba dinilai berpotensi menjadi katalis bagi saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) atau Cimory. Potensi itu muncul setelah perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Tercatat, CMRY membukukan pendapatan sebesar Rp 3,5 triliun pada kuartal III 2026, tumbuh 27% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kedua segmen bisnis perseroan.

Segmen dairy products mencatatkan kenaikan pendapatan 45% YoY menjadi Rp 1,6 triliun. Sementara itu, pendapatan segmen consumer foods tumbuh 15% YoY menjadi Rp 1,9 triliun.

Kendati CMRY mencatat laba bersih Rp 546 miliar pada kuartal III 2026, angka itu turun 10% YoY dan 11% secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ).

Secara kumulatif, laba bersih perseroan mencapai Rp 1,7 triliun sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 6% YoY. Capaian tersebut setara sekitar 75% dari estimasi konsensus untuk keseluruhan 2026.

Investment Analyst Stockbit, Amara Beatrice Silalahi mengatakan, tekanan profitabilitas terutama terlihat pada penyusutan margin laba kotor dan margin laba usaha. Margin laba kotor CMRY turun 4,2 poin persentase menjadi 42,1% pada kuartal III 2026, dibandingkan 46,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi seiring kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 37% YoY. Kenaikan harga bahan baku dan kemasan, yang meningkat 30% YoY, menjadi salah satu faktor utama.

Tekanan juga terjadi pada margin laba usaha yang turun 6,4 poin persentase menjadi 17,9% pada kuartal III 2026, dari 24,3% pada kuartal III 2025. Kondisi itu dipengaruhi kenaikan beban operasional sebesar 40% YoY, terutama akibat peningkatan biaya iklan dan promosi (advertising and promotion/A&P) serta distribusi.

Kenaikan beban distribusi antara lain berkaitan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan ekspansi pengiriman produk ke luar wilayah Jawa-Bali. Adapun beban penjualan dan pemasaran masih berada dalam kisaran panduan manajemen sebesar 20%-22%.

Kenaikan Harga Produk Susu

Untuk memperbaiki profitabilitas, manajemen CMRY berencana menaikkan harga jual produk dairy products pada kuartal IV 2026. Langkah itu dilakukan setelah sejumlah kompetitor lebih dulu menaikkan harga jual produk mereka.

Manajemen tetap memperkirakan margin laba kotor sepanjang 2026 berada dalam kisaran panduan atau guidance 42%-44%. Perseroan juga mengindikasikan potensi pemulihan margin dari level saat ini pada kuartal IV 2026 atau kuartal I 2027.

Sementara itu, untuk segmen consumer foods, CMRY memilih tidak menaikkan harga produk yang sudah ada. Perseroan akan memperkenalkan produk baru yang memiliki posisi lebih premium.

Stockbit menilai pertumbuhan volume penjualan CMRY masih berlanjut. Pertumbuhan pendapatan selama sembilan bulan pertama 2026 dinilai sepenuhnya berasal dari peningkatan volume, sementara perseroan masih menahan kenaikan harga jual.

“Meski margin laba kotor tertekan dari biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah, hal ini sesuai dengan keputusan manajemen untuk menahan harga yang kemungkinan membantu menjaga momentum pertumbuhan,” kata Amara, dikutip pada Rabu (4/11).

Ke depan, Stockbit memperkirakan kenaikan harga jual dairy products dapat menjadi katalis ekspansi margin. Adapun segmen consumer foods berpotensi membaik seiring pemulihan produk ready-to-cook dan tambahan kapasitas dari pabrik baru.

“Ke depan, risiko utama yang kami cermati adalah volatilitas nilai tukar rupiah dan harga bahan baku yang dapat memperpanjang tekanan margin jika kenaikan harga tidak cukup mengkompensasi serta penundaan lebih lanjut pada pabrik consumer foods,” ujar Amara.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah