Ekonomi Masih Lesu, BNI Incar Bisnis Internasional Tumbuh Dua Digit
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) optimistis pada perkembangan bisnis internasional dengan membidik pertumbuhan laba operasional sebesar 20%. Target itu didukung oleh data Dana Moneter Internasional (IMF) yang memproyeksi ekonomi di negara berkembang tumbuh di kisaran 6%.
Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati mengatakan, selain data proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, perusahaan juga mempertimbangkan tren suku bunga rendah yang masih berlanjut pada 2021.
BNI diketahui memiliki delapan kantor cabang di luar negeri yang tersebar pada tujuh negara berbeda. Kantor cabang pertama di luar negeri berada di Singapura yang mulai dibuka pada 1955. Lalu, di Hong Kong pada 1963, Tokyo pada 1969, New York pada 1983, dan London pada 1984. Setelah itu ada Osaka pada 2012, Yangon pada 2015, dan terakhir Seoul pada 2016.
Meski menargetkan pertumbuhan bisnis Internasional, namun Adi tidak menampik ada sejumlah tantangan bagi bisnis luar negeri BNI, khususnya bisnis yang berasal dari Indonesia. "Sejalan dengan pemulihan ekonomi Indonesia yang belum signifikan," kata Adi dalam konferensi pers, Senin (26/4).
Fokus pertumbuhan kredit kantor cabang luar negeri BNI memang pada pembiayaan perusahaan Indonesia, khususnya kepada rantai nilai (value chain) grup perusahaan debitur di Indonesia.
Kinerja Bisnis Internasional Kuartal I 2021
Sampai Maret 2021, bisnis internasional BNI membukukan pertumbuhan bunga bersih sebesar 22% dibanding periode sama tahun lalu. Di sisi pendapatan non-bunga, BNI mencatatkan pertumbuhan bisnis transaksi perdagangan (trade finance) sebesar 19% secara tahunan.
Adi mengatakan, pertumbuhan bisnis internasional pada kuartal I 2021 ditunjang oleh pendapatan dari aktivitas maupun pertumbuhan trade finance di Indonesia. "Kami yakin pertumbuhan ini dapat dipertahankan, mengingat telah adanya pipeline bisnis 2021," kata Adi.
Inisiasi 2021 antara lain, pembentukan BNI sekuritas di Singapura yang targetnya dapat direalisasikan pada paruh kedua tahun ini. Begitu pula dengan bisnis remitansi, dimana sedang dalam tahap akhir pengembangan BNI Mobile remittance di Singapura dengan kapabilitas untuk melakukan pembayaran tagihan.
Pendapatan dari bisnis perbankan internasional BNI tumbuh 26,8% secara tahunan pada 2020 dibandingkan 2019. Hal tersebut bisa diraih berkat pendapatan dari kinerja kantor cabang BNI yang berhasil membukukan pertumbuhan kredit sebesar 25,76% secara tahunan.
"Pada akhir 2020, kredit kantor cabang luar negeri tersebut telah berkontribusi 51,1% dari kredit valuta asing BNI, dimana kantor cabang luar negeri telah menyumbang 10% dari total aset BNI," kata Adi Sulistyowati.
Pada 2020, kantor cabang luar negeri BNI juga mencatatkan pertumbuhan laba sebelum pajak sebesar 67,52% secara tahunan. Pertumbuhan laba ditunjang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income) dan pendapatan non bunga (fee based income) masing-masing 61,6% dan 49,7%.
"Tren suku bunga rendah dunia, dimanfaatkan kantor cabang luar negeri dengan menghimpun dana murah dari international funding, yang diperoleh dari aktivitas treasury," kata Adi.