Dana darurat perlu disiapkan untuk menghadapi berbagai kebutuhan mendesak, termasuk ketika bencana terjadi. Selain kehilangan pekerjaan atau kebutuhan medis mendadak, dana ini dapat digunakan untuk membiayai evakuasi, tempat tinggal sementara, kebutuhan selama mengungsi, memperbaiki rumah, atau mengganti barang penting yang rusak.
Perencana Keuangan Profesional Rista Zwestika mengatakan dana darurat harus dipisahkan dari tabungan untuk kebutuhan rutin maupun tujuan keuangan lainnya.
"Dana darurat adalah uang untuk kejadian yang tidak direncanakan, mendesak, penting, dan membutuhkan dana segera," kata Rista kepada Katadata.co.id, Rabu (30/9).
Contohnya kehilangan pekerjaan atau penghasilan, anggota keluarga yang membutuhkan perawatan mendadak, hingga bencana yang membuat keluarga harus mengungsi atau mengalami kerusakan tempat tinggal.
Sementara itu, biaya sekolah, mudik, liburan, pajak kendaraan, renovasi rumah yang sudah direncanakan, atau membeli kendaraan bukan termasuk dana darurat. Kebutuhan tersebut sebaiknya memiliki pos tabungan tersendiri karena sudah dapat diperkirakan.
Cara Menentukan Besaran Dana Darurat
Rista mengatakan patokan umum dana darurat adalah sekitar 6-12 bulan pendapatan. Untuk orang lajang sekitar enam kali pendapatan bulanan, pasangan menikah sembilan kali, dan keluarga yang memiliki anak sekitar 12 kali.
Dana itu tak harus dikumpulkan sekaligus. Masyarakat dapat menyisihkan 10%-20% penghasilan setiap bulan sesuai kemampuan hingga target tercapai.
Namun, saat risiko bencana meningkat, masyarakat juga perlu menyiapkan emergency buffer di luar dana darurat utama. Dana tambahan ini dapat digunakan untuk biaya evakuasi, tempat tinggal sementara, makanan dan air, obat-obatan, komunikasi, kebutuhan anak atau lansia, hingga mengganti barang penting yang rusak.
Kebutuhan dana darurat tidak bisa disamaratakan. Besarannya perlu disesuaikan dengan kondisi dan risiko masing-masing keluarga. Perencana keuangan sekaligus CMO Bitwewe Indonesia Aidil Akbar mengatakan target dana darurat juga dapat ditingkatkan saat kondisi krisis atau risiko bencana meningkat.
Menurut Aidil, dana darurat dapat dinaikkan sekitar 1,5-2 kali lipat dari kebutuhan normal. Misalnya, kebutuhan dana darurat tiga bulan dapat dinaikkan menjadi 4,5-6 bulan, sementara target enam bulan dapat menjadi 9-12 bulan.
“Adapun target 12 bulan dapat dinaikkan menjadi sekitar 18-24 bulan kebutuhan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Rabu (30/9).
Pilih Tempat Menyimpan Dana yang Mudah Dicairkan
Dana darurat sebaiknya disimpan di tempat yang mudah dicairkan dan relatif aman. Selain tabungan, dana bisa ditempatkan di deposito atau reksa dana pasar uang. Emas juga bisa menjadi pilihan dengan memahami risikonya.
Rista tidak menyarankan dana darurat seluruhnya ditempatkan di saham atau instrumen yang nilainya mudah naik turun. Sebab, saat membutuhkan dana, pasar bisa saja sedang turun sehingga investasi terpaksa dijual dalam kondisi rugi.
Selain itu, keluarga sebaiknya menyiapkan uang tunai secukupnya untuk kebutuhan beberapa hari setelah bencana. Uang tunai diperlukan jika listrik, ATM, internet, atau pembayaran digital mengalami gangguan.
Lengkapi dengan Asuransi
Dana darurat bisa dikumpulkan beriringan dengan keanggotaan asuransi. Menurut Rista, perlindungan yang dapat dipertimbangkan antara lain BPJS Kesehatan dan atau asuransi kesehatan tambahan, asuransi jiwa bagi yang memiliki tanggungan, serta perlindungan rumah atau aset jika diperlukan.
Untuk asuransi properti, masyarakat perlu membaca polis dengan teliti karena tidak semua risiko otomatis ditanggung. Perlindungan terhadap banjir, gempa bumi, atau risiko lainnya dapat memiliki ketentuan yang berbeda.
Senada, Aidil juga menilai dana darurat dan asuransi sama-sama dapat digunakan sebagai perlindungan terhadap risiko keuangan.
Perbedaannya, dana darurat berarti seseorang menghadapi risiko menggunakan uang atau aset sendiri. Sementara melalui asuransi, sebagian risiko dialihkan atau dibagi kepada pihak lain. Karena itu, dana darurat dan asuransi bukan pilihan yang saling menggantikan, melainkan dapat digunakan untuk menghadapi jenis risiko yang berbeda.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Rista mengatakan ada beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam menyiapkan dana darurat. Pertama, mencampur dana darurat dengan tabungan untuk liburan, pendidikan, atau kebutuhan lainnya.
Kedua, menempatkan dana darurat pada instrumen yang sulit dicairkan atau memiliki risiko tinggi.
Ketiga, menunggu memiliki uang dalam jumlah besar sebelum mulai membangun dana darurat. Padahal, dana tersebut dapat dikumpulkan secara bertahap.
Keempat, tidak segera mengisi kembali dana darurat setelah digunakan.
Demikian, menghadapi kondisi krisis atau bencana tidak cukup hanya dengan memiliki uang tunai. Masyarakat juga perlu menyiapkan perlindungan dan memahami risiko yang mungkin dihadapi.
Aidil menyebut sejumlah kesalahan yang sering dilakukan masyarakat, mulai dari menganggap dana darurat tidak penting, tidak memiliki dana darurat sama sekali, hingga memilih menabung dan berinvestasi tanpa memiliki dana darurat yang cukup.
Menurut Aidil, dana darurat perlu disiapkan sebelum seseorang terlalu fokus mengejar imbal hasil investasi.
“Tujuannya bukan mendapatkan keuntungan paling tinggi, melainkan memastikan kebutuhan penting tetap dapat dipenuhi ketika kondisi tidak terduga terjadi,” kata dia.