Harga Emas Antam Turun Rp 20 Ribu Hari Ini

ANTARA FOTO/Reno Esnir/sgd/tom.
Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Antam Setiabudi One, Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Penulis: Desy Setyowati
7/11/2026, 09.51 WIB

Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun Rp 20.000 menjadi Rp 2.545.000 per gram pada Sabtu (7/11). Sebelumnya, harga emas Antam berada di level Rp 2.565.000 per gram.

Berdasarkan informasi dari laman Logam Mulia yang dipantau Antara pada pukul 09.04 WIB, harga emas Antam turun dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga jual kembali atau buyback emas Antam juga turun menjadi Rp 2.350.000 per gram.

Namun, harga emas batangan Antam sewaktu-waktu dapat berubah.

Untuk pembelian emas Antam, konsumen dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,25% dari harga dasar yang tertera di laman resmi Logam Mulia.

Sementara itu, transaksi buyback dengan nilai di atas Rp 10 juta dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5%. Pajak tersebut dipotong langsung dari total nilai transaksi saat pelaksanaan buyback.

Berikut daftar harga dasar emas Antam berdasarkan beratnya:

  • Emas 0,5 gram: Rp 1.322.500
  • Emas 1 gram: Rp 2.545.000
  • Emas 2 gram: Rp 5.030.000
  • Emas 3 gram: Rp 7.520.000
  • Emas 5 gram: Rp 12.500.000
  • Emas 10 gram: Rp 24.495.000
  • Emas 25 gram: Rp 62.237.000
  • Emas 50 gram: Rp 124.395.000
  • Emas 100 gram: Rp 248.712.000
  • Emas 250 gram: Rp 621.515.000
  • Emas 500 gram: Rp 1.242.820.000
  • Emas 1.000 gram: Rp 2.485.600.000

Mengapa Harga Emas Dunia Turun?

Penurunan harga emas Antam terjadi di tengah tren pelemahan harga emas global. NPR melaporkan, harga emas dunia pada pekan ini turun di bawah US$ 4.000 per ons setelah sempat mendekati US$ 5.600 per ons pada Januari.

Padahal, emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen investasi yang dicari ketika kondisi ekonomi dan geopolitik tidak menentu.

Ketidakpastian tersebut antara lain dipicu oleh perang Iran dan penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed).

Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta mendorong kenaikan harga emas. Salah satu faktor yang turut menekan harga logam mulia ini adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Dikutip dari NPR, salah satu pembawa acara podcast Planet Money Jeff Guo, menjelaskan bahwa emas tidak menghasilkan bunga atau pendapatan secara langsung.

Sebaliknya, investor dapat memperoleh imbal hasil dari instrumen obligasi, termasuk Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) pemerintah AS dengan tenor 10 tahun, yang menawarkan pendapatan di atas inflasi.

Menurut Guo, perang Iran sejauh ini turut mendorong kenaikan harga minyak. Kenaikan harga minyak tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong suku bunga naik.

Kondisi ini membuat obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas bagi sebagian investor. Akibatnya, permintaan terhadap emas dapat tertekan meskipun ketidakpastian geopolitik masih berlangsung.

Tekanan terhadap harga emas juga tecermin dari perubahan proyeksi Goldman Sachs. Mengutip Investing, Goldman Sachs memangkas perkiraan harga emas untuk akhir 2026 dan 2027 karena perubahan kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat dalam beberapa bulan terakhir.

Tim ahli strategi yang dipimpin Lina Thomas menurunkan proyeksi harga emas pada akhir 2026 menjadi US$ 4.150 per ons dari sebelumnya US$ 4.650 per ons.

Sementara itu, proyeksi harga emas pada akhir 2027 dipangkas menjadi US$ 4.800 per ons dari sebelumnya US$ 5.400 per ons.

Goldman Sachs memperkirakan kebijakan The Fed yang lebih agresif dan potensi kenaikan suku bunga pada Desember akan menjaga kekhawatiran investor terhadap penurunan nilai mata uang tetap terkendali.

Dengan kondisi tersebut, permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko kebijakan makroekonomi diperkirakan kembali normal menuju rata-rata historis. Permintaan tersebut diperkirakan tidak kembali ke level tinggi seperti pada awal tahun ini.

Menurut para ahli strategi Goldman Sachs, situasi saat ini semakin menyerupai kondisi pada 2022. Ketika itu, pembelian emas oleh bank sentral memberikan dukungan struktural terhadap harga, tetapi suku bunga yang lebih tinggi membebani posisi investor sehingga kenaikan harga emas berlangsung lebih moderat.

Pembelian Emas Bank Sentral Jadi Penopang

Meski memangkas proyeksi harga emas, Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangan positif untuk jangka panjang. Salah satu penopangnya adalah pembelian emas oleh bank sentral yang diperkirakan tetap kuat.

Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral mencapai 60 ton per bulan sepanjang 2026 dan 2027. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pembelian sebelum 2022 yang sebesar 17 ton per bulan.

Berdasarkan penyesuaian musiman selama tiga bulan, pembelian emas bank sentral saat ini diperkirakan mencapai 85 ton per bulan.

Para ahli strategi Goldman Sachs menilai permintaan bank sentral yang kuat secara struktural menjadi salah satu faktor utama yang mendukung proyeksi kenaikan harga emas sekitar 15% hingga akhir 2027.

Bank sentral di negara berkembang, khususnya Cina, dinilai masih memiliki porsi emas yang lebih rendah dibandingkan alokasi jangka panjang yang dianggap masuk akal.

Sementara itu, bank sentral di negara maju sebagian besar belum mengikuti gelombang pembelian emas karena secara historis telah memiliki cadangan emas yang signifikan.

Goldman Sachs juga menyoroti perubahan fokus bank sentral, dari sekadar menentukan kepemilikan emas menjadi mempertimbangkan lokasi penyimpanannya. Hal ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas mengenai keamanan cadangan dan kepercayaan antarnegara.

Goldman Sachs memperkirakan harga emas berpeluang memperoleh dukungan tambahan setelah The Fed mulai memangkas suku bunga pada paruh kedua 2027.

Ekonom Goldman Sachs memperkirakan pemangkasan suku bunga berlangsung dari akhir 2027 hingga awal 2028. Penurunan suku bunga tersebut diperkirakan mengurangi tekanan terhadap harga emas dan membuka peluang bagi permintaan investor swasta untuk kembali bersaing dengan pembelian bank sentral.

Meski demikian, prospek harga emas dalam jangka pendek masih menghadapi tantangan. Goldman Sachs menilai kenaikan suku bunga, ketidakpastian harga energi, dan keterbatasan penarikan dana dapat menekan posisi investor seperti commodity trading advisers (CTA) dan hedge fund makro dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Goldman Sachs juga memperkirakan harga emas berisiko mengalami tekanan lebih lanjut apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Maret 2027, menunda pemangkasan suku bunga, atau menaikkan suku bunga acuan.

Dalam skenario tersebut, Goldman Sachs memperkirakan harga emas berada di level US$ 4.660 per ons pada akhir 2027, lebih rendah dibandingkan proyeksi dasar sebesar US$ 4.800 per ons.

Sebaliknya, kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal dapat kembali mendorong permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai dan membuka peluang kenaikan harga di atas proyeksi dasar Goldman Sachs.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara, Desy Setyowati