Laba Medco Energi Melonjak 769% Semester I, Capex Migas Naik hingga Rp 8,5 T

Arief Kamaludin|KATADATA
Medco Energi
22/9/2026, 09.14 WIB

Emiten sektor minyak dan gas (migas) PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) membukukan laba bersih US$ 275,31 juta atau sekitar Rp 4,92 triliun sepanjang semester pertama 2026. Laba tersebut melonjak 769% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 30,7 juta.

Seiring dengan moncernya kinerja MEDC paruh pertama tahun ini, perseroan menaikkan belanja modal (capex) migas tahun ini jadi US 475 juta atau setara Rp 8,5 triliun.

Kenaikan laba ditopang oleh pertumbuhan produksi minyak dan gas, membaiknya harga minyak dunia serta kontribusi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) seiring beroperasinya smelter secara penuh.

CEO MedcoEnergi Ronald Gunawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan keandalan perseroan dalam menjalankan proyek dan mengelola operasi produksi.

“Senoro Fase 2A telah beroperasi penuh pada Juni, dan Sakakemang tetap on track untuk gas pertama pada kuartal ketiga 2027. Ini adalah fondasi pertumbuhan kami ke depan,” ujar Ronald dalam keterangannya dikutip Selasa (22/9).

Hingga 30 Juni 2026, MEDC membukukan pendapatan US$ 1,42 miliar, naik dari US$ 1,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatat EBITDA sebesar US$ 805 juta.

Biaya kas produksi minyak dan gas tercatat US$ 8,4 per barel setara minyak, berada di bawah panduan tahun ini. Sementara itu, posisi utang konsolidasi pada akhir Juni 2026 mencapai US$ 4,13 miliar dengan kas dan setara kas US$ 1,4 miliar.

Rasio utang bersih terhadap EBITDA untuk Restricted Group tercatat 1,4 kali, lebih rendah dari panduan 2,5 kali dengan asumsi harga minyak mid-cycle US$ 65 per barel.

Dari sisi produksi, MedcoEnergi mencatat produksi minyak dan gas sebesar 170 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) hingga Juni 2026. Capaian tersebut sesuai dengan panduan produksi perseroan untuk 2026, dengan gas menyumbang sekitar 72% dari total produksi.

Produksi tersebut ditopang oleh peningkatan volume Blok Corridor setelah adanya tambahan hak partisipasi, kinerja Lapangan Forel dan Terubuk di South Natuna Sea Block B, pengeboran pengembangan Lapangan Bualuang di Thailand, penyelesaian proyek Bisat C di Blok 60 Oman, serta kontribusi penuh dari proyek Senoro Fase 2A.

Pada semester pertama, MEDC juga menandatangani Kontrak Bagi Hasil (PSC) Blok Nawasena di Jawa Timur dan Blok Cendramas di Malaysia. Dalam kedua blok tersebut, perseroan ditunjuk sebagai operator. Penunjukan di Blok Cendramas sekaligus menandai operasi produksi pertama MedcoEnergi di Malaysia.

Selain bisnis migas, segmen ketenagalistrikan MEDC mencatat penjualan listrik sebesar 2.323 GWh, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didukung keandalan operasi Dalle Energy Batam (DEB), ekspansi Energi Listrik Batam (ELB) serta operasional PLTS Bali Timur. Energi terbarukan menyumbang sekitar 25% dari total penjualan listrik, sejalan dengan strategi transisi energi perseroan.

Sementara itu, investasi MEDC pada sektor pertambangan tembaga dan emas melalui Amman Mineral memberikan kontribusi positif terhadap kinerja perseroan seiring beroperasinya smelter dengan kapasitas penuh.

MEDC mempertahankan panduan kinerja 2026 dengan target produksi minyak dan gas sebesar 165–170 mboepd serta penjualan listrik 4.550 GWh. Perseroan juga menargetkan biaya kas produksi migas tetap di bawah US$ 10 per barel setara minyak.

Untuk mendukung peluang pertumbuhan, MedcoEnergi menaikkan panduan belanja modal atau capital expenditure (capex) 2026 menjadi US$ 450–475 juta untuk segmen minyak dan gas bumi. Sementara itu, capex segmen ketenagalistrikan ditetapkan hingga US$ 50 juta.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri