Menjemput Asa Bengkel Autotama hingga ke Ujung Timur Bali

Katadata/Nur Hana Nabila
Suasana di bengkel Autotama, Karangasem, Bali
29/9/2026, 13.29 WIB

Matahari Karangasem, Bali, sedang terik-teriknya ketika Katadata tiba di Bengkel Autotama, pada Kamis awal Juni lalu. Di depan bengkel, I Wayan Sutama (50) menyambut kedatangan Katadata, bersama para pegawainya yang berdiri berbaris di belakangnya, mengenakan seragam dengan warna hitam, merah, dan biru.

Bengkel itu sudah berdiri sejak 2004. Sutama menyebut bengkel dimulai dengan modal nekat lantaran tanpa bekal pengalaman di dunia otomotif. 

Sebelum membuka Autotama, ia lebih dulu menjalankan toko pertanian di lokasi yang sama. Cita-citanya bisa melayani kebutuhan para petani di Karangasem. Kemudian bengkel ia buka sebagai lini usaha kedua.

"Saya tidak punya basic di bidang otomotif. Pendidikan tidak ada, pekerjaan juga tidak pernah di bidang itu, jadi kalau dibilang buka usaha tanpa adanya bekal," kata Sutama kala ditemui Katadata di Karangasem, Bali kala itu. 

Ia bercerita modal awalnya hanya nekat karena hobi memperbaiki kendaraan keluarga. Nama Autotama diambil dari namanya, Sutama, dan kata auto. Saat itu ia dibantu empat orang, yaitu satu admin dan tiga mekanik.

Namun perjalanan usahanya jauh dari kata mulus. Enam bulan bengkel itu berjalan, ketiga mekanik itu keluar. Sutama mengaku sering dibohongi karena tidak paham teknis bengkel. 

”Tiga karyawan saya itu semuanya berhenti karena saya dibohongi. Saya kan tidak tahu apa-apa, jadi mudah dibohongi sama mekanik,” tutur Sutama.

Ia sempat bangkit, tapi pukulan berikutnya datang pada 2009. Mekanik kepercayaannya keluar, membawa sebagian pelanggan dan justru membuka usaha sendiri. Sutama menyebut masa-masa itu sebagai titik terendah dalam perjalanan bisnisnya.

Titik Balik

Lima tahun berlalu, alih-alih balik modal usaha Sutama justru berjalan di tempat. Di tengah kebuntuan itu, Sutama mencoba mengetuk pintu yang lain.

Ia mengirimkan surel kepada Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), lengkap dengan proposal untuk mendapatkan pembinaan dari PT Astra International Tbk (ASII) pada 2010. Ia tak banyak berharap dari surel tersebut. Namun, di luar dugaannya, pesannya mendapat respons hingga pengajuan pembinaan Sutama disetujui.

Sejak saat itu, bengkelnya mulai memasuki babak baru. Bersama mekaniknya, Sutama berangkat ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan yang diberikan YDBA.

Lewat pembinaan dan jaringan di YBDA Astra, Sutama belajar mengelola sumber daya manusia (SDM), menyusun prosedur kerja, dan menyusun strategi pemasaran. Alhasil Sutama menerapkan service advisor dan menerapkan budaya kerja 5R, yaitu ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin di bengkelnya.

“Pelatihan 5R ini yang ada di YDBA Astra, jadi kami berupaya melatih 5R itu sehingga benar-benar bisa berguna bagi perkembangan bengkel Autotama,” ucap Sutama.

Dari semua materi pembinaan, 5R yang paling terasa di lantai bengkel. Manajer Operasional Bengkel Autotama, I Komang Putu Astana, pernah menjadi ketua tim 5R dan membawa timnya meraih juara ketiga dalam Kompetisi 5R yang digelar Yayasan Astra pada 2023-2024.

Menurut Astana, penerapan 5R membawa tiga manfaat: efisiensi dan prioritas kerja meningkat, lingkungan kerja jadi tertata dan rapi, dan kebiasaan mekanik berubah. Astana mengaku yang dulunya bersih-bersih hanya sesekali, kini jadi rutin.

Sebelum 5R diterapkan, kunci sering hilang dan peralatan mudah rusak. Usai implementasi 5R di lingkungan bengkel, totalitas kerja pun ikut naik dan lingkungan yang bersih itu jadi nilai jual tersendiri di mata pelanggan.

“Jadi konsumen mempercayakan untuk perawatan ataupun perbaikan Kendaraan di Bengkel Autotama,” ucap Astana. 

Pelan-pelan, perubahan itu merambat ke seluruh bengkel. Autotama membuka cabang kedua pada 2013, cabang ketiga pada 2017. Kini tiga lokasinya di Karangasem hingga bisa menampung 49 karyawan.

Sutama tidak lagi hanya memikirkan cara bertahan. Setelah lebih dari dua dekade, ia menyebut Autotama sebagai salah satu bengkel umum terbesar di Karangasem. 

"Visi kami menjadi bengkel terlengkap dan terpercaya, dan menjadi pilihan kedua setelah bengkel resmi," katanya.

Meskipun sempat dihantam pandemi Covid-19, Bali yang hanya bergantung pada pariwisata dan kunjungan wisatawan, permintaan servis kendaraan ikut sepi. Bengkel yang biasanya ramai antrean kendaraan, mendadak lengang berhari-hari. 

Sutama kembali ditekan pada situasi yang mengingatkannya pada masa-masa sulit dulu. Bedanya kali ini bukan karena mekanik yang pergi, melainkan pelanggan yang tak datang.

"Saat Covid itu kami sampai di titik terbawah," kata Sutama.

Seiring berjalannya waktu, kini Bengkel Autotama sudah punya pondasi yang jauh lebih baik. Begitu ekonomi Bali pulih, omzet Autotama ikut terangkat, dari sekitar Rp 1,5 miliar pada 2022 menjadi Rp 2,7 miliar pada 2023, lalu menembus Rp 3 miliar, hingga kini mencapai sekitar Rp 7 miliar per tahun.

Lewat pelatihan dari Yayasan Astra dan jaringan Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA), ia dan timnya belajar mengelola orang, menyusun prosedur kerja, hingga merancang strategi pemasaran.

Sutama mengaku ada lima hal yang menurutnya bengkel Autotama bisa bertahan sampai sekarang. Pertama, kolaborasi antara mekanik berpengalaman dan service advisor yang proaktif. Kedua, budaya training yang rutin, supaya timnya tidak tertinggal teknologi otomotif terkini. 

Ketiga, peralatan modern yang mendukung diagnosis kendaraan lebih akurat dan cepat. Keempat, standar operasional yang ketat, dari pelanggan datang sampai layanan purnaservis. Dan kelima, budaya kerja 5R, yang menjaga bengkel tetap rapi, resik, rawat, dan rajin, sehingga nyaman didatangi pelanggan.

Menjaga Lingkungan

Sebelum ikut pelatihan Astra, ia mengaku kerap salah menangani limbah bengkel, sesederhana karena tidak tahu caranya.  Bengkelnya kini mengelola limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Limbah seperti kaleng oli dan material berbahaya lainnya tidak lagi dibuang sembarangan agar tidak mencemari lingkungan. Oli bekas, misalnya, Sutama mengaku ternyata masih bisa dimanfaatkan.

Di Bali ada pabrik dan usaha rumahan keramik yang dipakai untuk bahan bakar pembakaran. Oli bekas dari bengkel-bengkel HBBA diberikan ke pengusaha keramik untuk diolah, bukan dijual. 

"Kita tidak memandang itu uangnya, tapi bagaimana itu bermanfaat untuk orang di Bali," kata Sutama. 

Sisa oli yang masih bersih dikumpulkan lagi dengan peralatan khusus untuk dipakai ulang sebagai pelumas, sementara kaleng bekasnya diserahkan ke pengepul. Selain itu limbah air juga tidak bisa sembarangan dibuang. Ia mengatakan setiap bengkel HBBA Astra diwajibkan memakai oil trap sebelum air buangan bengkel dibuang.

Demi menjaga udara sekitarnya. Sutama dan tim dikenalkan dengan alat untuk menangkap kembali freon dari sistem pendingin kendaraan. Selain itu, ia dan tim juga dilatih untuk pengolahan limbah organik hingga limbah kaca.

"Kami harus berbenah untuk mengurangi seminimal mungkin dampak dari usaha kita, karena bengkel identik dengan bahaya," katanya.

Komunitas UMKM Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA)

Autotama tidak sendirian. Sutama dan bengkelnya tergabung dalam Himpunan Bengkel Binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (HBBA) regional Jawa Timur-Bali, yang kini menaungi setidaknya 95 bengkel binaan YDBA.

Himpunan Bengkel Binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (HBBA) adalah komunitas dan wadah bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bengkel roda empat umum di Indonesia yang dibina oleh Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA)

Komunitas ini berdiri sejak 11 Maret 2014 di Waru, Sidoarjo, lahir dari optimistis bahwa bengkel UMKM tidak bisa tumbuh sendirian dan butuh ekosistem bersama. Lewat HBBA, para pemilik bengkel punya ruang untuk berbagi pengalaman, memperluas jaringan, dan belajar langsung dari praktik terbaik bengkel yang lebih maju. 

Komunitas ini juga jadi wadah menyampaikan aspirasi ke pembina, sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya.

Sutama menyebut manfaat pembinaan tersebut terasa hingga ke detail teknis pengelolaan bengkel. Ia mendapat pendampingan mulai dari teknik, manajemen, penataan bengkel, pengelolaan karyawan dan teknisi, hingga tata kelola suku cadang.

“Dengan adanya HBBA ini, kami para pelaku usaha bengkel sangat banyak mendapat manfaat dari Yayasan Astra dengan binaannya, awalnya kami ini bengkel-bengkel otodidak,” ucap Sutama.

Daftar Anggota HBBA Bali:

  • Bengkel Autotama: I Wayan Sutama
  • Redana Motor Sanur: Eka Redana
  • Redana Motor Sidakarya: Eka Redana
  • Wisma Motor: I Wayan Arya Wisma
  • Chisnayoga Motor: I Made Gustika
  • Pardi Motor: I Wayan Supardi
  • Surya Service:I Made Dwi Wirawan
  • Bengkel Mobil Mertanadi: I Made Arya Dhama Suka
  • Ina Motor: I Komang Suwidnya
  • Bengkel Mobil NOS Motor: I Gede Wisnata

Cerita serupa juga dialami I Wayan Supardi, pemilik Pardi Motor sekaligus Bendahara Koordinator Wilayah Bali HBBA Jatim-Bali. Bengkelnya sudah berdiri sejak 2004, punya bekal teknis sejak awal, tetapi jalan di tempat karena dikelola serba konvensional. 

Supardi bercerita, pengetahuan teknis saja tidak cukup tanpa pendampingan dan arahan dalam mengelola bisnis.

Titik baliknya datang pada 2019, saat Pardi Motor bergabung dengan HBBA. Sejak itu, Supardi mengaku mendapat banyak kesempatan belajar, inspirasi baru, dan tantangan yang justru mendorongnya terus berkembang. Satu nilai yang paling membekas baginya adalah continuous improvement, perbaikan berkelanjutan yang harus dijalankan dengan komitmen dan konsistensi.

"Ini hal yang luar biasa. Tidak banyak orang yang bisa ada di posisi ini. Dengan bergabungnya di HBBA, saya mendapatkan sesuatu yang benar-benar kelihatan luar biasa dalam pengembangan usaha bengkel," ucap Supardi.

Kini Pardi Motor bersiap membuka cabang kedua, ditargetkan beroperasi pada 2026. Progres pembangunannya sudah mencapai sekitar 65%. Supardi mengaku ekspansi ini bukan sekadar soal cabang baru, tapi buah dari komitmen jangka panjang.

Ia melihat perjalanan pengusaha bengkel biasanya dimulai dari mekanik yang sudah andal persoalan teknis di lapangan. Tapi begitu naik jadi pemilik usaha, tantangannya melebar jauh dari sekadar urusan mesin. Supardi merasakan mulai dari mengelola orang, aset, peralatan, hingga menjaga kepercayaan pelanggan.

Meski begitu, ia optimistis semua itu bisa dilalui asal terus belajar. Menurutnya, setelah berhasil membangun usaha dan membuka beberapa cabang, pelaku usaha semestinya naik level lagi, dari pekerja menjadi investor yang membuka lebih banyak lapangan kerja.

"Itu goals kami. Dari pekerja, dari sebagai pengusaha, pemikir, menjadi investor bengkel. Ini cita-cita kami," ujar Supardi.

Filosofi Tri Hita Karana

Seiring dengan itu, ada satu nilai yang menurut sesama anggota HBBA justru jadi akar dari semua perubahan itu: kearifan lokal Bali sendiri. Sutama mengatakan bengkel-bengkel di Bali menggenggam budaya bernama Tri Hita Karana, yaitu tiga hubungan yang harus dijaga seimbang: manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam. 

Filosofi ini sejalan dengan misi Yayasan Astra dalam membina bengkel-bengkel HBBA. Ambil contoh hubungan manusia dengan Tuhan. Sutama mengatakan dalam ajaran Hindu Bali dikenal konsep yadnya, pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas.

Menurutnya, semangat itulah yang ditanamkan para mentor dan trainer Astra saat membina pemilik bengkel untuk melepaskan ketergantungan bisnis. Ia menyebut harus ikhlas menjalankan tugas yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

“Sehingga untuk bisa ikhlas kami harus merdeka di bisnis kami, bengkel kami harus mandiri tanpa kami,” kata Sutama.

Hubungan kedua dalam Tri Hita Karana yaitu hubungan antarmanusia. Nilai tersebut diterapkan UMKM binaan Astra untuk membangun hubungan, baik dengan pelanggan maupun dengan orang-orang yang bekerja di dalam bengkel.

Dalam pembinaan HBBA, Sutama mengatakan pengelola bengkel mendapat materi soal manajemen pelanggan, pemasaran, hingga strategi mendatangkan pelanggan baru. Hubungan antarmanusia juga diterapkan di lingkungan internal bengkel melalui pembentukan sistem kerja dan standar operasional prosedur (SOP).

Astra juga mengajarkan bahwa karyawan ditempatkan sebagai bagian penting dalam keberlangsungan usaha. Sutama menyebut pengelola bengkel juga dibekali pengetahuan mengenai sistem penggajian dan remunerasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. 

Sementara hubungan ketiga adalah manusia dengan alam. Di sinilah pembinaan YDBA bersentuhan dengan hal-hal yang paling dekat dengan keseharian bengkel. Salah satunya melalui penerapan 5R, mulai dari meringkas barang yang tidak diperlukan, menata peralatan, hingga menjaga kebersihan ruang kerja.

"Sehingga hubungan binaan Yayasan Astra yang diberikan sangat terasa kepada kami UMKM di Bali, karena sangat-sangat selaras dengan budaya lokal," kata Sutama.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila