Beda dengan Klaim Pemerintah, Ekonom Nilai Fundamental Ekonomi RI Belum Kuat

ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/foc.
Pedagang menata beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Pasar Manis, Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (17/1/2026).
2/2/2026, 15.23 WIB

Sejumlah ekonom menilai penguatan fundamental ekonomi Indonesia belum sepenuhnya tercermin dari struktur perekonomian maupun kualitas pertumbuhan. Pernyataan para ekonom ini berbeda dengan klaim pemerintah yang menyatakan kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, penguatan fundamental ekonomi Indonesia perlu dilihat dari perubahan struktur ekonomi, bukan sekadar pergerakan angka pertumbuhan.

Rizal menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya menyebut fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi kuat dan terus membaik.

Menurut Rizal, ketika membahas fundamental, yang dimaksud adalah struktur ekonomi yang menggerakkan sistem produksi nasional.

“Kalau bicara fundamental ekonomi, maka kita bicara struktur ekonomi. Struktur itu menggerakkan mesin ekonominya atau sistem ekonominya. Kalau tidak jauh berbeda, maka tidak ada perubahan struktural,” kata Rizal kepada Katadata, Senin (2/2).

Ia menjelaskan, struktur ekonomi tercermin dari kontribusi sektor-sektor utama seperti pertanian, industri, dan jasa. Jika terjadi penguatan, seharusnya ada pergeseran kontribusi yang signifikan, misalnya di sektor manufaktur.

“Industri manufaktur, sekarang kontribusinya di triwulan III katakanlah 19,38%. Kalau struktur (ekonomi) itu bisa jauh sampai 20% atau 21%, baru itu terstruktur,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi saat ini belum menunjukkan perubahan tersebut. Produksi domestik masih sangat dipengaruhi oleh kinerja permintaan yang melambat.  

Demand-nya memang sekarang lambat. Produksi digenjot seberapa pun, terutama di pasar domestik, itu sangat berat,” katanya.

Dari sisi eksternal, Rizal menyebut ekspor Indonesia masih didominasi komoditas yang sama dan lebih banyak berupa bahan mentah atau penunjang, bukan produk bernilai tambah tinggi.

“Komoditasnya itu-itu lagi, dan lebih banyak bahan baku atau bahan penolong, bukan bahan final atau hasil inovasi teknologi,” ucapnya.

IHSG Merosot Pengaruhi Likuiditas

Selain sektor riil, Rizal juga menyoroti kondisi sektor keuangan. Ia mengatakan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat memengaruhi likuiditas pasar modal dan berdampak pada aktivitas ekonomi.

“Pasar modal ini memengaruhi likuiditas uang. Kalau IHSG turun, transaksi dan frekuensi perdagangan nantinya juga ikut turun,” katanya.

Menurut dia, pelemahan tersebut juga beriringan dengan potensi arus modal keluar (capital outflow) yang dapat memengaruhi perilaku investor dan pembiayaan usaha.

“Ketika turun, itu diikuti delay transaksi. Sentimen juga memengaruhi perilaku investor dan arus dana. Pelemahan IHSG ini beriringan dengan outflow investment,” ujarnya.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, perusahaan dapat menunda aksi korporasi dan pembiayaan berbasis pasar modal, yang pada akhirnya mengurangi momentum pertumbuhan ekonomi.

“Instrumennya dari likuiditas, investasi, dan aktivitas perdagangan. Itu yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,” kata Rizal.

Klaim Fundamental Ekonomi Kuat Perlu Diperdebatkan

Pandangan senada disampaikan Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia menilai klaim pemerintah yang menyebut fundamental ekonomi Indonesia kuat perlu diperdebatkan.

“Menurut kami memang itu perlu diperdebatkan,” ujarnya. Ia menilai, masifnya stimulus pemerintah justru menunjukkan adanya pelemahan.

“Ketika pemerintah mengeluarkan stimulus jangka pendek, itu secara tidak langsung pemerintah mengakui bahwa ada yang lemah atau ada yang salah dengan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Rendy juga menyoroti konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh sekitar 4,8–4,9%, di bawah pola normalnya sekitar 5%.

“Itu menggambarkan kalau ada kelompok yang memang tidak bisa tumbuh,” ucapnya.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan pelemahan kelas menengah yang kehilangan pendapatan.

“Kehilangan pendapatan itu sebenarnya menggambarkan struktur atau fundamental perekonomian itu tidak sepenuhnya kokoh,” katanya.

Dinamika di pasar keuangan juga menunjukkan persepsi risiko investor terhadap ekonomi domestik. “Ketika mereka menilai persepsi risikonya itu cukup besar, mereka tentu akan memindahkan dana mereka,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

Ia menyebut penguatan didukung koordinasi kebijakan moneter, fiskal, dan investasi, peningkatan kualitas penerimaan negara tanpa menaikkan tarif pajak, percepatan belanja negara, serta perbaikan iklim investasi melalui penyelesaian hambatan struktural.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah