Bank Indonesia Bawa Kopi Unggulan RI ke Pasar Jepang lewat SCAJ 2026
Bank Indonesia (BI) memperluas peluang pasar kopi spesialti Indonesia dengan berpartisipasi dalam Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) 2026 yang berlangsung di Tokyo, Jepang, pada 14-17 Oktober 2026. World Specialty Coffee Conference and Exhibition ini menjadi momentum untuk memperkenalkan keragaman kopi Nusantara sekaligus membangun kemitraan bisnis berkelanjutan dengan pelaku industri kopi Jepang.
Kopi spesialti dari UMKM Indonesia menarik perhatian pengunjung pameran yang diperkirakan dihadiri 95.000 orang dari 80 negara tersebut. Paviliun Indonesia berada di antara paviliun negara penghasil kopi lainnya, seperti Uganda, Kolombia, Tanzania, Kosta Rika, dan Brasil. Setidaknya ada 750 booth dalam pameran kopi spesialti terbesar di Asia ini.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali menilai, Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas ekspor kopi ke pasar global. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan strategi pemasaran yang efektif agar kopi Indonesia semakin dikenal dan diminati konsumen internasional.
"Kita mempunyai potensi yang luar biasa kopi untuk diekspor dan untuk dijual ke dunia. Permasalahannya adalah satu, bahwa kita harus melakukan marketing yang baik," ujar Ricky dalam kegiatan SCAJ 2026 di Tokyo, Rabu (14/10).
Indonesia memiliki beragam kopi dengan karakteristik dan cita rasa khas, mulai dari Gayo, Jawa, Sulawesi, Bali, Flores, hingga Papua. Keragaman tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat posisi kopi Indonesia dalam industri kopi spesialti global.
Saat ini terdapat 200-an UMKM kopi binaan Bank Indonesia yang tersebar di Sumatra (72 UMKM), Jawa (74 UMKM), Sulawesi, Maluku, Papua (43 UMKM), Bali dan Nusa Tenggara (22 UMKM).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 UMKM terpilih untuk SCAJ 2026 berdasarkan kinerja usaha atas aspek kesiapan stok, kualitas kopi dengan cupping score di atas 80, dan kesesuaian dengan karakteristik pasar Jepang.
Indonesia House of Beans Jadi Penghubung Produsen dan Pembeli
Komitmen pembelian kopi Indonesia antara Indonesia House of Beans dan Kurasu di SCAJ World Specialty Coffee Conference and Exhibition 2026, di Tokyo.
Selain berpartisipasi dalam pameran, penguatan akses pasar kopi Indonesia juga dilakukan melalui Indonesia House of Beans (IHoB) yang hadir di Tokyo dan Osaka.
Keberadaan IHoB menjadi sarana untuk menghubungkan produsen kopi Indonesia dengan calon pembeli di Jepang secara lebih berkelanjutan.
Inisiatif tersebut turut diperkuat melalui peluncuran website IHoB yang diharapkan dapat mempermudah akses informasi dan komunikasi antara pelaku usaha kopi Indonesia dan mitra bisnis di Jepang.
“Ini adalah platform praktis di mana pembeli Jepang dapat menemukan produk Indonesia, mempelajari tentang produsen kami, dan terhubung dengan mereka secara mudah. Kami juga mengapresiasi para mitra, seperti Kurasu,” jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali.
Kurasu adalah salah satu mitra yang membeli kopi dari Indonesia selama lima tahun belakangan. Saat ini, kedai kopi spesialti asal Kyoto tersebut memiliki sekitar 14 kedai yang tersebar di 7 negara. Indonesia menjadi negara dengan jumlah cabang terbanyak di luar Jepang.
Founder dan CEO Kurasu Yozo Otsuki mengapresiasi Indonesia House of Beans sebagai penghubung dengan produsen kopi pilihan yang berasal dari berbagai daerah Indonesia.
“Semua kopi Indonesia sangat unik, sangat sulit untuk mencoba berbagai kopi secara bersamaan. House of Beans membawa semua kopi dari Sumatra, Bali, Jawa ke dalam satu tempat, sehingga kita dapat memilih yang cocok untuk disajikan di Jepang,” ujar Yozo.
Ekspor Kopi Indonesia Meningkat, Pasar Jepang Masih Terbuka Lebar
Pengunjung merasakan langsung aroma biji kopi spesialti dari berbagai daerah di SCAJ 2026. (Bank Indonesia)
Peluang ekspansi kopi Indonesia ke pasar internasional semakin terlihat dari pertumbuhan nilai ekspornya dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data International Trade Centre (ITC) Trade Map yang dikutip Kementerian Perdagangan RI (Kemendag), nilai ekspor kopi Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.
Nilai ekspor kopi Indonesia tercatat sebesar US$ 929,1 juta pada 2023, meningkat menjadi US$ 1,64 miliar pada 2024, dan kembali melonjak hingga US$ 2,51 miliar pada 2025.
Di sisi lain, nilai impor kopi Jepang pada 2025 mencapai sekitar US$ 2,55 miliar, meningkat hampir 49 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ekspor kopi Indonesia ke Jepang baru mencapai sekitar US$ 67,37 juta atau sekitar 2,6 persen dari total impor kopi Jepang.
Kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang bagi kopi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar di negara tersebut.
Meski demikian, tantangan bagi pelaku usaha kopi, keberhasilan memasuki pasar internasional bukan hanya diukur dari seberapa banyak produk diperkenalkan atau dicicipi. Konsistensi kualitas dan kemampuan memenuhi permintaan menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan pembeli dan memperoleh pesanan berulang.
Melalui pembinaan dan keikutsertaan dalam Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) 2026, Bank Indonesia mendorong petani kopi untuk memproduksi kopi berkualitas, manajemen usaha, serta cara memasarkan produknya hingga diterima oleh mitra global.
"Setiap cangkir kopi Indonesia bukan hanya tentang cita rasa, tetapi juga tentang cerita, kerja keras, dan harapan yang tumbuh bersama," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali menutup sambutannya.
Berikut daftar 20 UMKM kopi spesialti binaan Bank Indonesia yang tampil di Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ): Wanoja Coffee, Punjer’E Kopi, CV Poki Cahaya Abadi, Koperasi Produsen Emas Hijau Papua, Poktan Sumber Duren Ngawi, Koperasi Produsen Lembah Gunung Buhung, Bedhag Kopi, Melaya Coffee, Asa Coffee Gayo, Argopuro Walida, Kaghomasa, Posong Coffee Sindoro, Kikova Coffee, Koperasi Pedagang Kopi (Koperi) Keitara, Robusta Gunung Ambang, Dellacious Coffee, Java halu Coffee.