Matahari belum beranjak di atas kepala atau waktu masih menunjukkan pukul 09.00 WITA. Namun, hawa panas telah terasa di kulit. Sesekali angin kencang berhembus mendinginkan suasana sekaligus membawa debu beterbangan.
Meski dalam suasana kurang nyaman dan sedikit sesak, sebanyak 32 siswa hingga 40 siswa antusias mengikuti pelajaran di ruang-ruang bilik bambu yang dibangun di halaman Sekolah Dasar (SD) Inpres Nggorang, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Situasi seperti itu menjadi keseharian para siswa dan guru setempat setidaknya dalam dua bulan terakhir. Semua berawal setelah kegiatan belajar mengajar sempat diliburkan selama dua pekan pascagempa bumi pada 15 Agustus 2026 yang melanda sejumlah kabupaten di Nusa Nipa, sebutan lain dari Pulau Flores.
“Saya kangen dengan suasana sekolah dahulu sebelum gempa, kami semua bersekolah dengan ceria, banyak tawa karena tempat bermain kami luas,” kata salah seorang siswa, Tristan.
Setelah gempa, halaman sekolah yang biasa menjadi tempat bermain Tristan bersama teman-temannya sebagian areanya kini menjadi kelas-kelas darurat karena bangunan sekolah mereka rusak berat akibat gempa. “Kami juga takut karena gempa masih sering terjadi,” kata Tristan.
Tristan berharap bencana gempa ini lekas berhenti dan sekolahnya dapat dibangun kembali sehingga dia dan teman-temannya dapat belajar dengan tenang dan aman.
Seorang siswa lainnya, Nayya, juga mengatakan kegiatan belajar di sekolah tidak senyaman dahulu. “Sekarang dua kelas harus digabung menjadi satu sehingga suasana menjadi lebih ramai dan kami susah untuk konsentrasi,” kata Nayya.
Apalagi, kini ia telah duduk di kelas 6 SD dan mempersiapkan diri untuk kelulusan serta bisa diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri yang ia idam-idamkan. “Semoga pemerintah dapat lekas memulihkan sekolah dan rumah-rumah kami agar kami kembali hidup dengan tenang dan belajar dengan baik,” kata Nayya.
Tristan dan Nayya tidak sendiri. Ada sejumlah 261.602 siswa dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, dan SLB di NTT (data BNPB per 22 Oktober 2026) yang bernasib sama pascagempa bumi memporak porandakan bangunan sekolah mereka dan bangunan-bangunan lainnya.
Akibat gempa bumi 7,7 magnitudo pada 15 Agustus 2026 itu, sebanyak 2.147 sekolah mengalami kerusakan, di antaranya 1.002 sekolah berkategori rusak total, 1.991 rusak berat, sisanya rusak sedang dan rusak ringan.
Sembari menanti pembangunan kembali dari pemerintah, sejumlah penyelenggara pendidikan baik negeri maupun swasta dibantu pemerintah dan lembaga-lembaga nonpemerintah membangun kelas-kelas darurat dari tenda maupun bilik-bilik bambu. Sekolah-sekolah yang terdampak gempa itu melakukan sejumlah strategi pembelajaran di tengah situasi yang darurat dan dengan segala keterbatasan yang ada.
Beberapa di antaranya memangkas durasi jam belajar dari biasanya satu jam belajar adalah 45 menit menjadi 15-20 menit sehingga para siswa tidak perlu berpanas-panasan di dalam tenda karena kegiatan belajar selesai lebih awal sebelum tengah hari. Beberapa sekolah lainnya terpaksa menyatukan siswa dua kelas di tingkat yang sama ke dalam satu ruang kelas karena keterbatasan ruang atau tenda darurat.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengalokasikan tahap pertama pemulihan pendidikan pascagempa bumi NTT sebesar Rp50 miliar.
Berharap Pemulihan Bencana Lebih Cepat
Bantuan tersebut meliputi pemulihan infrastruktur untuk 187 satuan pendidikan yang mengalami kerusakan dan pemulihan psikologis para siswa yang terdampak gempa bumi.
Salah seorang guru SD Inpres Nggorang, Manggarai, Yustina Mur berharap pemulihan tersebut dapat dilakukan secara lebih masif dan cepat karena para siswa telah dua bulan menjalani pembelajaran dengan suasana yang memprihatinkan.
“Saya hanya khawatir bila memasuki musim hujan pembelajaran pasti semakin tidak kondusif karena lapangan tempat kelas darurat ini pasti berlumpur,” kata Yustina.
Namun di tengah kekhawatiran itu, ada satu hal yang membuat para guru terus optimistis menghadapi situasi sulit ini, yaitu semangat belajar anak-anak.
“Melihat para murid saya semangat belajar, cukup membuat kami untuk selalu mendampingi mereka dalam keadaan apapun,” kata Yustina.