Dunia bisnis saat ini dipenuhi dengan jargon “transformasi” dan “inovasi”. Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas di berbagai sektor, mulai dari perguruan tinggi, instansi pemerintah, hingga korporasi besar. Namun, di balik maraknya perusahaan melakukan transformasi atau perubahan organisasi, yang terjadi adalah ironi transformasi yang berujung pada kegagalan.
Tingginya angka kegagalan dalam inisiatif transformasi bisnis divalidasi oleh berbagai riset berskala global. McKinsey & Company, melalui studi selama bertahun-tahun, secara konsisten menemukan bahwa sekitar 70% program transformasi skala besar berujung pada kegagalan.
Temuan dari Boston Consulting Group juga menunjukkan angka serupa. Hanya 30% transformasi digital yang dinilai sukses mencapai tujuannya. Sisa 70% lainnya masuk ke dalam kategori gagal memberikan dampak yang berarti atau hanya menghasilkan perubahan minimal yang tidak sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.
Sementara itu, Harvard Business Review bersama Gartner mencatat bahwa 67% hingga 73% inisiatif transformasi digital meleset dari ekspektasi pengembalian investasi yang diharapkan.
Pencitraan dan Substansi
Banyak institusi terjebak dalam apa yang disebut sebagai “Transformasi Pencitraan”. Ini adalah sebuah proses di mana organisasi berubah bukan menjadi lebih baik secara substansi, melainkan sekadar mengubah citra luar untuk memuaskan tuntutan eksternal seperti peringkat atau penghargaan.
Ironisnya bahkan sering kali justru mengorbankan kualitas baik dari proses bisnis yang sudah ada. Institusi-institusi ini cenderung memetik keberhasilan jangka pendek yang mudah diraih untuk diklaim sebagai kesuksesan manajemen transformasi, sementara keunggulan bersaing yang menjadi pencipta nilai selama ini, justru memburuk.
Ketika sebuah institusi lebih memprioritaskan “terlihat baik” daripada “menjadi baik”, mereka terjebak dalam permainan membangun citra di atas substansi. Ini terjadi ketika organisasi hanya bekerja demi target yang diukur, sementara tujuan yang berharga justru tidak diprioritaskan.
Di Indonesia, kita sering melihat universitas mengejar akreditasi internasional atau peringkat global dengan merombak kurikulum setiap beberapa tahun hanya untuk menunjukkan “fleksibilitas”. Padahal perubahan tersebut sering kali hanya bersifat polesan tanpa perbaikan substansial pada proses belajar-mengajar.
Dengan kata lain, ironi transformasi bisa bermula ketika metrik eksternal, seperti peringkat sekolah atau ukuran dikaitkan dengan persepsi berdasarkan citra menjadi tujuan akhir.
Tentu sangat disadari bahwa perusahaan tidak mengabaikan fakta bahwa citra itu penting dalam menarik sumber daya. Namun, strategi yang benar adalah menggunakan citra sebagai pengungkit untuk mencapai substansi yang lebih besar.
Adapun beberapa hal yang harus dilakukan adalah menggunakan citra untuk menarik sumber daya, misalnya berupa dana dan atau sumber daya yang lain. Lalu keberhasilan tersebut diinvestasikan kembali ke substansi perbaikan organisasi. Setiap dana atau bakat yang diperoleh dari citra yang baik harus diinvestasikan kembali ke dalam perbaikan kualitas layanan sehingga perusahaan mampu lebih bersaing.
Substansi penting tentang pengelolaan manusia menghadapi perubahan ternyata menjadi hal penyebab utama kegagalan transformasi. Resistensi karyawan serta kurangnya dukungan yang solid dari pihak manajemen menjadi akar penyebabnya. Transformasi di era digital sering kali sekadar berupa pengadaan teknologi.
Data menunjukkan bahwa anggaran transformasi digital di seluruh dunia mencapai triliunan dolar, namun tingkat kegagalan tetap berada di angka yang tinggi, yaitu antara 70% hingga 87,5%. Ironinya, perusahaan mengalokasikan sekitar 5,4% dari pendapatan mereka untuk IT, namun hanya porsi yang kecil (di bawah 10%) dari anggaran transformasi diinvestasikan pada aspek manusia seperti manajemen perubahan dan adaptasi tenaga kerja.
Di Indonesia, cukup banyak perusahaan merasa telah melakukan transformasi hanya dengan membeli sistem ERP yang mahal atau menggunakan aplikasi baru. Padahal, teknologi hanyalah enabler, bukan pendorong (driver).
Pendorong transformasi yang sebenarnya adalah ekspektasi pelanggan dan persaingan. Namun faktor penentu keberhasilannya adalah bagaimana manusia mengadopsi teknologi tersebut.
Resistensi karyawan sering kali dilihat sebagai hambatan. Padahal itu adalah penanda masalah yang lebih dalam, seperti kepemimpinan yang buruk, kurangnya kemampuan organisasi beradaptasi, atau budaya organisasi yang belum siap untuk berubah.
Pemimpin era transformasi diharapkan memiliki perpaduan antara kerendahan hati dan kemauan profesional yang kuat. Mereka tidak mendelegasikan tanggung jawab transformasi kepada tim kecil, melainkan mereka sendirilah yang mengelola dan mendorong perjalanan transformasi tersebut.
Transformasi membutuhkan pemimpin yang memiliki komitmen terhadap visi yang jelas dan terus menstimulasi standar kinerja yang lebih tinggi. Tanpa perubahan budaya, sistem IT secanggih apa pun, tidak akan menghasilkan transformasi yang berkelanjutan. Hal ini karena orang-orang akan terus menemukan cara untuk kembali ke kebiasaan lama.
Kemudian, di banyak institusi Indonesia, strategi transformasi sering kali hanya menjadi dokumen tebal di tingkat dewan direksi yang tidak pernah menyentuh level operasional. Strategi yang nyata seharusnya memengaruhi apa yang dilakukan orang di lapangan.
Misalnya, aturan sederhana seperti “Jangan pernah mengompromikan kualitas demi popularitas” . Ini akan memberikan panduan jelas bagi karyawan saat menghadapi tekanan untuk menurunkan standar demi popularitas atau pendapatan jangka pendek.
Strategi yang efektif adalah yang fokus dan sederhana. Tanpa aturan bisnis yang jelas, transformasi hanyalah sekadar rangkaian proyek yang tanpa arah.
Memperlakukan transformasi sebagai proyek yang memiliki “garis finish” berjangka waktu tertentu perlu disertai penjelasan yang memadai. Manajemen proyek sering berorientasi pada batas waktu, anggaran, dan output.
Akibatnya, organisasi sering merayakan keberhasilan semu saat sistem baru diluncurkan. Padahal esensi transformasi (outcome) baru dimulai setelah teknologi itu dijalankan. Tanpa pengawalan berkelanjutan, karyawan akan kembali ke cara kerja lama.
Mengubah sistem atau bagan organisasi bisa selesai dalam hitungan minggu. Namun mengubah budaya, kebiasaan, dan pola pikir manusia membutuhkan usaha terus menerus.
Tanpa empati dan komunikasi, transformasi hanya akan dianggap sebagai beban kerja tambahan yang memicu penolakan masif dari karyawan. Transformasi bukanlah proyek transaksional, melainkan perubahan gaya hidup organisasi untuk terus menciptakan nilai baru.
Kesimpulan
Kegagalan substansial dalam transformasi perusahaan dipicu oleh pengabaian faktor manusia (budaya, adaptasi, dan manajemen perubahan). Ketidakmampuan pemimpin membedakan keunggulan spesifik unit bisnis, serta strategi yang tidak membumi di level operasional seperti aturan bisnis yang bisa dipahami dan dijalankan langsung oleh staf di lapangan tanpa keraguan.
Transformasi bukanlah proyek jangka pendek. Transformasi merupakan perubahan gaya hidup organisasi secara berkelanjutan yang digerakkan oleh pemimpin yang berkomitmen kuat dan berorientasi pada dampak nyata (outcome). Jadi, bukan sekadar tampilan luar.
Transformasi pencitraan yang sekadar mengejar metrik eksternal jangka pendek yang tidak diikuti dengan perubahan substansi. Kemudian, menganggap transformasi IT sebagai pengadaan teknologi atau sekadar proyek. Hal ini akan berkontribusi atas gagalnya transformasi perusahaan.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.