PISA dan Melemahnya Trisentra Pendidikan

Katadata/Bintan Insani
Penulis: Najamuddin Muhammad
23/10/2026, 07.20 WIB

Jauh sebelum Andreas Schleicher, inisiator pendiri tes PISA (Programme for International Student Assessment), memasukkan variabel orang tua dalam tes PISA pada 2009, Ki Hajar Dewantara sudah memasukkannya sebagai variabel penting. Dalam majalah Wasita pada 1935, dia menulis bahwa alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan yang terpenting. Setelah itu pendidikan formal dan masyarakat yang kemudian dikenal dengan konsep tripusat pendidikan.

Setelah beberapa negara menguatkan peran keluarga untuk menopang kemampuan dasar siswa, kita justru makin berjarak. Data PISA 2025, dukungan keluarga di Indonesia rendah, baik secara level (indeks -0,60 dibanding rata-rata OECD -0,19), maupun secara tren yang menurun. Hanya 48% siswa mengatakan orang tua atau wali menanyakan kegiatan sekolah setidaknya seminggu sekali, turun dari 57% pada 2022. Hanya 36% yang rutin membahas masalah sekolah, turun dibanding hasil PISA 2022 sebesar 48%. 

Bagi sebagian besar orang tua mungkin kaget melihat data di atas, karena merasa dirinya saat ini cukup aktif terlibat dalam kegiatan sekolah. Di sinilah letak masalahnya, riuh rendah kegiatan seremonial sekolah yang melibatkan orang tua—mulai dari menjadi panitia akhir tahun, panitia outing class atau wisata, panitia magang, atau bahkan panitia hari-hari besar keagamaan—tak berarti peran orang tua sudah maksimal. Orang tua merasa sibuk dengan ragam kegiatan sekolah tapi tak bermakna dan tak memberikan dampak signifikan bagi pengambangan kemampuan dasar anak-anak.

Miskonsepsi antara orang tua dan sekolah dimulai sejak dini. Larangan tes baca, tulis, dan berhitung (calistung) bagi sekolah dasar saat penerimaan peserta didik baru—yang juga senafas dengan model pembelajaran di PAUD—masih menjadi persoalan hingga kini. Meski dilarang, tapi tetap saja orang tua memasukkan anaknya ke lembaga kursus atau les agar bisa calistung. Saat sekolah melarang calistung dengan metode drill, orang tua justru lari ke lembaga kursus yang tumbuh subur. 

Untuk mengatasi ini, pada 2023 muncullah gerakan transisi PAUD-SD yang menyenangkan. Tujuannya memutus mata rantai miskonsepsi tentang calistung. Gerakan ini masih berlangsung hingga kini. Namun, hanya melibatkan stakeholder dari pemangku pendidikan formal, mulai dari kepala dan guru PAUD hingga SD serta bunda PAUD. 

Lagi-lagi orang tua belum tersentuh sehingga calistung tetap menjadi kompetensi dasar untuk standar keberhasilan anak-anak. Lembaga kursus dan bimbingan belajar calistung tetap masih menjamur untuk melayani keinginan orang tua agar anaknya pintar calistung. 

Ketika kebijakan ujian nasional dihapus agar anak belajar bukan untuk hanya lulus ujian, berdampak terhadap tutupnya beberapa lembaga kursus. Namun, sekarang lembaga kursus mulai bermunculan lagi seiring adanya Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang berlangsung sejak 2025. Orang tua mulai memasukkan anaknya untuk ikut bimbingan belajar agar nilai TKA tinggi. Belajar di sekolah seakan tak cukup sehingga orang tua lebih percaya pada jasa bimbingan. Itulah fenomena retaknya tripusat pendidikan. 

Tambal sulam kebijakan dan kelembagaan terus mewarnai perjalanan kolaborasi antara orang tua dan sekolah. Pernah ada Direktorat Jenderal Pendidikan Keluarga di bawah Kemdikbud pada 2017 yang telah membentuk fasilitator ke tingkat kabupaten sebagai wujud kehadiran negara untuk memperkuat peran keluarga. 

Inilah sejarah kebijakan pendidikan yang betul-betul ingin menghidupkan semangat Ki Hadjar Dewantara tentang tripusat pendidikan. Namun usia Direktorat Jenderal Pendidikan keluarga itu tak seumur jagung sebelum akhirnya berganti nomenklatur Cerdas Berkarakter yang sasaran dan prognya sangat berbeda. 

Menguatkan Keterlibatan 

Pada 2009, ilmuwan PISA Schleicher dan koleganya memasukkan variabel orang tua dalam tes PISA. Hasilnya cukup mengejutkan: orang tua yang membacakan buku cerita dan mendorong untuk berdiskusi setiap hari, anaknya menunjukkan nilai yang lebih baik. Tak hanya skor PISA, tapi juga menunjukkan tingkat berpikir lebih maju.

Hasil investigasi Amanda Ripley, dalam The Smartest Kids in the World (2013) menemukan, di negara-negara dengan sistem pendidikan yang baik seperti di Finlandia dan Korea selatan mempunyai model pembelajaran yang berbeda, bahkan cenderung bertolak belakang. Finlandia memiliki model pembelajaran utopia yang memberikan kebebasan peserta didik, sedangkan Korea Selatan dengan model pembelajaran tekanan tinggi. 

Namun uniknya, keduanya mempunyai satu kesamaan, yakni keterlibatan orang tua di rumah secara aktif untuk membacakan buku-buku cerita dan berdiskusi dengan anak-anak. Menurut Amanda Ripley, pola asuh, kerap dilupakan dalam studi-studi internasional mengenai pendidikan. Kalaupun ada, hanya menunjukkan hasil sebagaimana yang sudah diperkirakan: “Semakin banyak keluarga dengan anak-anak yang berpendidikan tinggi, maka hasil tes menunjukkan skor tes, perilaku, dan catatan kehadiran yang lebih baik.

Apakah sesederhana Itu? Jawabannya iya. karena dengan membacakan cerita, mengajari mereka menjelajah dunia dari ragam sisi. Anak diajak berimajinasi berkelana ke tempat-tempat yang jauh, belajar terlibat untuk merasakan kesedihan dan kesenangan. 

Seiring bertumbuh besar, anak dapat diajak berdiskusi mengenai film, buku, dan isu-isu yang berkembang. Hal ini memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan orang tua terlibat dalam membantu kegiatan sekolah, seperti kegiatan kepanitiaan hari-hari besar.  

Dalam riset Dimitra Hartas, Patterns of parental involvement in selected OECD countries: Cross-national analyses of PISA (2015) menunjukkan, keterlibatan orang tua memberikan efek positif terhadap hasil PISA. Sebaliknya, program parenting atau keterlibatan orang tua di sekolah yang hanya menekankan kehadiran fisik (rapat, kunjungan sekolah) kurang berdampak. 

Kolaborasi yang positif antara orang tua dan sekolah menjadi pekerjaan kita ke depan. Konsep ini bukan hal yang baru, Ki Hajar Dewantara (1935) sebagai peletak pondasi pendidikan nasional jauh-jauh hari sudah mengingatkan, “Alam keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan yang terpenting…Apabila sistem pendidikan dapat memasukkan alam keluarga itu ke dalam ruangannya, maka Ibu-Bapak itu, terbawa oleh segala keadaanya, akan dapat berdiri sebagai guru (pemimpin laku adab), sebagai pengajar (Pemimpin kecerdasan pikiran serta pemberi ilmu pengetahuan) dan sebagai contoh laku kesosialan, niscaya bersatunya alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda akan lebih berhasil daripada sekolah model barat, yang kita alami pada zaman kini.”

Keluarga adalah pendidik pertama dan utama. Dari keluarga nilai-nilai, keyakinan dan karakter itu terbentuk, sayangnya tak ada sekolah menjadi orang tua. Menjadi orang tua itu naluriah yang akan berbeda kalau diwakilkan, tapi juga butuh pengetahuan dan kompetensi agar ekosistem yang edukatif bisa terbangun sejak dini. 

Kolaborasi positif antara keluarga dan sekolah itu berarti menempatkan peran orang tua sebagai basis ekosistem pertama dan utama. Seperti menumbuhkan karakter melalui pembiasaan positif, membacakan buku cerita di rumah, berdialog dan berdiskusi dengan anak-anak tentang materi dan kegiatan di sekolah. Jadi, bukan hanya sekadar kolaborasi yang terlalu berpihak sekolah, seperti hanya menjadi komite di sekolah, menjadi panitia di kegiatan sekolah serta kegiatan seremonial lainnya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Najamuddin Muhammad
Dosen Pendidikan di STAINU Purworejo

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.