Neraca Pakan Harimau

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Azhar
7/11/2026, 06.45 WIB

Seekor rusa yang tumbang di hutan mungkin terlihat sebagai akhir dari satu kehidupan. Bagi harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), peristiwa itu justru menjadi awal dari beberapa hari kehidupan. Daging yang diperoleh dari seekor mangsa akan diubah menjadi energi untuk berjalan, berburu, mempertahankan wilayah, dan bertahan hidup.

Tetapi mangsa harimau bukan hanya rusa sambar. Di hutan Sumatra terdapat berbagai satwa yang menjadi bagian dari rantai makanannya, antara lain rusa sambar, kijang, babi hutan, napoh, serta satwa berkuku lainnya. Ukuran tubuh dan jumlah biomassa yang tersedia dari masing-masing jenis berbeda. Karena itu, seekor rusa besar tidak dapat disamakan begitu saja dengan seekor kijang atau napoh.

Pertanyaan yang menarik kemudian bukan hanya apa yang dimakan harimau, tetapi berapa lama satu keberhasilan berburu dapat memenuhi kebutuhan seekor harimau? Jawabannya bergantung pada ukuran mangsa, bagian tubuh yang dapat dimanfaatkan, kondisi harimau, dan seberapa sering ia berhasil memperoleh mangsa berikutnya. 

Penelitian pada harimau Amur menunjukkan bahwa kebutuhan energi predator besar ini dipengaruhi oleh ukuran tubuh, jenis kelamin, dan kondisi reproduksi. Satu mangsa besar dapat menyediakan energi untuk beberapa hari, sehingga harimau tidak harus berhasil berburu setiap hari (Miller et al., 2013; Miller et al., 2014). 

Temuan tersebut berasal dari populasi harimau Amur, bukan harimau Sumatra, sehingga tidak tepat digunakan sebagai angka pasti bagi populasi di Sumatra. Namun prinsip ekologinya jelas: kehidupan harimau ditentukan oleh energi yang tersedia dari mangsanya. 

Di Sumatra, hubungan itu terlihat dalam penelitian lapangan. Di Ekosistem Leuser, sambar, babi hutan, kijang dan satwa ungulata lainnya merupakan bagian penting dari komunitas mangsa harimau. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keberadaan mangsa, terutama sambar dan babi hutan, berhubungan kuat dengan distribusi harimau (Saputra et al., 2025). Penelitian di Ulu Masen juga menunjukkan keberadaan sambar, babi hutan, kijang dan serow sebagai mangsa utama harimau dalam lanskap tersebut (Figel et al., 2024).

Temuan itu membawa kita pada satu persoalan mendasar dalam pengelolaan taman nasional: kita tidak mungkin mengelola harimau dengan baik jika tidak mengetahui kondisi mangsanya.

Selama ini perhatian konservasi sering tertuju pada harimaunya. Kamera jebak dipasang untuk mengetahui individu, jenis kelamin, sebaran dan perkiraan kepadatan. Wilayah jelajah dipetakan. Pergerakan dipantau. Semua itu penting. Tetapi ada satu informasi yang sama pentingnya: berapa banyak pakan yang tersedia di kawasan tersebut?

Yang perlu diketahui bukan sekadar apakah rusa, kijang atau babi hutan masih ditemukan. Pengelola perlu mengetahui kecenderungan populasinya, kepadatan relatifnya, distribusinya, ukuran tubuh mangsa, serta tekanan yang mereka hadapi, terutama perburuan.

Penelitian di Gunung Leuser memberikan gambaran mengapa hal ini penting. Model distribusi menunjukkan bahwa kawasan yang sesuai bagi harimau jauh lebih luas daripada kawasan yang sesuai bagi mangsanya, dan hanya sebagian wilayah yang memiliki tumpang tindih antara keduanya. Peneliti menyimpulkan bahwa ketersediaan mangsa merupakan salah satu faktor pembatas penting bagi keberadaan harimau (Saputra et al., 2025).

Artinya, sebuah taman nasional dapat memiliki hutan yang luas, tetapi belum tentu memiliki basis pakan yang cukup untuk mempertahankan populasi harimau dalam jangka panjang. Di sinilah konsep neraca pakan harimau menjadi penting.

Setiap kawasan konservasi yang menjadi habitat harimau idealnya memiliki gambaran berkala mengenai kondisi satwa mangsanya. Berapa banyak sambar yang masih tersedia? Bagaimana keadaan populasi kijang? Apakah babi hutan masih melimpah? Di mana napoh masih ditemukan? Apakah terjadi penurunan akibat perburuan atau perubahan habitat?

Data tersebut dapat diperoleh melalui kamera jebak, survei lapangan, analisis okupansi, jejak, maupun metode estimasi populasi lainnya. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan angka untuk laporan, melainkan menjawab pertanyaan pengelolaan yang lebih penting: apakah jumlah dan sebaran mangsa masih memadai untuk menopang populasi harimau yang ada?

Jawaban atas pertanyaan itu seharusnya memengaruhi keputusan pengelolaan. Jika mangsa berkurang, perlindungan tidak boleh hanya diarahkan kepada harimau. Jalur perburuan harus diperketat, habitat mangsa harus dipertahankan, dan tekanan manusia terhadap satwa buruan harus dikurangi. Jika populasi mangsa berada pada kondisi baik, kawasan tersebut memiliki fondasi ekologis yang lebih kuat untuk mempertahankan predator puncaknya.

Persoalannya menjadi semakin penting karena berkurangnya mangsa dapat mengubah perilaku ruang harimau. Ketika memperoleh makanan di dalam hutan semakin sulit, harimau mungkin harus menjelajah lebih jauh. Pergerakan yang lebih luas dapat meningkatkan kemungkinan berdekatan dengan kawasan perkebunan, peternakan atau permukiman. Karena itu, dalam situasi tertentu, persoalan mangsa juga dapat berkaitan dengan risiko konflik manusia-harimau.

Maka pengelolaan harimau seharusnya tidak berdiri sendiri. Harimau, mangsa, habitat dan tekanan manusia merupakan satu sistem. Mengamankan harimau tanpa mengamankan sistem yang menyediakan makanannya sama saja dengan menjaga puncak piramida sambil membiarkan fondasinya runtuh.

Konservasi juga perlu mengubah cara mengukur keberhasilan. Bertambahnya jumlah harimau memang merupakan kabar baik. Namun pertumbuhan populasi predator harus dibaca bersama dengan kondisi populasi mangsanya. 

Jika jumlah harimau meningkat sementara satwa mangsa terus menurun, keadaan itu perlu dicermati, bukan langsung dianggap sebagai keberhasilan. Karena itu, di setiap taman nasional di Sumatra yang menjadi habitat harimau, pertanyaan tentang populasi harimau dan populasi mangsa harus berjalan beriringan.

Kita perlu mengetahui bukan hanya berapa ekor harimau yang hidup di dalam hutan, tetapi juga berapa banyak energi yang tersedia bagi mereka. Sebab di balik setiap harimau yang tertangkap kamera ada rantai kehidupan yang lebih panjang: tumbuhan yang menyediakan makanan, rusa dan kijang yang memakannya, babi hutan dan napoh yang menjadi bagian dari jaringan ekologis, kemudian predator yang berada di puncaknya.

Seekor harimau mungkin hanya terlihat sebagai satu individu dalam sebuah foto kamera jebak. Tetapi untuk mempertahankannya, yang harus dijaga adalah seluruh kehidupan yang memungkinkan individu itu bertahan. Karena itu, menyelamatkan harimau berarti juga memastikan hutan masih mampu memberinya makan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Azhar
Spesialis Konservasi Alam dan Manajemen Habitat

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.