Saat Kota Solo Berlari Kejar Wisata Wellness
Katadata/Ameidyo Daud/ChatGPT
Ilustrasi Kota Solo. Foto: Katadata/Ameidyo Daud/ChatGPT
Optimisme akan geliat Kota Solo disampaikan oleh Parid (30). Salah satu pemilik usaha penyewaan mobil itu mengatakan kemajuan kota yang biasa disebut Solo itu sangat terasa dalam beberapa waktu belakangan.
Parid mengatakan dalam beberapa tahun, Kota Solo banyak didatangi wisatawan. Keberadaan ragam museum, situs budaya, hingga pagelaran alias event juga membuat kota ini semarak dan menjadi salah satu tujuan wisatawan.
Dampaknya, bisnis Parid bersama tiga rekannya juga ikut ketiban berkah. Penghasilannya pun meningkat signifikan seiring perekonomian Kota Solo yang semakin menggeliat.
"Kami tahun 2019 hanya punya 6 mobil (untuk disewakan). Sekarang jadi 34 mobil," kata warga Colomadu, Karanganyar itu kepada Katadata.co.id di Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Parid juga menceritakan, beberapa waktu lalu, ia masih kerap mengantarkan wisatawan ke destinasi tradisional di Kota Solo dengan kendaraannya. Belakangan, turis mulai membidik hal lain di kota tersebut: kebugaran alias wellness.
Menurutnya, pergeseran mulai terjadi terutama saat Solo dipimpin Respati Ardi sebagai wali kota, berbeda dengan ketika kota ini dipimpin Gibran Rakabuming Raka yang belakangan menjadi Wakil Presiden.
"Kalau urusan penataan UMKM itu (kelebihan) Mas Gibran, kalau Mas Respati itu lebih ke event marathon, lari, olahraga," kata Parid.
Hal ini juga diakui Respati dalam sebuah wawancara bersama Katadata.co.id beberapa waktu lalu. Dalam membangun Kota Solo, dia menyiapkan sebuah konsep yang bernama Java Wellness untuk mengundang orang lebih banyak bertandang ke kotanya. Dalam sebuah konsep kesehatan berbasis tradisi Jawa itu, olahraga akan menjadi salah satu pilarnya.
"(Konsep) Wellness yang pertama adalah gym, yoga, dan olahraga," kata Respati.
Konsep wellness kedua yang akan diaplikasikannya adalah kebugaran berbasis kegiatan spa hingga relaksasi. Secara khusus Respati membidik model relaksasi dengan pendekatan tradisional Jawa. Konsep wellness ketiga adalah healthy food atau makanan sehat. Dia menjanjikan akan semakin banyak makanan sehat tak menggunakan pengawet yang disajikan di Kota Solo
"Contohnya minuman herbal dari jamu, hingga pecel, sayur-sayuran, dan berbagai cita rasa makanan yang tetap sehat," katanya.
Geliat olahraga juga dirasakan oleh peserta yang datang ke Solo untuk mengikuti berbagai event, salah satunya Kusnandar (56). Pensiunan karyawan swasta asal Jakarta ini menikmati salah satu ajang lari yakni Mangkunegaran Run. Kusnandar mengatakan lomba lari tersebut menawarkan hal berbeda dari ajang serupa di kota-kota lainnya.
"Race-nya enak, jalannya lebar dan halus. Yang memberikan cheering (semangat) juga ramai," kata Kusnandar yang telah mengikuti ajang ini selama tiga tahun kepada Katadata.co.id, Rabu (19/8).
Pendapat yang sama juga disampaikan Regy, warga Karawang. Regy mengatakan, selain rute yang menarik karena bersisian dengan rel kereta, ada tradisi lain yang menurutnya unik saat mengikuti perlombaan lari ini. "Saat kami finish itu disiram air kembang dan ditaburkan kembang, serasa bidadari," ujar perempuan yang mengikuti nomor lari Half Marathon di Mangkunegaran Run 2026 ini.
Respati juga memamerkan sejumlah event kebugaran lain di kota ini seperti Solo Run Fest, Run For Humanity, Soekarno Run, Surakarta Mini Triathlon, hingga ajang sepeda Tour de Surakarta. Dia juga tengah menggodok konsep turnamen tenis bernama Solo Open. "Jadi banyak sekali kalau mau bicara soal sport tourism di Kota Surakarta," kata pria yang hobi bersepeda hingga berenang ini.
Dengan berbagai event hingga kekayaan budaya serta sejarahnya, Kota Solo mampu menarik 5,68 juta wisatawan pada tahun 2025. Angka ini naik dari 5,44 juta kunjungan setahun sebelumnya. Respati juga optimistis, konsep kebugaran yang diusungnya mampu menjadi motor ekonomi kota tersebut.
"Penciptaan lapangan kerja akan terbuka lebar, pertumbuhan ekonomi, okupansi hotel dan lama menginap juga akan bertambah ketika ada wellness activities di sini," katanya.
Katadata Insight Center pernah menghitung dampak ekonomi dari salah satu event besar di Kota Solo yakni Adeging Mangkunegaran 2026. Dari hasil perhitungan KIC, acara ini menghasilkan efek berganda (multiplier effect) Rp 87,9 miliar, naik hampir 120% dari perhelatan yang sama tahun lalu.
Dari angka tersebut, sebanyak Rp 61,8 miliar merupakan efek berganda dari Mangkunegaran Run, sedangkan Rp 26,1 miliar datang dari festival kuliner yang juga bagian dari prosesi Adeging Mangkunegaran 2026 yakni MakanNMakan.
Event Saja Belum Cukup
Namun hal ini dinilai belum cukup untuk menggenjot reputasi Solo. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani merasa promosi yang dilakukan Solo masih belum cukup untuk memacu lebih banyak wisatawan. Menurutnya, hal ini yang membedakan Solo dengan destinasi wisata lain di Pulau Jawa seperti Yogyakarta dan Bandung.
"Menurut saya masih kurang inovasi karena belum seaktif Yogyakarta," kata Hariyadi kepada Katadata.co.id, Rabu (19/8).
Kota Solo disebutnya perlu memacu inovasi demi memanfaatkan potensi wisata yang sangat besar. Beberapa potensi yang bisa digali antara lain Museum Keris Nusantara, sejumlah pasar batik, hingga objek wisata yang tak jauh berada dari kota ini seperti Sangiran di Sragen. Hariyadi juga berharap ada kerja sama antara Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran dengan Pemkot untuk mengemas potensi wisata agar lebih menarik.
"Membangun (konsep) wellness itu memungkinkan saja, tapi wisatawan juga perlu aktivitas," katanya.
Menurut bos Sahid Group ini, membangun reputasi kota menjadi hal yang penting, terutama untuk menjaga keberlanjutan wisata di Kota Solo. Dia mengatakan, saat ini okupansi hotel anggota PHRI di kota tersebut masih berada di angka 40 hingga 50 persen. "Artinya jumlah hotel yang ada oversupply dengan jumlah orang yang datang," katanya.
Satu hal yang perlu ditonjolkan lebih banyak adalah citra lama Solo sebagai kota budaya. Kusnandar berharap kesenian Jawa di Kota Solo dihidupkan lagi karena hal tersebut merupakan tradisi lama. Sedangkan Hariyadi Sukamdani menilai magnet Solo adalah budaya, dan perlu ditonjolkan lebih banyak.
"Jadi bagaimana pesona Keraton itu kembali, pusat-pusat budaya itu repackaging lagi. Contohnya Museum Radya Pustaka," kata Hariyadi.
Respati Ardi juga melihat kekayaan sejarah dan budaya Solo sebagai bagian dari potensi ekonomi pariwisata. Ia menyebut konsep tersebut sebagai storynomics, yakni menjadikan cerita di balik suatu tempat sebagai bagian dari pengalaman wisata sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Konsep itu sudah mulai dijalankan oleh sejumlah anak muda di Solo melalui wisata jalan kaki (walking tour). Mereka menawarkan rute wisata kepada pengunjung dengan menyusuri bangunan bersejarah sembari mendapatkan cerita dan konteks mengenai tempat-tempat tersebut.
Bagi Respati, pengalaman semacam itu menunjukkan bahwa kekayaan sejarah tidak hanya dapat menjadi objek wisata, tetapi juga membuka peluang usaha bagi pelaku ekonomi kreatif. Konsep ini juga menjadi cara bagi Solo untuk mempertahankan identitas budayanya di tengah upaya mengembangkan wisata olahraga dan wellness.
"Storynomics hal yang harus kita kembalikan ke depan. Narasi sebuah cerita itu menjadi penting dan punya nilai ekonomi," kata dia.
Perlu Dukungan Investasi dan SDM
Untuk mengejar pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi, Solo memerlukan investasi. Respati mengatakan Solo tidak ingin sekadar mengejar nilai investasi, tetapi memastikan investasi menciptakan lapangan kerja bagi warga lokal. Dia bahkan akan menjadikan pariwisata ke dalam jalur cepat investasi (fast track investment) yang langsung dikawal oleh wali kota.
Dengan status ini, dia ingin memastikan investasi di sektor pariwisata tak terganjal hambatan hingga pungutan liar. "Apabila ada preman atau apapun yang mengganggu, saya akan pasang badan," kata politikus Partai Gerindra ini.
Selain itu, Pemkot Solo juga menyiapkan Solo Investment Forum (SIF) 2026 untuk menarik investor sekaligus mengoptimalkan aset milik pemerintah yang belum produktif. Respati tidak ingin ada lahan atau aset yang menganggur tanpa memberikan manfaat ekonomi bagi kota. Investor nantinya dapat memilih sejumlah skema kerja sama, mulai dari sewa, pemanfaatan lahan, hingga bangun guna serah atau build operate transfer.
Investasi juga akan terhubung dengan pembenahan sumber daya manusia. Dari sisi lapangan kerja, Pemerintah Kota Solo juga menyiapkan program bernama Rumah Siap Kerja Bersama (RSKB). Ini adalah program yang dirintis Respati tahun lalu untuk memberikan pelatihan vokasi, bursa kerja, serta penempatan kerja di dalam dan luar negeri.
Program ini juga dirancang untuk mengurangi tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kota Solo. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta, angka TPT kota tersebut pada 2025 sebesar 13.590 orang atau 4,5%.
Dengan program ini, para pencari kerja hanya perlu masuk ke dalam laman yang telah disiapkan Dinas Ketenagakerjaan Kota Surakarta untuk mengisi data diri hingga minatnya. Pemkot nantinya akan mengarahkan untuk pelatihan sesuai minat dan bakat serta mencocokkan dengan pencari kerja.
"Supaya nanti ketika masuk ke dunia kerja memang itu pas seperti sesuai yang dibutuhkan. Karena mereka ini butuh penghasilan tetap," kata Respati.
Persiapan SDM yang andal juga dilakukan Pemkot Solo kepada anak-anak sekolah. Respati dalam hal ini mempersiapkan sebuah program kelas unggulan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 24 dan 25 Kota Surakarta. Di dua sekolah tersebut, akan ada satu kelas khusus yang diisi oleh peserta didik yang masuk dalam kategori bertalenta serta memiliki Intelligence Quotient (IQ) tinggi.
Menurutnya, transformasi ini akan membuat kualitas sekolah negeri tak kalah dengan sekolah yang dioperasikan pihak swasta. "Dan akan tetap gratis (biaya sekolahnya)," katanya.
Dengan sistem ini, Respati berharap akan ada lebih banyak siswa dan siswi yang masuk Sekolah Menengah (SMA) favorit di mana pun. Rencananya membuat kelas unggulan juga disesuaikan dengan program Sekolah Garuda yang digagas pemerintah pusat. Dia memandang pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk memastikan warga Solo mampu mengambil manfaat dari investasi yang masuk.
Dengan perkembangan Solo terutama di bidang pariwisata, masyarakat berharap efek berganda lebih besar kepada kesejahteraan mereka. Parid secara khusus mengharapkan masuknya uang dari sektor tersebut bisa berdampak, terutama pada Upah Minimum Kota (UMK) Solo bisa naik dari saat ini Rp 2,57 juta per bulan.
"Karena toko-toko kelihatan ramai, tapi UMK tidak sejalan (lurus dengan perkembangan ekonomi)," kata Parid.