Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Indonesia.

Berdasarkan World Global Tuberculosis Report 2025, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam estimasi kasus TB pada 2024 dan menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB global.

Dalam periode 2015–2024, angka insiden TB di Indonesia juga meningkat 17 persen. Indonesia pun masuk dalam kategori negara dengan tingkat endemisitas TB sangat tinggi (highly endemic), dengan laju insiden sekitar 300–499 kasus per 100.000 penduduk.

Dengan beban kasus yang masih tinggi, masyarakat perlu lebih waspada terhadap gejala TB. Secara klinis, TB dapat ditandai dengan batuk berdahak selama lebih dari dua minggu, yang dapat disertai darah, nyeri dada, dan sesak napas.

Gejala lainnya antara lain malaise atau rasa lelah dan lemah berkepanjangan, penurunan nafsu makan dan berat badan, menggigil, demam, serta berkeringat pada malam hari.

TB dapat menyerang siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada orang yang memiliki kontak erat dengan penderita TB aktif, orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah seperti penderita HIV/AIDS atau pasien yang menjalani kemoterapi, perokok, serta orang dengan konsumsi alkohol tinggi.

Risiko juga meningkat pada mereka yang berada di tempat dengan tingkat penularan TB yang tinggi dan pada anak berusia di bawah lima tahun.

Karena itu, keluhan atau faktor risiko TB sebaiknya tidak diabaikan. Deteksi dini dapat membantu penanganan lebih cepat sekaligus mencegah penularan lebih lanjut. Yuk, cek kesehatan lebih awal melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas!

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.