7 Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026 Berbagai Tema Menarik Penuh Semangat

Kemenag
Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026
Penulis: Tifani
Editor: Safrezi
21/10/2026, 17.10 WIB

Amanat pembina upacara Hari Santri 2026 dapat menjadi referensi jelang peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis, 22 Oktober 2026. Isi amanat dapat memuat pesan tentang perjuangan santri, pentingnya menuntut ilmu, serta peran santri dalam menjaga persatuan dan membangun bangsa.

Naskah pidato pembina upacara Hari Santri 2026 juga dapat disesuaikan dengan tema tahun ini, yakni “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Bagi sekolah, pondok pesantren, maupun madrasah yang menggelar upacara Hari Santri, amanat pembina upacara dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai keislaman, nasionalisme, kedisiplinan, dan semangat belajar kepada para santri. 

Berikut contoh amanat pembina upacara Hari Santri 2026 yang dapat dijadikan referensi.

Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026


Peringatan Hari Santri di Ponpes Lirboyo Kediri (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/nym.)

Berikut contoh teks amanat pembina upacara yang bisa dibacakan pada Hari Santri 2026.

1. Amanat Pembina Upacara Hari Santri Tentang Perjuangan Santri dan Tanggung Jawab Generasi Masa Kini

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati para guru, kiai, ustaz, ustazah, serta seluruh peserta upacara yang berbahagia. Marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat-Nya kita dapat memperingati Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat perjuangan tersebut harus kita lanjutkan melalui pengabdian, pendidikan, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

Sejarah mencatat bahwa ulama dan santri turut mengambil peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu penanda penting seruan perjuangan tersebut. Para ulama dan santri menunjukkan bahwa cinta agama dapat berjalan seiring dengan kecintaan terhadap tanah air. Mereka tidak hanya berjuang dengan tenaga, tetapi juga dengan keyakinan, ilmu, dan keberanian. Kini, tanggung jawab generasi santri adalah meneruskan semangat tersebut melalui karya dan perilaku yang bermanfaat.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَاُولٰٓـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa santri memiliki tanggung jawab untuk mengajak masyarakat melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tanggung jawab itu dapat diwujudkan dengan menyampaikan kebenaran secara santun, menolong sesama, menjaga kejujuran, dan menghormati perbedaan. Santri juga harus mampu menjadi teladan dalam perkataan maupun perbuatan. Ilmu agama hendaknya menjadi pedoman untuk memperbaiki diri sekaligus membawa manfaat bagi lingkungan. Dengan demikian, keberadaan santri dapat dirasakan sebagai sumber kebaikan bagi masyarakat dan bangsa.

Oleh karena itu, mari kita jadikan Hari Santri sebagai pengingat bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab. Santri harus terus belajar, mengembangkan kemampuan, serta terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai agama. Jadilah generasi yang mampu menjaga persatuan, melawan kebodohan, serta menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Mari kita buktikan bahwa santri bukan hanya penjaga tradisi, melainkan juga penggerak perubahan yang membawa manfaat. Semoga semangat Hari Santri 2026 menguatkan tekad kita untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Amanat Pembina Upacara Hari Santri Tentang Santri sebagai Penyeru Kebaikan dan Pencegah Kemungkaran

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati para guru, pengasuh pesantren, serta seluruh peserta upacara yang berbahagia. Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT karena pada hari ini kita dapat memperingati Hari Santri Nasional 2026 dalam keadaan sehat.

Tahun ini, Hari Santri mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut mengajak kita memahami bahwa kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas moral dan karakter masyarakatnya. Dalam hal ini, santri memiliki peran penting untuk menumbuhkan nilai-nilai kebaikan di tengah kehidupan bangsa.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَاُولٰٓـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini menegaskan pentingnya kehadiran sekelompok orang yang mengajak kepada kebaikan, mendorong perbuatan makruf, dan mencegah kemungkaran. Santri dapat mengambil peran tersebut melalui pendidikan, dakwah, pelayanan masyarakat, dan keteladanan sehari-hari. Mengajak kepada kebaikan tidak harus selalu dilakukan melalui ceramah, tetapi juga melalui sikap jujur, kepedulian, dan kesediaan membantu orang lain. Sementara itu, mencegah kemungkaran harus dilakukan dengan cara yang bijaksana, santun, dan sesuai dengan tuntunan agama. Dengan bekal ilmu dan akhlak, santri dapat menjadi bagian dari masyarakat yang menjaga kebaikan bersama.

Di lingkungan sekolah dan pesantren, tanggung jawab tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Santri hendaknya membiasakan diri berkata benar, menghormati guru, menyayangi teman, dan menjaga kebersihan lingkungan. Ketika melihat perundungan, ketidakjujuran, atau tindakan yang merugikan orang lain, santri tidak sepatutnya membiarkannya begitu saja. Mereka perlu mengambil sikap yang tepat dengan mengutamakan nasihat yang baik dan meminta bantuan pihak yang berwenang jika diperlukan. Kebiasaan tersebut akan membentuk karakter yang kuat sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bermartabat.

Bangsa yang kuat membutuhkan generasi yang berani membela kebenaran sekaligus mampu menjaga adab dalam menyampaikan pendapat. Santri hendaknya tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan nyata. Mari kita jadikan ilmu sebagai pedoman, akhlak sebagai identitas, dan pengabdian sebagai wujud kecintaan kepada tanah air. Melalui langkah-langkah tersebut, santri dapat membantu membangun masyarakat yang adil, damai, dan saling menghormati. Semoga santri Indonesia terus tumbuh menjadi generasi yang membawa kebaikan dan menguatkan negeri menuju Indonesia Emas.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

3. Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026 Tentang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Indonesia Emas

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati para kiai, ustaz, ustazah, guru, dan seluruh peserta upacara. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas kesempatan untuk memperingati Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026.

Tahun ini, kita mengusung semangat “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut menegaskan bahwa santri memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk ikut menentukan masa depan bangsa. Salah satu bekal utama untuk menjalankan tanggung jawab itu adalah ilmu pengetahuan yang disertai iman dan akhlak mulia.

Pesantren sejak lama menjadi tempat pembelajaran agama, pembentukan karakter, dan penanaman nilai-nilai kehidupan. Di lingkungan pesantren, santri belajar menghormati guru, hidup disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Nilai-nilai tersebut merupakan modal penting untuk menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang. Namun, santri juga perlu memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, santri dapat berkontribusi tidak hanya dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, dan pembangunan nasional.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَاُولٰٓـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa ilmu dan kemampuan yang dimiliki hendaknya digunakan untuk menyerukan kebaikan serta mencegah kemungkaran. Santri yang menguasai ilmu dapat membantu masyarakat memahami persoalan dan menemukan jalan keluar yang bermanfaat. Di era digital, santri juga dapat menyebarkan pengetahuan yang benar serta mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Kemampuan berpikir kritis harus berjalan bersama kejujuran, kesantunan, dan tanggung jawab. Dengan cara itu, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas manfaat ilmu dan memperkuat persaudaraan.

Kita semua setuju jika Indonesia Emas tidak akan terwujud hanya dengan cita-cita, tetapi membutuhkan kerja keras dan persiapan sejak sekarang. Para santri perlu tekun belajar, berani mengembangkan kemampuan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Para pendidik dan pengasuh pesantren juga memiliki peran penting dalam membimbing santri agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berintegritas. Mari kita bangun tradisi belajar sepanjang hayat dengan tetap menjunjung tinggi nilai agama dan kebangsaan. Semoga santri menjadi generasi berilmu yang mampu menghadirkan kemajuan sekaligus menjaga martabat bangsa.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

4. Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026 Tentang Persatuan, Toleransi, dan Pengabdian kepada Bangsa

Yang saya hormati para guru, pengasuh pesantren, serta seluruh peserta upacara yang saya banggakan. Marilah kita memanjatkan syukur kepada Allah SWT karena dapat memperingati Hari Santri Nasional 2026 dengan penuh semangat. Peringatan tahun ini mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut mengingatkan kita bahwa kemajuan bangsa membutuhkan persatuan, kepedulian, dan kesediaan untuk bekerja bersama. Santri diharapkan mampu menjadi bagian dari generasi yang menjaga kerukunan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.

Sejarah perjuangan bangsa menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak diraih oleh satu golongan saja. Ulama dan santri turut mengambil bagian dalam perjuangan bersama berbagai elemen masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat tersebut mengajarkan bahwa perbedaan latar belakang tidak boleh menghalangi kerja sama dalam menjaga tanah air. Di tengah masyarakat yang beragam, santri perlu mengembangkan sikap saling menghormati dan menghindari tindakan yang memecah belah. Persatuan harus dirawat melalui dialog, kepedulian, dan penghargaan terhadap martabat setiap manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَاُولٰٓـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa menyerukan kebaikan merupakan tanggung jawab yang perlu diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Santri dapat menjalankannya dengan mengajak orang lain berbuat baik, menolong mereka yang membutuhkan, dan menghindari perilaku yang merugikan sesama. Mencegah kemungkaran juga berarti tidak ikut menyebarkan fitnah, kebencian, atau informasi yang dapat memicu permusuhan. Semua itu harus dilakukan dengan bijaksana, tanpa merendahkan orang lain atau merasa paling benar. Dengan akhlak yang baik, santri dapat membantu menciptakan kehidupan bersama yang lebih damai dan saling menghargai.

Mencintai tanah air dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Kita dapat menjaga persatuan, menaati aturan, menghormati perbedaan, dan membantu masyarakat tanpa membedakan latar belakangnya. Santri juga perlu hadir sebagai penengah ketika terjadi perselisihan serta mendorong penyelesaian masalah secara damai. Mari kita jadikan nilai-nilai pesantren sebagai bekal untuk memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga santri Indonesia menjadi generasi yang menjaga persaudaraan, memperluas manfaat, dan turut mengantarkan negeri menuju masa depan yang lebih baik.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

5. Amanat Pembina Upacara Hari Santri Tentang Santri Berakhlak Mulia dan Siap Menghadapi Tantangan Zaman

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati para kiai, ustaz, ustazah, guru, dan seluruh peserta upacara. Alhamdulillah, pada hari ini kita kembali memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober. Pada 2026, peringatan ini mengangkat tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut menjadi ajakan bagi santri untuk terus memperbaiki kualitas diri dan mengambil peran dalam menghadapi tantangan masa depan. Santri yang kuat bukan hanya mereka yang tekun beribadah, tetapi juga mereka yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.

Tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin beragam, mulai dari derasnya arus informasi hingga perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Santri perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, berpikir jernih, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Di tengah perubahan tersebut, nilai kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan penghormatan kepada sesama harus tetap dijaga. Pendidikan pesantren dapat menjadi bekal penting untuk membentuk karakter yang kokoh sekaligus mendorong santri terus berkembang. Perpaduan ilmu, iman, dan keterampilan akan membantu santri menghadapi masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَاُولٰٓـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini memberikan pedoman agar santri tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga berusaha menghadirkan kebaikan di lingkungannya. Santri dapat menyerukan kebaikan dengan menyampaikan informasi yang benar, mengingatkan teman secara santun, dan memberikan contoh perilaku yang terpuji. Dalam menggunakan media sosial, santri hendaknya menghindari fitnah, perundungan, dan penyebaran berita yang belum jelas kebenarannya. Ketika menemukan perilaku yang tidak baik, santri perlu menyikapinya dengan bijaksana dan memilih cara yang tidak menimbulkan kerugian baru. Dengan demikian, santri dapat berperan sebagai penjaga akhlak sekaligus pengguna teknologi yang bertanggung jawab.

Mempersiapkan masa depan Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cakap, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Karena itu, mari kita gunakan kesempatan belajar untuk memperluas wawasan, memperkuat akhlak, dan melatih kemampuan bekerja sama. Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berusaha, melainkan sebagai dorongan untuk terus memperbaiki diri. Mari kita bawa nilai-nilai pesantren ke tengah masyarakat melalui tindakan nyata yang mencerminkan kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab. Semoga santri Indonesia tumbuh menjadi generasi tangguh yang mampu menguatkan negeri dan berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia Emas.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

6. Amanat Pembina Upacara Hari Santri Tentang Perjuangan

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Yang terhormat kepada Bapak/Ibu Kepala Sekolah beserta seluruh guru dan staf.

Yang saya cintai dan banggakan, anak-anakku semua, para siswa-siswi. Selamat pagi dan Selamat Hari Santri Nasional. Hari ini adalah hari yang sangat spesial. Kita berkumpul untuk mengingat dan merayakan jasa-jasa hebat para santri terdahulu. Meskipun kalian saat ini masih muda, kalian adalah bagian penting dari generasi penerus bangsa.

Anak-anak hebat, tahukah kalian? Dahulu, para santri bukanlah hanya orang yang pandai mengaji. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kita. Saat negara kita sedang dijajah dan kemerdekaan Indonesia terancam, para santri ikut maju ke depan.

Mereka membawa semangat kebangsaan yang luar biasa di hati mereka, yaitu semangat cinta kepada tanah air, Indonesia. Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari para santri pahlawan ini?

Kita harus meneladani semangat mereka. Semangat juang mereka disebut jihad, yaitu bersungguh-sungguh dalam kebaikan. Bagi kalian anak SD, jihad berarti bersungguh-sungguh dalam belajar. Ingat, belajar dan menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim.

Rajin sekolah, tidak malas, dan selalu berusaha menjadi anak yang pintar dan berbudi luhur. Semuanya adalah bentuk jihad yang bisa kalian lakukan sekarang.

Semangat cinta tanah air para santri terdahulu juga harus kita tiru dengan cara menjaga lingkungan sekolah agar bersih, menghormati guru, dan bangga menjadi anak Indonesia.

Anak-anakku, kalian adalah pelopor kebaikan. Tunjukkan semangat santri itu di mana pun kalian berada. Jadilah anak yang sopan, patuh pada guru dan orang tua, jujur, dan suka menolong teman.

Dengan akhlak mulia, kalian sudah menjadi bagian dari perjuangan santri masa kini, yaitu membangun masyarakat yang baik, damai, dan penuh kasih sayang.

Anak-anakku semua, mari berjanji untuk selalu mengingat jasa para santri pahlawan kita. Kita tutup upacara ini dengan semangat baru untuk menjadi anak-anak yang hebat, yang rajin belajar, dan berakhlak mulia. Teruslah tebar kebaikan dan jadilah kebanggaan keluarga, sekolah, dan bangsa.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

7. Amanat Pembina Upacara Hari Santri Penuh Semangat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi anak-anakku yang Bapak/Ibu banggakan.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena pada pagi yang cerah ini, kita dapat melaksanakan upacara dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional.

Peringatan ini mengajak kita untuk merenungkan, bahwa seorang santri bukan hanya sosok yang pandai mengaji dan memiliki ilmu agama yang tinggi, tapi juga pribadi yang membawa nilai-nilai luhur yang patut ditiru oleh kita semua di sekolah ini.

Anak-anakku semua, teladan pertama yang harus kita contoh dari para santri adalah akhlak dan budi pekerti mereka. Seorang santri yang baik adalah mereka yang selalu berusaha untuk jujur dalam perkataan dan perbuatan, tidak pernah menyembunyikan kesalahan atau berbohong.

Mereka juga sangat sopan kepada siapa pun, terutama kepada guru, orang tua, dan orang yang lebih tua, selalu menghargai dan mengucapkan salam. Selain itu, mereka memiliki sifat rendah hati, tidak sombong meski memiliki banyak ilmu.

Sifat lain yang tak kalah penting dari sosok santri adalah disiplin. Hidup seorang santri identik dengan jadwal yang teratur, mulai dari bangun pagi, shalat tepat waktu, hingga waktu belajar dan mengaji. Kedisiplinan inilah yang membentuk mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan menghargai waktu.

Jika kalian ingin sukses, baik dalam pelajaran di sekolah maupun cita-cita di masa depan, tirulah kedisiplinan ini. Datang tepat waktu, kumpulkan tugas tepat waktu, serta patuhi semua tata tertib sekolah dengan baik dan ikhlas.

Santri juga dikenal sebagai sosok yang mandiri. Santri terbiasa mengurus diri sendiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Kemandirian ini melatih kalian untuk menjadi pribadi yang tangguh dan memiliki rasa tanggung jawab penuh atas diri sendiri.

Mulai hari ini, mari kita contoh kemandirian seorang santri dengan cara sederhana, mulai dari menyiapkan buku sendiri, merapikan meja belajar sendiri, dan jangan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.

Anak-anakku yang saya banggakan, mari kita jadikan Hari Santri Nasional ini sebagai momentum untuk menyerap semua energi positif dan teladan kebaikan dari para santri. Jadilah pelajar yang berkarakter, yang jujur, sopan, rendah hati, disiplin, dan mandiri.

Dengan menanamkan sifat-sifat ini, kalian akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang unggul, baik secara ilmu maupun akhlak.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.