Tujuan keuangan membantu uang memiliki arah. Tanpa target yang jelas, menabung sering berubah menjadi sekadar menyisihkan uang jika masih ada sisa di akhir bulan. Akibatnya, nominal tabungan mudah berubah dan keputusan keuangan lebih banyak mengikuti kebutuhan sesaat.
Dengan tujuan yang jelas, kamu bisa menentukan berapa dana yang dibutuhkan, kapan harus tersedia, dan berapa yang perlu disisihkan setiap bulan. Tujuan juga membantu membedakan kebutuhan jangka dekat dengan target yang masih bertahun-tahun lagi.
Apa Itu Tujuan Keuangan?
Tujuan keuangan adalah target finansial yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu. Target ini dapat berupa dana darurat, biaya pendidikan, uang muka rumah, modal usaha, liburan, pembelian kendaraan, hingga dana pensiun.
Tujuan yang baik tidak berhenti pada kalimat seperti “ingin punya rumah” atau “ingin pensiun nyaman”. Target perlu diterjemahkan menjadi angka dan waktu agar bisa dibuat rencana.
Misalnya, “menyiapkan Rp120 juta untuk uang muka rumah dalam lima tahun” jauh lebih mudah direncanakan daripada sekadar “ingin beli rumah”.
Bedakan Tujuan Berdasarkan Jangka Waktu
Membagi tujuan berdasarkan horizon waktu membantu menentukan prioritas dan jenis strategi yang digunakan.
Tujuan Jangka Pendek
Tujuan jangka pendek biasanya adalah target yang ingin dicapai dalam waktu relatif dekat. Dalam berbagai materi edukasi keuangan, batas waktunya bisa berbeda, tetapi secara praktis kamu dapat menggunakan rentang hingga sekitar satu sampai tiga tahun sesuai kebutuhan.
Contohnya:
- membentuk dana darurat;
- membayar utang konsumtif;
- membeli laptop;
- menyiapkan biaya liburan;
- membayar uang muka kendaraan.
Karena waktunya dekat, keamanan dan likuiditas biasanya lebih penting daripada mengejar return tinggi. Kamu tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu pemulihan jika nilai investasi turun menjelang dana dibutuhkan.
Tujuan Jangka Menengah
Tujuan jangka menengah berada di antara kebutuhan dekat dan rencana jangka panjang. Rentangnya dapat sekitar tiga sampai lima tahun atau disesuaikan dengan target masing-masing.
Contohnya:
- uang muka rumah;
- biaya pendidikan lanjutan;
- modal usaha;
- renovasi rumah;
- mengganti kendaraan.
Pada horizon ini, pilihan instrumen dapat lebih beragam dibanding tujuan jangka pendek, tetapi risiko tetap perlu disesuaikan dengan waktu penggunaan dana.
Semakin dekat tanggal target, semakin penting mengurangi risiko penurunan besar pada dana yang akan segera dipakai.
Tujuan Jangka Panjang
Tujuan jangka panjang biasanya memiliki horizon lebih dari lima tahun. Contohnya dana pensiun, pendidikan anak, pelunasan rumah, atau membangun aset untuk kebebasan finansial.
Karena waktunya lebih panjang, efek inflasi menjadi lebih besar. Nilai kebutuhan hari ini kemungkinan berbeda jauh ketika dana benar-benar digunakan beberapa tahun atau puluhan tahun kemudian.
Horizon yang panjang juga memberi lebih banyak waktu menghadapi fluktuasi, sehingga strategi dapat berbeda dari tujuan jangka pendek sesuai profil risiko.
Gunakan Metode SMART
Salah satu cara membuat tujuan lebih konkret adalah menggunakan prinsip SMART. Materi perencanaan keuangan OJK juga menggunakan pendekatan ini untuk membantu penyusunan tujuan.
Specific
Tujuan harus jelas. Hindari target terlalu umum seperti “ingin kaya” atau “ingin menabung lebih banyak”.
Ubah menjadi sesuatu yang spesifik, misalnya “menyiapkan dana darurat enam bulan pengeluaran” atau “mengumpulkan uang muka rumah”.
Measurable
Target harus dapat diukur dengan angka.
Jika ingin menyiapkan dana liburan, tentukan berapa total kebutuhan dan berapa yang sudah tersedia. Dengan begitu, selisih dana dapat dihitung.
Attainable
Target perlu dapat dicapai berdasarkan kondisi saat ini. Jika penghasilan Rp8 juta per bulan, target menabung Rp6 juta setiap bulan mungkin tidak realistis jika kebutuhan wajib sudah menghabiskan sebagian besar pendapatan.
Target yang terlalu berat sering membuat rencana berhenti setelah beberapa bulan.
Realistic
Tujuan perlu mempertimbangkan kemampuan keuangan dan prioritas lain. Kamu mungkin memiliki beberapa target sekaligus, tetapi tidak semuanya harus dikejar dengan kecepatan yang sama.
Tujuan yang realistis justru lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Timely
Setiap tujuan perlu memiliki batas waktu. Tanpa tenggat, kebutuhan menabung per bulan tidak dapat dihitung dengan jelas.
“Menyiapkan Rp24 juta” berbeda dengan “menyiapkan Rp24 juta dalam dua tahun”. Pada target dua tahun, kebutuhan rata-ratanya sekitar Rp1 juta per bulan sebelum memperhitungkan hasil simpanan atau investasi.
Hitung Berapa Dana yang Dibutuhkan
Setelah tujuan dan waktunya jelas, hitung kebutuhan dananya.
Misalnya kamu ingin menyiapkan Rp36 juta untuk pendidikan dalam tiga tahun. Jika belum memiliki dana awal dan mengabaikan hasil investasi untuk perhitungan sederhana, kebutuhan setoran rata-rata sekitar Rp1 juta per bulan.
Untuk tujuan yang lebih panjang, gunakan estimasi kebutuhan masa depan, bukan hanya harga hari ini.
Jika biaya yang dibutuhkan sekarang Rp100 juta dan masih akan digunakan beberapa tahun lagi, nilainya kemungkinan meningkat karena inflasi. Karena itu, masukkan asumsi kenaikan biaya yang masuk akal dalam perencanaan.
Kamu tidak harus menebak secara sempurna. Lebih baik menggunakan estimasi lalu memperbaruinya secara berkala daripada tidak menghitung sama sekali.
Masukkan Inflasi dalam Target Jangka Panjang
Inflasi mengurangi daya beli uang. Nominal yang cukup hari ini belum tentu cukup lima atau sepuluh tahun lagi.
Misalnya biaya pendidikan saat ini Rp50 juta. Jika biaya tersebut terus meningkat setiap tahun, kebutuhan pada masa depan dapat jauh lebih tinggi.
Untuk tujuan seperti pendidikan, rumah, atau pensiun, gunakan proyeksi yang konservatif dan lakukan pembaruan setiap tahun. Jika biaya aktual tumbuh lebih cepat dari perkiraan, setoran dapat disesuaikan sejak dini.
Jangan hanya fokus mengejar return investasi untuk menutup inflasi. Hal yang lebih penting adalah memastikan nominal target memang diperbarui mengikuti perubahan biaya.
Tentukan Prioritas jika Tujuan Terlalu Banyak
Masalah umum dalam perencanaan keuangan bukan kekurangan tujuan, tetapi terlalu banyak tujuan yang dikejar sekaligus.
Jika seluruh target dibagi rata tanpa prioritas, tidak ada satu pun yang mendapatkan dana cukup.
Pisahkan tujuan menjadi tiga kelompok:
wajib dan mendesak, seperti kebutuhan pokok, dana darurat, atau utang bermasalah;
penting tetapi bisa dijadwalkan, seperti uang muka rumah atau biaya pendidikan;
keinginan yang lebih fleksibel, seperti liburan atau pembelian barang non-esensial.
Prioritas dapat berubah mengikuti kondisi hidup. Ketika penghasilan turun, tujuan yang sifatnya fleksibel dapat ditunda agar kebutuhan penting tetap aman.
Sesuaikan Instrumen dengan Waktu Penggunaan Dana
Setelah mengetahui target dan tenggat, barulah pilih tempat menyimpan atau mengembangkan dana.
Untuk tujuan yang akan digunakan dalam waktu dekat, hindari menempatkan seluruh dana pada aset yang sangat berfluktuasi. Risiko terbesar bukan hanya nilai turun, tetapi terpaksa menjual saat harga sedang rendah karena waktu penggunaan dana sudah tiba.
Untuk target jangka panjang, kamu memiliki waktu lebih banyak untuk menghadapi perubahan pasar. Namun, pilihan tetap harus disesuaikan dengan profil risiko, pengetahuan, dan kebutuhan likuiditas.
Jangan memilih produk hanya karena return historisnya tinggi. Produk harus cocok dengan fungsi uang tersebut.
Contoh Membuat Tujuan Keuangan
Misalnya seseorang berpenghasilan bersih Rp10 juta per bulan dan memiliki tiga target:
Dana darurat Rp30 juta dalam dua tahun.
Liburan Rp12 juta dalam satu tahun.
Uang muka rumah Rp150 juta dalam lima tahun.
Jika seluruh target dihitung secara sederhana tanpa hasil investasi, kebutuhan setoran bulanannya akan cukup besar. Dalam kondisi seperti ini, orang tersebut perlu menentukan prioritas.
Dana darurat dapat ditempatkan sebagai prioritas utama karena berfungsi melindungi rencana lain. Target liburan bisa diperkecil atau tenggatnya diperpanjang. Uang muka rumah dapat tetap berjalan dengan setoran lebih kecil terlebih dahulu lalu dinaikkan ketika pendapatan bertambah.
Perencanaan yang baik bukan memaksa semua target tercapai bersamaan, tetapi membuat urutan yang masuk akal berdasarkan kemampuan.
Gunakan Kenaikan Penghasilan untuk Mempercepat Target
Ketika gaji naik, bonus diterima, atau penghasilan tambahan muncul, jangan langsung menaikkan seluruh pengeluaran rutin.
Sebagian kenaikan tersebut dapat diarahkan ke tujuan keuangan. Cara ini membuat setoran bertambah tanpa harus mengurangi gaya hidup secara ekstrem dari kondisi sebelumnya.
Misalnya setoran rumah awalnya Rp1,5 juta per bulan. Setelah penghasilan naik, setoran dapat ditingkatkan menjadi Rp2 juta atau Rp2,5 juta.
Kenaikan kecil yang dilakukan konsisten dapat mempersingkat waktu pencapaian secara signifikan.
Review Tujuan Secara Berkala
Tujuan keuangan bukan kontrak yang tidak boleh berubah. Kondisi hidup, pendapatan, inflasi, dan prioritas dapat berubah.
Lakukan review setidaknya beberapa bulan sekali atau ketika terjadi perubahan besar seperti pindah kerja, menikah, memiliki anak, membeli rumah, memulai usaha, atau mengalami perubahan pendapatan.
Saat review, periksa tiga hal:
apakah nominal target masih realistis;
apakah tenggat masih sesuai;
apakah setoran bulanan masih cukup untuk mengejar target.
Jika tidak, sesuaikan lebih awal. Memperpanjang tenggat atau menaikkan setoran sedikit lebih mudah daripada menyadari kekurangan dana ketika waktu sudah terlalu dekat.
Tujuan Keuangan Membuat Keputusan Lebih Mudah
Tujuan keuangan membantu kamu menentukan mana pengeluaran yang penting dan mana yang bisa ditunda. Uang yang tadinya hanya “ditabung” berubah menjadi dana dengan fungsi yang jelas.
Mulailah dari target yang paling penting, tentukan nominal dan tenggat, hitung kebutuhan setoran, lalu pilih strategi yang sesuai dengan waktunya. Setelah itu, lakukan review secara berkala.
Tujuan tidak harus langsung sempurna. Yang penting, setiap target memiliki angka, waktu, dan alasan yang jelas sehingga keputusan keuangan sehari-hari dapat bergerak ke arah yang sama.