ZIGI – CEO Tesla, Elon Musk yang menjadi orang terkaya di dunia resmi didaulat sebagai Person of the Year 2021 oleh majalah Time. Sayangnya, mantan pacar Grimes ini kini diperbincangkan karena perang cuitan dengan senator Amerika Serikat Elizabeth Warren soal pajak hingga membuat gaduh netizen.

Lantas, apa yang membuat Elon Musk dan Elizabeth Warren adu argumen di media sosial Twitter? Benarkah Elon Musk tidak mau bayar pajak meski menjadi salah satu orang paling kaya di dunia? Yuk, simak berita selengkapnya di bawah ini.

Baca Juga: Elon Musk Berencana Tanamkan Chip di Otak Manusia Tahun 2022

Elon Musk Disebut Curang Bayar Pajak

Melalui akun Twitternya @SenWarren, Senator AS Elizabeth Warren menyebut orang terkaya di dunia Elon Musk sebagai pekerja lepas karena membayar pajak penghasilan sebesar $0 dalam beberapa tahun terakhir. Elon Musk tidak terima dengan tudingan tersebut dan menegaskan bahwa dia menjadi pembayar pajak terbesar di Amerika Serikat.

"Mari kita ubah kode pajak yang dicurangi sehingga Person of the Year (Elon Musk-red) benar-benar membayar pajak dan berhenti membebani orang lain," cuit Elizabeth Warren dikutip Zigi.id dari akun Twitternya, Kamis, 16 Desember 2021.

Setelah sempat menghindar, Elon Musk akhirnya membalas tudingan Warren tersebut, "Kamu mengingatkan saya ketika saya masih kecil dan teman saya yang marah. Ibu akan secara acak meneriaki semua orang tanpa alasan," katanya dalam satu tweet.

"Dan jika kau membuka matamu selama 2 detik, kau akan menyadari bahwa aku akan membayar lebih banyak pajak daripada orang Amerika mana pun dalam sejarah tahun ini," sambung Elon Musk.

 

Klaim Elon Musk tersebut dianggap tidak berlebihan karena hartanya saat ini mencapai $251 miliar (Rp3,5 triliun) menurut laporan Real Time Billionaires Forbes. Akan tetapi berdasarkan penyelidikan oleh ProPublica tahun 2018, Elon Musk dan beberapa miliarder lainnya tidak membayar pajak.

Sumber Kekayaan Elon Musk

Melansir dari CNN, kekayaan bersih Elon Musk sebagian besar berasal dari kepemilikannya di Tesla. Meski demikian, kepemilikannya terhadap perusahaan antaraiksa SpaceX juga menjadi sumber hartanya yang signifikan.

Selama bertahun-tahun, kedua perusahaan itu dilaporkan mendapat keuntungan besar dari dukungan pembayar pajak di Amerika Serikat. Tesla disebut-sebut menerima setidaknya $6 miliar (Rp86 triliun) dari berbagai kredit pajak untuk kendaraan listriknya, sedangkan SpaceX menandatangani kontrak dengan pemerintah senilai sekitar $10 miliar (Rp143 triliun).

Disadur dari situs Boston Globe, pencapaian itulah yang membuat Elon Musk dinobatkan sebagai Person of the Year 2021 oleh majalah Time. Pasalnya, dia mampu mengubah startup kendaraan listriknya Tesla, menjadi perusahaan senilai $1 triliun.

“Beberapa individu memiliki pengaruh lebih besar daripada Elon Musk pada kehidupan di bumi, dan berpotensi kehidupan di luar bumi juga. Dia melihat misinya sebagai memecahkan tantangan paling sulit di dunia, di sepanjang jalan mengganggu banyak industri,” demikian tulis majalah Time dalam sebuah artikel yang menjelaskan pilihannya sebagai sosok yang inovatif dan seringkali kontroversial.

Person of the Year merupakan penghargaan yang rutin diberikan majalah Time kepada para pemimpin dunia seperti Barack Obama dan terkadang pelaku bisnis seperti Mark Zuckerberg.

Elon Musk meraih titel tersebut usai pada bulan Januari 2021, kekayaannya melampaui Jeff Bezos dengan peningkatan harta mencapai $ 100 miliar (Rp1,4 triliun). Terbaru, Elon Musk justru dituding tidak bayar pajak oleh Elizabeth Warren selaku senator Amerika Serikat.

Baca Juga: Elon Musk Siap Jual Saham Tesla, Ditantang PBB Atasi Kelaparan Dunia

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.