Peran BTS, Parasite Hingga Squid Game Sebar Korean Wave Selama Pandemi

Berbagai sumber
Squid Game, BTS, Parasite
30/11/2021, 21.20 WIB

ZIGI – New Southern Policy Forum ke-4 diadakan pada Selasa, 30 November 2021 dengan menyasar peserta diskusi dari ASEAN. Korea Selatan menjadi contoh paling baik ketika menyangkut perkembangan budaya dengan memanfaatkan konten digital.

Dalam forum kerja sama ASEAN-ROK (Republik of Korea) para pakar turut menyinggung peran besar BTS, Squid Game hingga Parasite. Para ahli berbicara tentang perkembangan hallyu, film, dan festival musik ASEAN. Simak diskusi lengkapnya di artikel ini!

Perluasan Hallyu dari Parasite Hingga BTS

Foreign Policy Community of Indonesia mengadakan New Southern Policy Forum ke-4 dengan tema kerja sama di bidang kebudayaan antara ASEAN-ROK selama masa pandemi Covid-19. Forum diskusi ini bertujuan untuk memahami bagaimana kebudayaan dapat dikembangkan meski ada pembatasan aktivitas selama pandemi.

Sepanjang pandemi, alih-alih mengalami penurunan, kebudayaan Korea Selatan justru semakin menyebar luas lewat konten online. Situasi ini membuat banyak pemangku kebijakan sadar bahwa penguatan industri kreatif sangat diperlukan.

Dalam konteks Korsel, Parasite karya sutradara Bong Jong Hoon peraih Oscars memiliki dampak besar karena memberikan pandangan baru tentang perkembangan film Asia terutama kepada para penonton Amerika Serikat dan Eropa. Sebelumnya kelompok masyarakat ini cenderung menghindari film Asia karena harus menggunakan subtitle.

 

Selain Parasite dan serial Squid Game, pengaruh BTS juga sangat kuat dalam globalisasi k-pop. Grup asuhan HYBE Labels ini memberikan sumbangsih besar hingga membuat total penggemar k-pop mencapai lebih dari 100 juta. Idol ini juga berhasil menduduki puncak TOP Billboard 200 hingga lima kali.

Mengenal Konsep Hallyu

Lebih luas lagi, sejak September 2021, Oxford English Dictionary memasukkan kata Korea antara lain Hallyu, K-drama, dan mukbang. Hal ini menunjukan dominasi budaya Korea begitu masif di tingkat global yang biasa disebut sebagai Hallyu atau Korean Wave.

Menurut Andrew Eungi Kim dari Universitas Korea, Hallyu adalah soft power yang berkembang seiring dengan peningkatan ekonomi negara Korsel. Lebih lanjut menurutnya, untuk bisa menghasilkan konten berkualitas maka perlu dukungan dana yang besar. Sehingga tidak bisa melepaskan pengaruh Hallyu dengan situasi ekonomi di nengara tersebut.

Korean Wave jadi contoh pertama yang berhasil mempopulerkan budaya lewat konten digital dimulai dari lagu hingga drama. Pengaruh budaya Korea jadi semakin luar karena adanya peningkatan dalam aktivitas digital selama pembatasan aktivitas.

Pada satu titik tertentu, Hallyu bisa menjadi alat diplomasi antar negara. Semakin tinggi permintaan atas konten k-pop, maka akan semakin tinggi daya tawar Korsel di negara lain. Meskipun bagi Andrew ada kemungkinan hal ini juga tidak terjadi.

 

ASEAN-Korea Music Festival Beri Kesempatan Antar Negara Saling Mengenal

ASEAN-Korea Music baru saja mengadakan festival pada tahun 2020. Para musisi yang tampil adalah penyanyi dari berbagai negara di ASEAN. Acara ini menggunakan Pop Culture sebagai tema utama, membuat setiap orang yang terlibat memahami perkembangan musik di tiap negera. Begitu juga dengan adanya peningkatan persaudaraan dan pengetahuan antar negara.

Festival ini dijadwalkan untuk diselenggarakan secara offline, tapi pandemi memaksa acara harus dibuat online. Kukchan Hwang, perwakilan KBS yang ikut merencanakan Festival musik tersebut mengaku ada banyak perubahan dalam konsep tapi tidak mengubah esensi. Lebih lanjut, ia mengatakan konser online justru membuat interaksi penonton global menjadi lebih dekat.

Kelas Film di Korea Selatan Semakin Populer

Korea Selatan tidak hanya dikenal memproduksi lagu, tapi juga film. drama, dan series. Kesuksesaan Squid Game hingga Hellbound menjadi penanda kokohnya dominasi sinema Korsel di internasional. Ahn Jihye, Manajer Busan Asian Film School, mengakui Korea menjadi salah satu rujukan untuk belajar dunia perfilman.

Oleh karena itu penting bagi Busan Asian Film untuk mengadakan kelas rutin. Dari kelas yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara maka diharapkan kualitas film ASEAN juga mengalami peningkatan.

New Southern Policy Forum ke-4 mengangkat tema ASEAN-ROK Culturan Cooperation in the Post Covid-19 Era dibuka oleh H.E. Lim Sungnam selaku duta besaar Korea Selatan untuk ASEAN dan ditutup oleh Dr. Dino Patti Djalal, founder Foreign Policy Community of Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.