Ekonomi Indonesia Mengalami Perlambatan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I2014 mengalami perlambatan Badan Pusat Statistik BPS mencatat ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 521 persen secara year on year yoyPada periode yang sama tahun lalu pertumbuhan ekono
Image title
Oleh
5 Mei 2014, 11:10
pertumbuhan-ekonomi-indonesia.jpg
KATADATA/
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2014 mengalami perlambatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 5,21 persen secara year on year (yoy).Pada periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,02 persen.  

Kepala BPS Suryamin mengatakan perlambatan pertumbuhan pada kuartal I ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, adanya perubahan cuaca yang menyebabkan pergeseran masa panen. ?Ada perlambatan bahan makanan, dampak dari pergeseran tanam dan panen akibat banjir,? kata dia di Jakarta, Senin (5/5).  

Faktor kedua, dia menyebutkan, kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bahan mineral pada awal Januari lalu turut memperlambat pertumbuhan. Persoalannya, larangan ekspor tersebut menyebabkan ekspor mineral mentah turun 77,28 persen. Hal ini ikut mempengaruhi sektor perdagangan dan industri.  

?Sedangkan ke investasi, tumbuh karena ada relokasi ke smelter. Jadi pengaruh ore relatif signifikan karena ada dampak ikutannya,? jelas Suryamin.  

Advertisement

Namun ia mengatakan, dalam jangka panjang dampak dari larangan ekspor ini akan lebih baik. Mengingat harga komoditas dan permintaan global terhadap komoditas saat ini juga sedang menurun.  

?Dalam jangka panjang larangan ini bagus. Tapi awal-awalnya saya kira (pertumbuhan ekonomi) 5,21 persen masih bagus. Kuartal II dan III bisa kita switch ke yang lain, karena komoditas ekspor kita kan banyak,? tuturnya.  

Faktor ketiga adalah adanya perlambatan di sektor perdagangan dari  6,5 persen pada tahun lalu menjadi  4,9 persen. Salah satu penyebabnya, kata dia, adalah dampak aturan minerba dan menurunnya impor barang dan jasa.  

Adapun faktor keempat akibat adanya perlambatan di sektor perbankan, terutama akibat kenaikan suku bunga kredit.  

Namun dengan adanya pemilu, Suryamin mengatakan perlambatan tersebut dapat diredam. ?Kampanye di sisi konsumsi dan harga perkebunan yang bagus. Dampak Pemilu konsumsi meningkat, tak hanya yang dibeli sendiri tapi juga dapat dari pembagian " ujarnya.  

Sementara sektor-sektor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yakni pertanian, kehutanan, perikanan sebesar 22,79 persen, keuangan, real estate dan jasa perusahaan sebesar 2,19 persen, dan pengangkutan dan komunikasi sebesar 1,11 persen.  

Secara tahunan, sektor yang berkontribusi tertinggi adalah sektor pengangkutan dan komunikasi 10,23 persen, konsumsi 6,54 persen, dan listrik dan gas sebesar 6,52 persen.  

Sedangkan menurut pengeluaran secara kuartalan (qtq), pengeluaran konsumsi rumah tangga naik 0,70 persen. Sementara konsumsi pemerintah menurun 44,17 persen, karena pola pada kuartal pertama, dengan anggaran pemerintah yang belum keluar. Secara yoy, konsumsi rumah tangga naik 5,61 persen, dan pengeluaran konsumsi pemerintah 3,58 persen.  

Sementara pembentukan modal tetap bruto mengalami penurunan 5,62 persen secara qtq dengan ekspor yang menurun 11,44 persen dan impor turun sebesar 12,93 persen. Sedangkan secara yoy, pembentukan modal tetap bruto tumbuh 5,13 persen, ekspor turun 0,78 persen, dan impor turun 0,66 persen.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait