Gang Baru dan Para Mbok Gendong yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Ajeng Dwita Ayuningtyas
6 September 2026, 11:45
Mbok Kari saat diwawancarai Jurnalis Katadata di Pasar tradisional tertua di Semarang, Pasar Gang Baru di kawasan pecinan, Selasa (2/9).
Ajeng Dwita Ayuningtyas I Katadata
Mbok Kari saat diwawancarai Jurnalis Katadata di Pasar tradisional tertua di Semarang, Pasar Gang Baru di kawasan pecinan, Selasa (2/9).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pasar tradisional tertua di Semarang, Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan, terlihat ramai saat Katadata menyambanginya pada Selasa (2/9) pagi, tapi tidak menurut pandangan Mbok Gendong.

“Pasarnya sepi, jadi Mbok Gendong-nya juga sepi, saya cuma ngangkut itu tadi satu tok,” ujar Mbok Kari di tengah riuhnya suara tawar-menawar dan alunan lagu dangdut dari pengeras suara.

Mbok Kari bekerja sebagai Mbok Gendong, sebutan untuk para wanita yang menawarkan jasa membawakan atau menggendong barang. Dulunya, pasar tradisional di gang sempit ini, lekat dengan pemandangan para Mbok Gendong yang berlalu lalang mengangkut barang.  

Setiap hari selama puluhan tahun, Mbok Kari menempuh perjalanan puluhan kilometer dari Demak, kabupaten yang terletak di sisi timur Kota Semarang. 

Dia sampai pagi-pagi buta di pasar, menawarkan jasanya hingga siang bolong. Kliennya biasanya tengkulak yang berbelanja dalam jumlah banyak.

Dia akan menemani kliennya menyusuri pasar sembari menggendong belanjaan, lalu mengantarkannya ke kendaraan yang terparkir di ujung gang. Yang diangkut bermacam-macam, seperti beras, sayuran, buah, dan daging.

Di usia yang sudah menginjak kepala enam, Mbok Kari masih terlihat gesit menawarkan jasanya. “Bu, blonjone gendongke ra?”  begitu kira-kira dia menawarkannya.

Dia tidak punya "tarif resmi" untuk jasanya. Namun biasanya, tarif tergantung bobot dan kliennya. “Ada yang Rp15.000, Rp17.000, Rp20.000, tinggal gimana yang punya uang,” ucapnya.

Pagi itu, dia baru mendapat satu orderan untuk mengangkut belanjaan. Seseorang menggunakan jasanya dan memberikan upah Rp19.000. 

Untuk menambah penghasilan, para Mbok Gendong memperluas lini jasanya. Jika tidak sedang membantu bawa belanjaan, mereka kerap menjajakan dagangan milik pedagang di pasar. “Ini saya kelilingkan karena kasian sama penjualnya, kadang saya juga diberi upah Rp10.000,” ucapnya.

Hari itu, dia juga nyambi menjajakan barang dagangan orang. Tangan kanannya membawa tas berisi tahu dan ikan, sedangkan tangan kirinya membawa beberapa plastik manggis dan jeruk yang sudah dikemas per kilo. 

Dia berkeliling menawarkan, sambil sesekali bergurau dengan warga lainnya. “Bu, iki tahune tak iderke, murah. Ojo ngko, ngko yo enthek,” ucap Mbok Kari. Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya: “Bu, ini tahu saya kelilingkan, murah. Kalau nanti-nanti, keburu habis.”

Mbok Kari sudah tak ingat sejak kapan sudah menjalani pekerjaan ini. Yang jelas, dia akhirnya meninggalkan bangku sekolah karena menggendong. Dari pekerjaannya ini, dia menghidupi ketujuh anaknya. 

Mbok Kari saat menjajakan dagangan penjual di Pasar Gang Baru, kawasan Pecinan, Semarang.
Mbok Kari saat menjajakan dagangan penjual di Pasar Gang Baru, kawasan Pecinan, Semarang. (Ajeng Dwita Ayuningtyas I Katadata)

Ratusan Tahun Bertahan, Gang Baru Direvitalisasi Agar Tetap Hidup

Pasar Gang Baru, tempat Mbok Kari berpuluh tahun mencari nafkah, lahir pasca-peristiwa kelam Geger Pacinan yang berlangsung pada 1740-1743.

Geger Pacinan merupakan perang antara persekutuan dagang Belanda VOC dan kelompok Tionghoa serta Jawa. Perang ini meluas ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pasca-perang, warga Tionghoa yang bermukim di kawasan tersebut membutuhkan pasokan kebutuhan sehari-hari yang dekat dari hunian. Lambat laun, pedagang sayur, hasil bumi, hingga daging segar dari berbagai daerah mulai menggelar lapak di sepanjang koridor permukiman.

Aktivitas perdagangan yang semakin ramai membuat kawasan ini dikenal sebagai Gang Baru, untuk membedakannya dari gang-gang permukiman yang telah lebih dulu ada.

Kawasan Gang Baru pun terus bertransformasi. Menjelang akhir abad ke-19, kemakmuran para saudagar di Pecinan mengubah wajah rumah-rumah kayu sederhana menjadi bangunan permanen yang lebih megah.

Pasar Gang Baru kemudian direvitalisasi secara bertahap dengan dukungan Pemerintah Kota Semarang dan diresmikan pada tahun lalu. Harapannya, gang sempit yang mendekap sejarah Semarang ini bisa terus hidup, juga menghidupi para perempuan tangguh seperti Mbok Kari dan para Mbok Gendong lainnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...