Investor EBT Masih Ragu Investasi di Indonesia, Pemerintah Siapkan Insentif
Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM menyatakan investor di sektor energi baru dan terbarukan atau EBT masih menunggu perkembangan pasar di dalam negeri. Karena itu, insentif bagi pengguna EBT dinilai penting untuk memicu terbentuknya pasar EBT nasional.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM, Nurul Ichwan, saat ini banyak investor EBT yang masih enggan melakukan investasi di Indonesia. Pasalnya, mereka khawatir produksi EBT di Indonesia tidak terserap di pasar Tanah Air. Jika terjadi, hal itu bisa membiayai beban operasional karena listrik tidak bisa tersimpan.
"Kita harus mempertimbangkan bahwa investasi yang masuk ke EBT itu harus bisa dikonsumsi publik. Pemberian insentif yang kita lakukan saat ini memberikan kemudahan pada pelaku industri dalam penggunaan EBT," kata Nurul di kantornya, Rabu (13/8).
Investasi EBT Masih Bergantung pada Asing
Nurul mengatakan pasar EBT menjadi faktor penting lantaran mayoritas investasi sektor tersebut berasal dari swasta asing. Dengan kata lain, tujuan utama investasi EBT adalah pengembalian investasi yang kompetitif.
"Kawan-kawan investor saat mau berinvestasi, pertanyaan yang selalu muncul pertama adalah pasar. Menurut saya, para investor masih dalam fase wait and see sampai pasar EBT di Indonesia berkembang dengan baik," katanya.
Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menyatakan investasi di EBT membutuhkan waktu. Sebab, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025-2034 baru terbit pada medio kuartal kedua tahun ini.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Muhammad Rachmat Kaimuddin memperkirakan penjajakan investasi EBT secepatnya terjadi akhir tahun ini. Menurutnya, rencana pemerintah dalam RUPTL 2025-2034 telah cukup ambisius.
Rachmat mencatat kapasitas 80% dari kapasitas produksi listrik nasional yang mencapai 77 gigawatt berasal dari energi fosil. Adapun 60% dari energi fosil tersebut berbentuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap dari pembakaran batu bara.
Adapun RUPTL 2025-2034 menargetkan penambahan kapasitas produksi listirk sejumlah 69,5 gigawatt. Rachmat menyampaikan 75% dari target penambahan produksi listrik tersebut merupakan EBT, sedangkan energi fosil hanya 25% yang terdiri dari batu bara sekitar 10% dan gas sekitar 15%.
"Namun harus diingat bahwa ini rencana produksi listrik selama 10 tahun ke depan. Salah satu tugas kami adalah menjaga rencana tersebut, karena tujuan akhir RUPTL 2025-2034 adalah realisasi," katanya.
