Bahlil Sebut Wacana Ekspor Listrik ke Singapura Masih Buntu, Apa Hambatannya?
Rencana ekspor listrik Indonesia ke Singapura belum mencapai kesepakatan final. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, kondisi itu karena belum kedua belah pihak belum sepakat mengenai harga.
Ia mengatakan Indonesia siap mengirim listrik ke Singapura setelah persoalan harga sudah disepakati.
“Saya punya negosiasi menyangkut kirim listrik ke Singapura, belum deal karena harganya belum clear, kalau harganya clear saya akan kirim,” kata Bahlil dalam Bali Tech Week 2026 di Sanur, Bali, Senin (19/10).
Adapun Singapura telah memberikan persetujuan dan lisensi bersyarat kepada tujuh perusahaan Indonesia dengan total kapasitas sekitar 3,4 gigawatt (GW). Meski demikian, implementasi proyek tidak langsung dilakukan dalam kapasitas penuh. Proyek akan dimulai dari sekitar 600 megawatt (MW) sebelum ditingkatkan secara bertahap.
Butuh Investasi Jumbo
Di samping itu, CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro menyebut proyek tersebut membutuhkan investasi jumbo.
Menurut Donny, besarnya kebutuhan investasi tersebut antara lain disebabkan oleh karakteristik proyek yang tidak hanya mengandalkan pembangkit energi terbarukan yang bersifat intermiten. Pengembangan proyek juga membutuhkan infrastruktur pendukung agar pasokan listrik dapat dikirim secara andal ke Singapura.
“Kalau kita lihat market testing untuk financing, dan satu proyek itu butuh 600-700 MW, itu salah satu mandat dari tujuh mandat yang ada. Itu butuh sekitar US$ 10 miliar – US$ 20 miliar” kata Donny dalam diskusi di acara Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/8).
Angkanya Rp 176,9 triliun – Rp 354 triliun, jika dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp 17.687 per dolar AS.
Dia mengatakan Standard Chartered Indonesia menjadi salah satu penasihat keuangan untuk proyek yang dikembangkan Total Energies dan RGE tersebut. Dari sisi pembiayaan, Donny mengatakan proyek ekspor listrik tersebut telah menarik minat investor. Bahkan, investor dengan nilai tiket investasi minimum sekitar US$ 500 juta atau Rp 8,84 triliun disebut telah melebihi kapasitas yang tersedia.
“Market testing, ticket size buat investor yang mau masuk minimum US$ 500 juta. Itu oversubscribed,” ujarnya.
Donny menilai ekspor listrik ke Singapura dapat memberikan sejumlah manfaat bagi Indonesia. Selain membuka kebutuhan investasi dalam jumlah besar, proyek ini berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan devisa dari ekspor energi.
“Buat Indonesia sebetulnya very beneficial. Satu lapangan pekerjaan, kedua devisa ekspor,” ujarnya.
Dia juga menilai perdagangan listrik lintas negara dapat memberikan posisi tawar bagi Indonesia karena Indonesia akan menjadi salah satu pemasok listrik bagi Singapura.
“Yang ketiga ya Indonesia punya bargaining position yang cukup kuat politiknya juga, karena kita yang kirimkan listrik ke Singapura,” katanya.
