Pertanyakan MLFF, Operator Bantah Kemacetan Tol karena Sistem Bayar
Asosiasi Jalan Tol Indonesia atau ATI menolak alasan kemacetan di gerbang tol sebagai pertimbangan implementasi sistem transaksi jalan tol non-tunai tanpa sentuh dan tanpa berhenti, yang dikenal sebagai Multi Lane Free Flow (MLFF). Menurutnya, penanganan kemacetan di jalan tol harus dilakukan secara komprehensif.
Sekretaris Jenderal ATI, Kris Ade Sudiyono, mengatakan penyebab utama kemacetan di gerbang tol bukan sistem transaksi, tapi kemacetan di jalan arteri. Kris berargumen padatnya kendaraan di jalan arteri akhirnya merangsek ke dalam jalan tol.
"Kalaupun ada modernisasi sistem transaksi, saya menilai gerbang tol bisa tetap macet kalau jaringan arteri juga terjadi kemacetan. Jadi, penanganan kemacetan di jalan tol harus dilihat secara komprehensif," kata Kris di Gedung DPR, Senin (26/5).
Kris menyampaikan kemacetan di gerbang tol akibat kepadatan di jalan arteri umumnya ditemukan pada Tol Dalam Kota Jakarta. Gerbang tol keluar jalan bebas hambatan tersebut tetap padat walaupun pengguna jalan tidak harus menempelkan kartu uang elektronik lantaran telah memakai sistem satu tarif.
Selain itu, Kris berpandangan kemacetan gerbang tol hanya terjadi pada angkutan lebaran. Tingkat kepadatan di gerbang tol selain lebaran terbilang teratur.
"Saya katakan tidak ada kemacetan di gerbang tol untuk teman-teman yang ke luar kota. Kalau selama Hari Raya Lebaran, saya mengakui terjadi penumpukan di gerbang tol, tapi itu peristiwa satu kali dalam setahun," ujarnya.
Kartu Uang Elektronik Dituding Sebabkan Macet Jalan Tol
Sebelumnya, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama kemacetan di jalan tol adalah saldo kartu uang elektronik (KUE) yang tidak cukup. Hal ini terbukti di Tol Solo-Yogyakarta ruas Klaten-Prambanan yang menjadi salah satu titik padat dengan volume lalu lintas tertinggi pada angkutan lebaran 2025 mencapai 351.339 kendaraan.
"Kepadatan di gerbang tol bukan disebabkan oleh pintu tol itu sendiri, namun lebih kepada gerbang tol yang menyediakan layanan pengisian KUE," ujar Diana di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (23/4).
Menurut Diana, walaupun operator tol menyediakan layanan pengisian KUE di gerbang, waktu yang dibutuhkan untuk proses pengisian seringkali melebihi standar waktu transaksi 4-10 detik per kendaraan, sehingga mengakibatkan antrian panjang.
Sistem MLFF akan membuat transaksi di gerbang tol dengan kartu uang elektronik diganti dengan aplikasi Cantas yang terhubung dengan dompet elektronik di gawai pengguna jalan tol. Sistem pemosisi global atau GPS dalam gawai pengguna jalan tol akan direkam oleh satelit dalam penentuan tarif.
Proyek MLFF dikerjakan oleh PT Roatex Indonesia Toll System atau RITS. Sistem yang ditawarkan RITS menggunakan teknologi sistem navigasi satelit global atau global navigation satellite system atau GNSS. Teknologi ini akan menentukan lokasi pengguna jalan tol bersamaan dengan proses map-matching di sistem utama RITS.
Saat kendaraan keluar tol dan proses map-matching berakhir, sistem akan melakukan kalkulasi tarif dan menarik saldo pengguna jalan tol melalui Cantas. Fungsi gerbang tol dalam sistem MLFF akan digantikan dengan gantri yang akan menangkap gambar kendaraan pengguna tol melalui kamera.
Kepala Badan Pengelola Jalan Tol Miftachul Munir menyatakan implementasi sistem pembayaran nontunai nirsentuh berbasis multi lane free flow atau MLFF tidak mungkin dilakukan pada paruh pertama tahun ini. Regulator belum dapat memastikan apakah MLFF dapat diterapkan pada 2025.
Munir mengatakan setidaknya ada dua faktor yang harus diperbaiki sebelum penerapannya, yakni sinkronisasi Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dengan nomor polisi dan perilaku berkendara di dalam negeri. Munir menekankan perlu ada masa transisi sebelum penerapan MLFF secara penuh.
"Manfaat implementasi MLFF itu banyak, tapi kalau sekarang mudaratnya juga banyak. Masa kami mau nekat melaksanakan MLFF?" kata Munir di kantornya, Jakarta, Jumat (21/3).
