Menkes Kritik Bayer Minim Investasi Farmasi di RI: Pasar Bisa Tembus Rp 1.451 T

Andi M. Arief
14 Januari 2026, 15:24
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) berbincang dengan Head of Bayer Supply Center Consumer Health Cimanggis Priscilla Silvan Prarizta (kiri), disaksikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Federal Jerman untuk Indonesia Ralf B
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/rwa.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) berbincang dengan Head of Bayer Supply Center Consumer Health Cimanggis Priscilla Silvan Prarizta (kiri), disaksikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Federal Jerman untuk Indonesia Ralf Beste (kedua kanan) dan Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah (kanan) saat peresmian peningkatan fasilitas manufaktur serta produksi Multiple Micronutrient Supplement (MMS) dan penguatan Bayer Global R&D Center di Bayer Supply Center Consumer Health, Cima
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan kritik kepada Bayer AG terkait minimnya investasi farmasi di Indonesia. Menurutnya, lonjakan belanja kesehatan nasional menjadikan Indonesia pasar yang terlalu besar untuk diabaikan oleh perusahaan farmasi global.

Mantan bankir ini menghitung pengeluaran jasa kesehatan per kapita nasional akan naik dari US$ 140 saat ini menjadi US$ 300 dalam waktu 5 tahun. Alhasil, pasar industri kesehatan nasional akan tumbuh menjadi menjadi US$ 86 miliar atau Rp 1.451,25 triliun pada 2031 seiring naiknya angka harapan hidup dari 72 tahun menjadi 76 tahun pada 2031.
 
"Kalau saya CEO Bayer, saya akan menargetkan pangsa pasar farmasi nasional 10% dan bisa menikmati peluang pendapatan tambahan US$ 8,6 miliar. Kalau kalian tidak melihat peluang ini, maka kalian antara buta atau bodoh," kata Budi di Pabrik PT Bayer Indonesia, Rabu (14/1).

Budi mencatat nilai aset konsolidasi Bayer AG mencapai sekitar US$ 44 miliar. Dengan demikian, industri kesehatan di dalam negeri berpotensi mendatangkan dua perusahaan sebesar Bayer hingga 2031.

Di samping itu, Budi memproyeksikan pengeluaran layanan kesehatan per kapita nasional akan terus naik menjadi US$ 3.100 selambatnya 2040. Saat itu, pasar industri layanan kesehatan nasional diramal mencapai US$ 860 miliar per tahun.

Seperti diketahui, Bayer memiliki tiga lini bisnis utama, yakni pertanian, farmasi, dan consumer health.  Budi menemukan Bayer telah memiliki dua pabrik yang menghasilkan produk industri pertanian dan satu pabrik consumer health di dalam negeri.

Budi mencatat pendapatan terbesar Bayer berasal dari bisnis produk pertanian, lalu diikuti farmasi dan consumer health. Karena itu, Budi menilai seharusnya Bayer memiliki dua pabrik yang tergabung dalam ekosistem industri farmasi di dalam negeri.

"Kenapa Bayer sebaiknya membangun pabrik farmasi di Indonesia? Karena kami memiliki peluang pasar yang besar, biaya tenaga kerja yang relatif murah, dan keahlian tenaga kerja yang kompeten," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...