Malaysia Buka Peluang Investasi Semikonduktor di Indonesia
Negara bagian Malaysia, Sarawak, membuka peluang investasi di sektor semikonduktor di Indonesia. Meski masih tergolong baru di dunia semikonduktor, Sarawak telah memiliki fasilitas pendidikan khusus, serta pengembangan AI power chip.
“Kami harus bisa memulai berinvestasi, seperti untuk fasilitas riset kelas dunia dengan tenaga kerja ahli berkelas dunia,” kata Perdana Menteri Sarawak, Abang Johari Openg dalam acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026, Jakarta Selasa (3/2).
Semikonduktor merupakan bahan yang diperlukan untuk membuat chip komputer, komponen dalam perangkat elektronik modern. Semikonduktor merupakan salah satu hasil hilirisasi pasir silika.
Johari mengatakan ekonomi 2030 bergerak ke arah ekonomi digital yang bergantung pada digitalisasi yang terjadi di seluruh sektor. Mulai dari telepon genggam hingga transportasi publik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengundang Johari membahas ini. Airlangga mengatakan alasan peluang kerja sama ini muncul karena pengembangan industri semikonduktor Malaysia lebih maju dibandingkan Indonesia.
“Jika melihat peta pengembangananya, Malaysia saat ini berada pada fase kedua, sementara Korea di fase pertama,” kata Airlangga.
Kerja sama dengan salah satu negara bagian Malaysia ini meliputi berbagi peluang pengembangan teknologi seluler, Internet of Things (IoT), komputer pribadi, otomotif, dan komputasi awan, termasuk pusat data.
Meski belum semaju Malaysia, tapi Airlangga mengatakan Indonesia memiliki keunggulan di sektor hulu, karena memiliki bahan baku semikonduktor yakni pasir silika.
“Saat ini kami telah memproduksi kaca lembaran (floating glass). Tahap berikutnya adalah pengembangan panel surya, dan selanjutnya wafer semikonduktor,” ujarnya.
