Izin Impor Seret, Dua Pabrik Gula Indonesia Disebut Setop Produksi

Kamila Meilina
12 Februari 2026, 09:38
pabrik gula tutup.
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Pekerja menimbang dan mengemas gula pasir kiloan di Gudang Perum Bulog Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Jumat (2/4/2021).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dua pabrik gula rafinasi di Indonesia disebut terpaksa menghentikan produksi akibat tersendatnya penerbitan izin impor bahan baku dari pemerintah. 

Sumber Bloomberg yang mengetahui situasi itu, mengatakan bahwa penghentian operasi terjadi setelah stok gula mentah di pabrik habis sejak akhir tahun lalu dan perusahaan belum dapat membeli pasokan baru. 

Kondisi itu disebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan gula bagi industri makanan dan minuman, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri ketika permintaan meningkat tajam. Sebab, Indonesia tercatat merupakan importir gula terbesar kedua di dunia. 

Ketergantungan pada bahan baku impor membuat kelambatan perizinan langsung berdampak pada aktivitas produksi di dalam negeri. Jika kondisi ini berlarut, industri makanan dan minuman dikhawatirkan kesulitan memperoleh bahan baku yang cukup.

Potensi krisis pasokan datang pada momentum sensitif karena tahun ini Idulfitri diperkirakan jatuh pada Maret, periode di mana konsumsi gula biasanya mencapai puncak.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman menyebut Januari–Februari merupakan masa kritis karena cadangan gula umumnya berada di titik terendah.

 “Jika distribusi impor tidak segera lancar, ini bisa menjadi periode yang sangat krusial bagi industri,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg (10/2). 

Pemerintah mengontrol ketat volume impor gula rafinasi. Pada 30 Desember 2025, kuota impor industri untuk 2026 ditetapkan sebesar 3,12 juta ton. 

Namun proses penerbitan rekomendasi teknis oleh Kementerian Perindustrian untuk pengajuan izin di Kementerian Perdagangan mengalami keterlambatan dan belum diketahui penyebab pastinya.

CEO perusahaan pialang Deepcore yang berbasis di Paris, Arnaud Lorioz, menilai kebijakan impor Indonesia menjadi salah satu faktor penentu permintaan gula regional. “Selama satu dekade terakhir Indonesia merupakan pembeli besar gula mentah dari Brasil, Australia, dan Thailand. Namun sejak tahun lalu arus perdagangan itu terganggu total,” katanya.

Analis Covrig Analytics, Claudiu Covrig, menambahkan rendahnya stok domestik dan ketidakpastian alokasi untuk industri menjadi perhatian utama pasar global. Saat ini harga kontrak berjangka gula mentah berada di kisaran terendah dalam lima tahun akibat ekspektasi kelebihan pasokan dunia di tengah permintaan yang melambat.

Juru bicara Kementerian Perindustrian belum memberikan respons dan keterangan resmi terkait hal ini. 

Data Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) menunjukkan tujuh dari 11 anggotanya baru menerima izin impor pada akhir pekan lalu.  Persetujuan itu mencakup sekitar 41% dari total kuota tahun ini. Meski demikian, sebagian izin baru terbit belakangan sehingga belum mampu mencegah terhentinya produksi di beberapa pabrik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...