Kemenhub Kaji Opsi Naikkan Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Jika Harga Avtur Naik

Mela Syaharani
30 Maret 2026, 14:42
Mobil tangki mengisi bahan bakar pesawat di Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat (13/3/2026). Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) memprediksi konsumsi Avtur untuk penerbangan di
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa.
Mobil tangki mengisi bahan bakar pesawat di Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat (13/3/2026). Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) memprediksi konsumsi Avtur untuk penerbangan di Jatimbalinus periode mudik lebaran 2026 turun sebesar 6,1 persen dari rerata normal harian 3.316 KL per hari dikarenakan tidak terdapatnya penerbangan komersil saat Hari Raya Nyepi di Bandara Ngurah Rai dan adanya cancel flight rute Timur Tengah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah akan mengkaji dan mengevaluasi tarif batas atas tiket pesawat jika harga bahan bakar (avtur) naik. Potensi kenaikan ini muncul karena terganggunya pasokan avtur imbas perang Timur Tengah yang sudah berlangsung sejak akhir Februari.

“Kondisi saat ini masyarakat masih menghendaki harganya turun. Tapi situasi global juga perlu kami antisipasi, kami akan melakukan kajian atas segala kemungkinannya,” kata Dudy saat ditemui di Kementerian Perhubungan, Senin (30/3).

Dia menyampaikan tindak lanjut kajian ini masih menunggu laporan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pertamina terkait pergerakan harga avtur kedepannya.

Dudy mengatakan hingga saat ini berdasarkan laporan Kementerian ESDM kondisi pasokan avtur aman. Aktivitas transportasi masih berlangsung sebagaimana mestinya.

“Sejauh ini belum ada (kebijakan khusus), jadi kalau dari ESDM dan Pertamina mengatakan stok aman ya berarti aman,” ujarnya.

Belum Naikkan Avtur

PT Pertamina (Persero) menyebut hingga saat ini belum ada penyesuaian harga bahan bakar pesawat. Pasokan migas global yang berasal dari Timur Tengah saat ini menghadapi hambatan pasokan imbas terjadinya perang antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran. Kondisi ini mempengaruhi stok minyak mentah dan produk turunannya, salah satunya avtur.

“Saat ini belum ada penyesuaian harga avtur. Perseroan tetap memonitor dinamika harga minyak global serta kondisi pasokan dalam menetapkan kebijakan harga,” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron kepada Katadata, Rabu (25/3). 

Baron menyebut saat ini pasokan avtur untuk kebutuhan nasional sesuai dengan batas operasional. Menurutnya jumlah tersebut bisa memenuhi kebutuhan penerbangan, termasuk pada periode peak season saat ini.

“Pertamina terus memastikan keandalan pasokan melalui pengelolaan stok dan distribusi di seluruh titik layanan aviasi,” ujarnya. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi maskapai penerbangan nasional (INACA) Bayu Sutanto memprediksi adanya penyesuaian harga avtur pada 1 April 2026. Harga bahan bakar pesawat ini memang disesuaikan setiap awal bulan. 

“Terdapat kemungkinan besar harga avtur per 1 April 2026 akan naik, mengikuti harga pasaran yang sudah naik tinggi akibat krisis geopolitik di Timur Tengah tersebut,” kata Bayu dalam siaran pers, dikutip Rabu (25/3). 

Bayu mengatakan kondisi industri penerbangan saat ini memang terpengaruh perang Timur Tengah. Konflik ini membuat kondisi ekonomi internasional menjadi tidak kondusif. 

Kondisi tersebut mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). “Dimana kedua komponen biaya tersebut sangat mempengaruhi kenaikan biaya operasional maskapai penerbangan nasional,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...