Pabrik Melamin Terbesar RI Dibangun di Gresik, Investasi Tembus Rp10,2 Triliun
Pabrik melamin pertama dan terbesar di Indonesia resmi dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Proyek dikembangkan oleh PT GEABH Joint Technology dengan nilai investasi mencapai US$ 600 juta atau setara Rp10,2 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan proyek ini merupakan bagian dari pengembangan kawasan industri strategis di KEK Gresik.
“Hal ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi dan menciptakan industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” kata Airlangga dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (10/4).
Fasilitas ini diklaim menjadi yang terbesar, sebab dirancang untuk memiliki kapasitas produksi melamin hingga 120.000 ton per tahun (TPA) dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II 2027.
Dalam proses produksinya, pabrik akan mengolah gas alam menjadi amonia, kemudian diproses lebih lanjut menjadi urea dan dikembangkan menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi seperti melamin dan amonium nitrat.
Pada tahap awal, kapasitas produksi ditetapkan sebesar 800 ton per hari (TPD) amonia, 1.500 TPD urea, dan 200 TPD melamin.
Pengembangan ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menempatkan hilirisasi industri dan penguatan KEK sebagai prioritas utama.
Realisasi Investasi di KEK Indonesia Capai Rp 336 Triliun
KEK Gresik telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan prioritas nasional yang berperan strategis dalam mendorong industrialisasi, peningkatan ekspor, serta pemerataan pembangunan wilayah.
Secara nasional, kinerja KEK tercatat menunjukkan tren positif. Hingga 2025, realisasi investasi kumulatif mencapai Rp336 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 249 ribu orang.
Khusus di KEK Gresik, investasi sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp105,4 triliun atau sekitar 31% dari total investasi KEK nasional, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 46 ribu orang.
Dari sisi daerah, sektor manufaktur di Jawa Timur menyumbang sekitar 31,32% terhadap perekonomian regional dan turut mendorong penurunan tingkat pengangguran di Kabupaten Gresik dari 8,00% menjadi 5,47% dalam lima tahun terakhir.
Airlangga juga menambahkan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi pilar utama ekonomi nasional dengan kontribusi sebesar 19,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025.
