Peternak Ayam Was-was Investasi Cina Rp 1,4 Triliun Masuk Saat Harga Telur Jatuh

Kamila Meilina
13 Mei 2026, 19:11
Peternak mengumpulkan telur dari ayam ras petelur bantuan pemerintah di Banyuanyar, Solo, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026). Badan Pusat Statistik mencatat perubahan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional bulan ke bulan (month-to-month) pada Mare
ANTARA FOTO/Maulana Surya/wsj. *** Local Caption ***
Peternak mengumpulkan telur dari ayam ras petelur bantuan pemerintah di Banyuanyar, Solo, Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026). Badan Pusat Statistik mencatat perubahan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional bulan ke bulan (month-to-month) pada Maret 2026 sebesar 0,63 persen dengan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, yakni beras biasa, solar industri, kubis, kelapa sawit (TBS), dan telur konsumsi ayam ras.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Peternak ayam petelur mewaspadai rencana investasi Cina senilai Rp1,4 triliun di sektor perunggasan nasional karena dinilai berpotensi memperparah kelebihan pasokan telur dan menekan harga di tingkat peternak yang saat ini sudah berada di bawah harga acuan pemerintah.

Ketua Bidang Pemantauan Harga dan Gerakan Pangan Murah Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), Samhadi, menilai tambahan investasi, khususnya dalam bentuk integrated farm atau peternakan terintegrasi, berpotensi memperparah kondisi oversupply telur dan menekan harga di tingkat peternak.

Ia mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan investasi asing selama tidak masuk ke sektor budidaya ayam petelur.

Menurut dia, industri perunggasan terdiri dari empat sektor utama, yakni pembibitan, feedmill, budidaya, dan kesehatan hewan. Investasi di luar budidaya dinilai masih dapat diterima karena dapat memperbaiki iklim usaha dan memperkuat rantai pasok industri.

“Kalau mereka masuk di selain budidaya oke. Tapi kalau masuk di budidaya, jadi masalah. Artinya bersaing dengan peternak rakyat,” ujar Samhadi kepada Katadata.co.id, Rabu (13/5).

Kekhawatiran peternak muncul di tengah kondisi harga telur yang tengah melemah. Menurutnya, penurunan harga mencerminkan kondisi produksi telur nasional yang sedang mengalami kelebihan pasokan atau oversupply.

“Untuk pasokan sendiri sejauh ini masih terpenuhi dan kita sudah swasembada. Bahkan ada penurunan harga, berarti produksi kita ini oversupply,” ujarnya.

Samhadi menjelaskan salah satu penyebab peningkatan produksi berasal dari perpanjangan masa produktif ayam petelur. Jika sebelumnya ayam akan menjadi ayam potong pada usia sekitar 80 minggu, kini ayam masih dapat memproduksi telur hingga usia 100 minggu.

“Jadi sampai usia 100 minggu masih menghasilkan telur,” katanya.

Penurunan harga ini tercatat dan diakui oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda mengungkap harga telur di sejumlah sentra produksi memang tengah berada di bawah harga acuan pemerintah.

Secara nasional, harga telur rata-rata berada di level Rp24.500 per kilogram. Namun di sentra produksi seperti Jawa Timur, harga turun hingga sekitar Rp22.500 per kilogram.

Pemerintah menargetkan harga telur di tingkat produsen dapat kembali mendekati harga acuan pembelian pemerintah sebesar Rp26.500 per kilogram.

Agung mengatakan produksi telur nasional tahun 2026 diproyeksikan mencapai 7,3 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 800 ribu ton atau sekitar 13% dari kebutuhan nasional.

“Surplus ini masih relatif kecil karena kita juga terus mendorong ekspor telur,” katanya di kantornya, Selasa (12/5). 

Kebutuhan MBG Belum Maksimal Kerek Permintaan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sempat mengerek permintaan telur, namun Samhadi menyebut dampaknya masih sangat bergantung pada implementasi di lapangan.

“Efek dari permintaan telur dari MBG atau dapur MBG itu bagus ya. Tapi sekarang pilihan menu telur itu kurang karena sepertinya cuma direbus saja, jadi mungkin nggak terlalu diminati di sekolah,” ujarnya.

Ia menambahkan, frekuensi penggunaan telur dalam menu MBG sangat menentukan besarnya serapan pasar. Pada realitanya, saat ini permintaan atas kebutuhan program tersebut masih berfluktuasi dan belum konsisten mengerek harga telur. 

“Kalau seminggu dua kali ya signifikan untuk menaikkan demand. Tapi kalau dikurangi atau bahkan tidak pakai telur, otomatis permintaan turun,” kata Samhadi.

Kementan mencatat ada peningkatan populasi ayam petelur yang cukup signifikan di tahun ini, bahkan mendekati 30% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan itu dipicu tingginya minat peternak membangun kandang baru seiring program MBG, ditambah produktivitas ayam yang semakin baik.

Klarifikasi Kadin Proyek Investasi Cina Pabrik Peternak Rp 1,4 Triliun

Isu masuknya investasi Cina di sektor peternakan unggas mencuat setelah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menerima audiensi The China Egg Industry Chain Business Delegation pada April (21/4) lalu. 

Rencana kerja sama ini menargetkan investasi pembangunan fasilitas pengelolaan susu serta proyek Mega Layer Farm terintegrasi di Aceh dengan nilai mencapai 450 juta Yuan atau setara Rp 1,4 triliun. 

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan Cecep M. Wahyudin menegaskan informasi mengenai investasi Cina itu masih sangat awal dan belum mengarah pada realisasi proyek besar.

“Informasi yang beredar itu terlalu dini. Itu baru tahap awal adanya rencana atau keinginan investor dan delegasi dari China yang berminat masuk ke Indonesia untuk mengembangkan peternakan ayam,” ujarnya di kantor Kementan, Selasa (12/5).

Menurut Cecep, Kadin hanya berperan sebagai pintu komunikasi bagi investor dan belum ada keputusan terkait besaran investasi maupun bentuk pengembangannya.

“Masih tahap sosialisasi, jadi tidak ada rencana pengembangan sampai sebesar apa yang diberitakan,” katanya.

Ia menambahkan, Kadin memahami kondisi supply dan demand industri perunggasan nasional sehingga tidak akan mendorong investasi yang justru memperburuk pasar domestik.

“Kami paham betul mana yang harus kita push mana yang enggak,” ujarnya.

Cecep juga menegaskan pemerintah dan pelaku usaha selama ini justru tengah berupaya memperkuat peternak rakyat, termasuk melalui pengembangan pasar ekspor telur.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...