Unilever Investasi Rp 2,59 Triliun untuk Pabrik Oleokimia di KEK Sei Mangkei
PT Unilever Oleochemical Indonesia (UOI) meresmikan ekspansi fasilitas produksi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Ekspansi tersebut menelan investasi US$ 155 juta atau sekitar Rp 2,59 triliun.
Fasilitas baru tersebut memproduksi fatty alcohol, salah satu bahan baku industri oleokimia yang digunakan dalam berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Peresmian ekspansi dilakukan pada Rabu (26/8).
Melansir laman resmi KEK, UOI merupakan salah satu investor utama atau anchor investor di KEK Sei Mangkei. Hingga 2026, total investasi kumulatif perusahaan di kawasan tersebut mencapai sekitar Rp 9,31 triliun.
Selain investasi, kontribusi UOI di KEK Sei Mangkei juga terlihat dari aktivitas ekspor. Pada semester I 2026, ekspor UOI mencapai sekitar Rp 7,14 triliun. Nilai tersebut menyumbang lebih dari separuh total ekspor seluruh pelaku usaha di KEK Sei Mangkei yang mencapai Rp 13,78 triliun pada periode yang sama.
Produk oleokimia UOI seperti fatty acid, glycerin, dan soap noodles telah dipasarkan ke 42 negara, termasuk Cina, Korea Selatan, dan Prancis.
Perwakilan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Edwin Manansang mengatakan, ekspansi UOI menunjukkan investasi di KEK Sei Mangkei tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas produksi. Tetapi juga pengembangan industri hilir dan ekspor.
“Ekspansi UOI menunjukkan bahwa KEK Sei Mangkei telah berkembang melampaui sekadar lokasi investasi menjadi sebuah ekosistem industri yang memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah maupun nasional,” ungkap Edwin dalam keterangannya, dikutip pada Jumat (28/8).
Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menilai penguatan industri hilir perlu diikuti dengan ketersediaan infrastruktur dan energi yang memadai. Hal tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing industri di KEK Sei Mangkei.
Salah satu dukungan infrastruktur tersebut adalah pembangunan tambahan jaringan pipa gas Dumai–Sei Mangkei dengan nilai investasi sekitar Rp 3,5 triliun.
“Dengan adanya ketersediaan gas dan listrik yang cukup, ketersediaan bahan baku, serta posisi yang strategis, kita dapat meningkatkan daya saing di pasar global,” ujar Yuliot.
Selain jaringan gas, pemerintah juga mengembangkan pembangkit energi terbarukan untuk meningkatkan ketersediaan listrik di Sumatera Utara. Penguatan infrastruktur energi tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan industri di KEK Sei Mangkei.
Ekspansi UOI merupakan kelanjutan dari investasi perusahaan setelah groundbreaking Project KernelMax pada 2024. Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, mendorong hilirisasi sumber daya di dalam negeri, sekaligus memperkuat kemampuan manufaktur Unilever di Indonesia.
Chief Supply Chain Officer Unilever, Willem Uijen mengatakan, perusahaan berkomitmen memperkuat basis manufakturnya di Indonesia. “Indonesia memiliki modal lengkap untuk menjadi pusat manufaktur global, seperti sumber daya melimpah, SDM kompetitif, ekosistem kewirausahaan yang kuat, dan infrastruktur modern,” ujarnya.
Secara keseluruhan, hingga 2026 KEK Sei Mangkei mencatat investasi kumulatif sekitar Rp33,15 triliun. Investasi tersebut melibatkan 29 pelaku usaha dan menyerap 16.191 tenaga kerja.
