Kemenperin Bidik Potensi Ekonomi Tenun Ikat, Ekspor Naik 150% di Semester I 2026

Kamila Meilina
13 Oktober 2026, 14:03
ekspor, kain tenun, tenun ikat, ulos
ANTARA FOTO/Yudi/Lmo/nym.
Perajin menyelesaikan pembuatan kain tenun tradisional Ulos di Galeri Ulos Sianipar, Medan Denai, Sumatera Utara, Jumat (6/1/2023).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melirik potensi ekonomi industri tenun tradisional untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal dan memperluas pasar ekspor. Upaya ini dilakukan melalui penguatan kapasitas industri kecil dan menengah (IKM), pemanfaatan teknologi produksi, hingga fasilitasi promosi di pasar domestik dan internasional.

Menteri Perindustrian Sarmuji mengatakan, pengembangan industri tenun tradisional, termasuk kain ulos, perlu dilakukan agar warisan budaya tersebut tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya para perajin.

“Kita tidak hanya cukup menjaga ulos sebagai sebuah tradisi, tetapi harus memastikan bahwa ulos akan tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya,” kata Sarmuji dalam pembukaan Pameran Tenun Ulos ‘Menenun Harapan, Merajut Kemandirian’, di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (13/10).

Kemenperin berkomitmen memperkuat ekosistem industri tenun tradisional melalui sejumlah program, mulai dari peningkatan kapasitas dan produktivitas IKM hingga perlindungan produk khas daerah.

Selain itu, diupayakan juga fasilitasi indikasi geografis untuk menjaga kekhasan dan keaslian produk warisan budaya sekaligus meningkatkan daya saingnya di pasar.

Dari sisi produksi, penguatan industri dilakukan melalui revitalisasi sentra IKM, restrukturisasi mesin dan peralatan, jaminan bahan baku, serta pemanfaatan teknologi dalam proses produksi. Pemerintah juga berupaya memperluas akses pasar melalui promosi dan fasilitasi pameran di dalam maupun luar negeri.

Ekspor Tenun Ikat Naik 150%

Sarmuji mengatakan, pengembangan industri tenun tradisional sejalan dengan potensi ekspor yang dapat dikembangkan. Berdasarkan data yang disampaikannya, nilai ekspor tenun ikat Indonesia mencapai US$28.000 sepanjang 2025.

Kinerja ekspor itu berlanjut pada semester I 2026, dengan nilai mencapai US$ 34.000 atau setara Rp 609 juta. Angka ini meningkat 150% dibandingkan periode sebelumnya sebesar US$ 13.600 atau setara Rp 243 juta. 

Demikian, peningkatan ini dibidik sebagai peluang bagi industri tenun tradisional untuk memperluas pasar. 

“Namun, pengembangan ekspor juga perlu didukung peningkatan kapasitas produksi, pemanfaatan teknologi, serta akses pasar yang lebih luas agar pelaku IKM dapat meningkatkan daya saing produknya,” kata dia. 

Selain mendorong pengembangan pasar, Kemenperin menilai industri tenun tradisional berpotensi memperkuat kemandirian ekonomi perajin, termasuk perempuan yang terlibat dalam proses produksi.

Sarmuji mengatakan, pengembangan ulos dapat membuka ruang lebih luas bagi perajin perempuan untuk terus berkarya dan meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan pengembangan industri dan perluasan peluang ekonomi.

Ia berharap promosi ulos dapat meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap produk tersebut, memperkuat apresiasi terhadap karya perajin, serta menarik minat generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan budaya Nusantara.



add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...